Tren Pasar

Menakar Kualitas Kredit BCA Usai Stempel Negatif Moody's

  • Moody's beri outlook negatif, amankah kualitas kredit BCA? Manajemen tegaskan fundamental solid dan NPL terjaga. Simak data kredit Rp993 T di sini.
BCA Expo 2025 - Panji 2.jpg
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong memberikan sambutan saat pembukaan BCA Expo 2025 yang berlangsung di ICE BSD Tangerang 22-24 Agustus 2025. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) angkat bicara usai lembaga pemeringkat Moody’s Ratings menurunkan outlook kredit perseroan dari stabil menjadi negatif. Manajemen menegaskan bahwa kinerja fundamental bank tetap solid di tengah sorotan tajam terhadap industri perbankan nasional saat ini.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, memastikan kualitas aset perseroan sangat terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang stabil. Bisnis perseroan diklaim berjalan sangat baik meski ada perubahan outlook eksternal dari lembaga global.

BCA menilai kekhawatiran Moody's tidak berdampak material terhadap operasional maupun permintaan kredit nasabah hingga saat ini. Perseroan tetap optimistis prospek bisnis perbankan akan terus tumbuh positif, didukung oleh potensi ekonomi domestik Indonesia yang masih sangat besar dan konsumtif.

1. Respons Atas Moody's

Moody’s Ratings sebelumnya mengumumkan penurunan outlook lima bank jumbo di Indonesia, termasuk BCA, dari posisi stabil menjadi negatif pada Jumat lalu. Langkah ini menyusul revisi outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia yang dinilai memiliki risiko kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter.

Menanggapi hal tersebut, manajemen BCA memastikan fokus utama mereka tetap pada kinerja internal yang sehat. "Kami sebagai pelaku industri perbankan fokus pada fundamental performance kami. Teman-teman bisa lihat bagaimana NPL kami sangat terjaga, bisnis berjalan dengan sangat baik," ujar Hera di Jakarta, Rabu 11 Februari 2026.

Pernyataan ini menegaskan bahwa stabilitas internal menjadi prioritas utama BCA di tengah tingginya volatilitas eksternal. Manajemen berupaya meredam spekulasi pasar terkait dampak penurunan outlook rating terhadap operasional bank swasta terbesar tersebut, dengan membuktikan kinerja yang tetap solid dan terukur.

2. Kualitas Kredit Prudent

Moody’s menyoroti pertumbuhan kredit BCA yang dinilai relatif kencang berpotensi meningkatkan risiko kredit di masa depan. Namun, BCA menepis kekhawatiran tersebut dengan menyatakan bahwa setiap penyaluran kredit selalu melalui proses analisis risiko yang sangat ketat dan prinsip kehati-hatian yang tinggi.

Manajemen memastikan postur pertumbuhan kredit tetap terjaga dalam koridor yang aman. "Kredit yang kami berikan sudah melewati proses yang prudence. Kami tetap menjaga postur loan growth berada pada proses yang sehat, prudential, dan comply," kata Hera menegaskan standar kreditnya.

Hingga Desember 2025, total kredit BCA tumbuh 7,7% secara tahunan (year on year) menjadi Rp993 triliun. Angka pertumbuhan ini dinilai manajemen sebagai hasil ekspansi yang terukur, bukan agresivitas yang membahayakan kualitas aset perbankan dalam jangka panjang maupun menengah.

3. Tidak Ada Dampak Material

BCA memastikan tidak merasakan dampak negatif signifikan dari penilaian Moody's terhadap aktivitas bisnis sehari-hari. Penurunan outlook tersebut dipandang lebih mencerminkan kondisi makro ekonomi nasional dan kebijakan pemerintah, bukan penurunan kinerja spesifik atau kesehatan finansial dari bank BCA itu sendiri.

Perseroan juga menjaga hubungan baik dengan lembaga pemeringkat internasional tersebut. "Sejauh ini relasi kami sangat baik. Penilaian itu dilakukan dalam konteks makro ekonomi. Kami tidak merasakan ada efek apapun," tegas Hera perihal dampak rating action tersebut terhadap perseroan.

Klarifikasi ini penting untuk menjaga kepercayaan investor dan nasabah bahwa fundamental BCA tetap kokoh. Operasional perbankan, likuiditas, dan layanan nasabah tetap berjalan normal tanpa gangguan, membuktikan resiliensi BCA menghadapi sentimen negatif yang berasal dari faktor eksternal makro ekonomi.

4. Inovasi Ocean by BCA

Di tengah sorotan rating, BCA tetap agresif meluncurkan inovasi baru untuk memperkuat ekosistem bisnis nasabahnya, khususnya segmen UMKM. Perseroan baru saja merilis Ocean by BCA, sebuah platform terintegrasi all-in-one yang dirancang khusus untuk kebutuhan operasional nasabah bisnis masa kini.

Produk ini dirancang untuk menjawab tantangan UMKM dalam meningkatkan skala bisnisnya. "Biasanya bicara UMKM naik kelas, tapi how to-nya kadang masih jadi pertanyaan. Ocean by BCA memberikan fasilitas sesuai stage masing-masing UMKM agar benar-benar bisa naik kelas," jelas manajemen.

Platform ini menyediakan solusi efisiensi mulai dari transaksi, analisis performa bisnis, hingga pengelolaan payroll dan SDM. Langkah ini membuktikan komitmen BCA untuk terus memberikan nilai tambah (value added) bagi nasabah di tengah dinamika persaingan industri perbankan digital yang ketat.

5. Optimisme Pasar Domestik

Menutup penjelasannya, Hera mengungkapkan optimisme tinggi terhadap prospek bisnis perbankan di Indonesia tahun ini. Potensi pasar domestik dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa yang memiliki karakteristik konsumtif menjadi landasan kuat bagi pertumbuhan bisnis BCA ke depan secara berkelanjutan.

Keyakinan ini didasari oleh fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih cukup tangguh. "Kami merasa optimisme masih sangat besar. Di negara dengan 280 juta jiwa yang konsumtif, optimisme akan tetap tumbuh, dan kami confidenceterhadap fundamental BCA," ungkap Hera optimis.

Kombinasi antara kekuatan permodalan, likuiditas yang melimpah, dan basis nasabah loyal menjadi modal utama BCA. Perseroan berkomitmen untuk terus mencatatkan kinerja positif dan memberikan dividen serta layanan terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan di tengah ketidakpastian pasar global saat ini.