Menilik Fundamental dan Kinerja Emiten Batubara 2026
- Harga batubara global kembali menguat. Simak perbandingan prospek saham ADRO, PTBA, ITMG, BYAN, dan UNTR di tengah koreksi tajam IHSG.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIAID – Sektor batubara kembali menjadi perhatian investor setelah harga batubara global menunjukkan penguatan dan sejumlah emiten tetap menawarkan dividend yield yang menarik di tengah tekanan pasar saham nasional.
Dilansir data Trading Economic, harga batubara mencapai US$148,75 per ton pada 5 Juni 2026, menguat 0,81% dibandingkan sehari sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, komoditas ini telah mencatat kenaikan sebesar 12,65%.
Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona rentan setelah koreksi tajam sepanjang tahun 2026, saham-saham batubara dinilai masih memiliki sejumlah katalis yang dapat menopang kinerjanya.
Pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, IHSG dibuka menguat tipis 0,21% atau 11 poin ke level 5.353 setelah sehari sebelumnya anjlok 4,52% ke level 5.342. Penguatan tersebut turut didukung oleh sektor energi seiring kenaikan harga batubara global sebesar 1,68% menjadi USD151,25 per metrik ton.
Meski demikian, kondisi pasar secara keseluruhan masih menghadapi tekanan. Sejak awal tahun, IHSG telah terkoreksi sekitar 38 persen, sementara dari puncaknya pada Januari 2026 indeks telah turun lebih dari 41 persen.
Di tengah situasi tersebut, investor mulai mencari saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, dan potensi dividen tinggi. Sejumlah emiten batubara seperti ADRO, PTBA, ITMG, BYAN, dan UNTR menjadi pilihan utama yang banyak diperhatikan pelaku pasar.
Baca juga : IHSG Dibuka Naik 0,5 Persen di Pembukaan 9 Juni 2026
ADRO Tawarkan Dividen Hampir 100 Persen dari Laba
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menjadi salah satu emiten yang menarik perhatian investor pencari dividen.
Perseroan membukukan laba bersih tahun 2025 sebesar US$447,69 juta, turun 68 persen dibandingkan tahun sebelumnya akibat penurunan pendapatan dan melemahnya harga komoditas.
Meski demikian, perusahaan tetap membagikan dividen yang sangat agresif dengan total mencapai US$447,5 juta atau sekitar 99,96 persen dari laba bersih.
Dividen tersebut terdiri atas dividen interim Rp145 per saham yang telah dibayarkan pada Januari 2026 serta dividen final sekitar Rp117 per saham. Dengan harga saham saat ini, dividend yield ADRO diperkirakan mencapai sekitar 10,44 persen.
Selain itu, saham ADRO juga mendapat dukungan dari aksi beli investor asing yang mencapai Rp1,46 triliun dalam tiga bulan terakhir. Rencana buyback saham hingga Rp4 triliun juga menjadi sentimen positif yang berpotensi menopang harga saham ke depan.
PTBA Berpotensi Menjadi Raja Dividen Sektor Batubara
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tetap menjadi favorit investor yang mengejar pendapatan dividen tinggi.
Meski laba bersih 2025 diperkirakan turun menjadi Rp2,29 triliun hingga Rp2,93 triliun akibat tekanan harga jual batubara dan kenaikan biaya operasional, perusahaan masih diproyeksikan mempertahankan kebijakan pembagian dividen sekitar 75 persen dari laba bersih.
Dengan asumsi tersebut, dividend yield PTBA berpotensi mencapai 12 hingga 13 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di sektor batubara.
Prospek PTBA juga mendapat dorongan dari target produksi sebesar 49,5 juta ton pada 2026 serta strategi efisiensi biaya yang terus dijalankan perusahaan melalui optimalisasi rantai pasok dan selective mining.
Sentimen positif lainnya datang dari keputusan pemerintah membatalkan rencana penerapan skema Gross Split Minerba. Keputusan tersebut dinilai mengurangi ketidakpastian regulasi yang sebelumnya menjadi perhatian pelaku industri.
Baca juga : IHSG Bearish, Averaging Down Agresif Bisa Kontraproduktif
ITMG Menjadi Saham Batubara dengan Valuasi Termurah
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dinilai sebagai salah satu saham batubara dengan valuasi paling menarik saat ini.
Perusahaan mencatat laba bersih sebesar US$190,94 juta pada 2025 atau turun hampir 49 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan juga mengalami penurunan menjadi US$1,88 miliar.
Meski laba turun, ITMG tetap membagikan dividen sebesar US$115 juta atau sekitar 60 persen dari laba bersih. Dividend yield diperkirakan berada di kisaran 10 persen.
Dari sisi valuasi, ITMG diperdagangkan dengan Price to Book Value (PBV) sekitar 0,98 kali dan Price Earnings Ratio (PER) sekitar 6 kali. Angka tersebut menjadikan ITMG sebagai salah satu saham dengan valuasi termurah di antara emiten batubara besar.
Kenaikan harga batubara global pada awal Juni juga menjadi katalis positif yang dapat mendukung kinerja perusahaan dalam jangka pendek.
BYAN Masih Premium Meski Laba Menurun
Berbeda dengan emiten lainnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) masih diperdagangkan pada valuasi premium.
Perusahaan mencatat laba bersih sebesar US$767,92 juta pada 2025 atau turun sekitar 16,77 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal pertama 2026, laba kembali mengalami penurunan sekitar 12,45% secara tahunan.
Meski fundamentalnya masih relatif kuat, valuasi saham BYAN dinilai cukup mahal dengan PER mencapai sekitar 24,79 kali dan PBV sebesar 7,79 kali.
Dividend yield BYAN juga relatif lebih rendah dibandingkan pesaingnya, yakni sekitar 3,45 persen berdasarkan distribusi dividen sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat sebagian analis menilai ruang kenaikan saham BYAN lebih terbatas dibandingkan emiten batubara lain yang memiliki valuasi lebih murah.
UNTR Andalkan Diversifikasi Bisnis
PT United Tractors Tbk (UNTR) menawarkan pendekatan berbeda dibandingkan emiten batubara murni.
Laba bersih perusahaan pada 2025 tercatat sebesar Rp14,81 triliun atau turun sekitar 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan terutama berasal dari segmen kontraktor penambangan dan bisnis batubara.
Namun, keunggulan utama UNTR terletak pada diversifikasi bisnisnya. Segmen pertambangan emas dan mineral lainnya justru tumbuh signifikan hingga 41 persen menjadi Rp14 triliun.
Kondisi tersebut membuat kinerja perusahaan lebih tahan terhadap fluktuasi harga batubara dibandingkan emiten yang hanya bergantung pada satu komoditas.
Dari sisi keuangan, UNTR juga menunjukkan fundamental yang solid dengan arus kas operasi mencapai Rp27,1 triliun, kas dan setara kas sebesar Rp26,6 triliun, serta ekuitas yang meningkat menjadi Rp103,1 triliun.
Perusahaan membagikan dividen sebesar Rp1.663 per saham dengan yield sekitar 7,5 persen.
Katalis dan Tantangan Industri Batubara 2026
Prospek sektor batubara tahun 2026 masih dipengaruhi berbagai faktor positif dan negatif.
Di sisi positif, harga batubara global kembali menguat ke level USD151,25 per ton. Pemerintah juga memastikan tidak akan menerapkan skema Gross Split Minerba sehingga memberikan kepastian regulasi bagi pelaku usaha.
Selain itu, rencana pembentukan Bursa Mineral Indonesia pada 2027 berpotensi meningkatkan posisi Indonesia dalam pembentukan harga komoditas global.
Namun, industri tetap menghadapi sejumlah tantangan. Pemerintah menargetkan produksi batubara nasional sekitar 600 juta ton pada 2026, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kelebihan pasokan global dan perlambatan permintaan.
Sejumlah lembaga ekonomi juga memperkirakan harga batubara masih berpotensi bergerak di kisaran USD90 hingga USD100 per ton dalam jangka menengah.
Selain itu, hampir seluruh emiten batubara mengalami penurunan laba sepanjang 2025, menunjukkan bahwa tekanan industri masih berlangsung.
Baca juga : Gubernur BI Vs Menteri Keuangan, Siapa Dominan Tentukan Nasib Rupiah?
Saham Batubara Mana yang Paling Menarik?
Pilihan saham batubara sangat bergantung pada tujuan investasi masing-masing investor.
Bagi investor yang berfokus pada dividen, PTBA dan ADRO menjadi pilihan utama karena menawarkan yield dua digit yang relatif tinggi.
Untuk investor yang mencari saham undervalued, ITMG menjadi kandidat menarik berkat PBV di bawah satu kali dan PER yang rendah.
Sementara itu, investor yang mengutamakan stabilitas dan diversifikasi bisnis dapat mempertimbangkan UNTR karena tidak hanya bergantung pada bisnis batubara.

Chrisna Chanis Cara
Editor
