Tren Pasar

Laba Tembus Ekspektasi, Saham BBTN Simpan Potensi Cuan 32%

  • Laba BBTN tembus Rp3,5 triliun, saham juara diantara bank BUMN. Target harga direvisi ke Rp1.800, potensi cuan 32% menanti.
BTN .jpeg

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) terus menunjukkan keperkasaan. Pada perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, saham BBTN bergerak menguat 1,12% ke level Rp1.360. Penguatan ini mempertegas tren positif usai rilis laba bersih 2025 yang melampaui ekspektasi pasar secara signifikan.

Secara akumulatif sejak awal tahun atau year to date (ytd), saham BBTN terpantau melesat tinggi sebesar 17,24%. Rekor kenaikan ini menjadikan BBTN sebagai bank dengan performa saham tertinggi di antara bank-bank BUMN lainnya, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap fundamental perseroan.

Merespons dinamika tersebut, Panin Sekuritas secara resmi menaikkan target harga saham BBTN menjadi Rp1.800. Langkah ini diambil menyusul pertumbuhan solid pada sisi distribusi kredit dan dana pihak ketiga yang memperkuat fundamental perseroan di mata investor institusi maupun ritel domestik saat ini.

1. Laba Melonjak 16,4%

Realisasi laba bersih BBTN terkerek signifikan sebesar 16,4% dari Rp3 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp3,5 triliun di tahun 2025. Pertumbuhan laba bersih yang solid ini disertai dengan kenaikan distribusi kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang memperkuat posisi likuiditas bank.

Analis Panin Sekuritas, Nico Laurens, menilai capaian ini sangat positif bagi prospek saham ke depan. "Kami melihat tren positif pertumbuhan laba bersih masih berlanjut ke depan, didorong ruang ekspansi NIM," ujar Nico dalam riset terbarunya, dikutip Jumat, 13 Februari 2026.

Angka realisasi ini setara dengan 112,2% dari estimasi internal Panin Sekuritas dan 109,4% dari konsensus analis pasar. Kinerja impresif ini juga ditopang oleh ekspansi margin bunga bersih yang melebar serta efisiensi biaya operasional yang semakin membaik dibandingkan periode sebelumnya.

2. Kredit Tembus Rp400 T

Total pinjaman dan pembiayaan yang disalurkan BBTN tercatat sebesar Rp400 triliun, terkerek 11,9% dari posisi tahun 2024 sebesar Rp358 triliun. Realisasi itu memperkuat tren kenaikan segmen pembiayaan ini yang konsisten terjadi dalam lima tahun terakhir sejak tahun 2021 silam.

Data historis menunjukkan emiten ini mencatatkan total pinjaman sebesar Rp275 triliun pada 2021, lalu naik menjadi Rp298 triliun pada 2022. Tren positif terus berlanjut hingga tumbuh menjadi Rp334 triliun di tahun 2023, membuktikan konsistensi pertumbuhan bisnis inti perseroan tersebut.

Pertumbuhan kredit yang konsisten di atas rata-rata industri ini menjadi bukti ketangguhan model bisnis BTN di sektor perumahan. Dukungan pemerintah yang kuat terhadap sektor properti bersubsidi menjadi pendorong utama volume penyaluran kredit perseroan yang terus mencetak rekor baru setiap tahunnya.

3. Katalis Biaya Dana

Selain volume kredit, Nico juga menyoroti faktor efisiensi biaya dana yang menjadi katalis utama profitabilitas. Ia menambahkan optimisme tersebut didasari oleh "seiring dengan tren penurunan cost of fund serta skema FLPP baru yang memiliki margin lebih tinggi."

Skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) baru memang menjadi sorotan utama karena menawarkan margin lebih tebal bagi perseroan. Hal ini menjadi angin segar bagi BBTN yang selama ini menjadi pemain dominan dalam penyaluran kredit perumahan bersubsidi di seluruh Indonesia.

Penurunan rasio biaya terhadap pendapatan atau Cost to Income Ratio (CIR) turut berkontribusi besar menjaga efisiensi operasional. Strategi manajemen dalam menekan biaya dana di tengah ketatnya likuiditas pasar berhasil menjaga margin keuntungan tetap lebar sepanjang tahun buku 2025 lalu.

4. Pandangan Mandiri Sekuritas

Sementara itu, Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp1.500 per saham. Pandangan ini disampaikan analis Bobby Kristanto Chandra dan Kresna Hutabara dalam riset terbaru pasca gelaran Mandiri Sekuritas Capital Market Forum 2026 pekan lalu di Jakarta.

Rekomendasi tersebut mencerminkan ekspektasi perbaikan berkelanjutan pada struktur biaya dana perseroan yang mulai terlihat sejak awal Januari 2026. Analis menilai dampak kredit akibat bencana alam di wilayah Sumatera Utara juga "masih dalam batas yang dapat dikelola" oleh manajemen risiko bank.

Target harga ini turut mempertimbangkan proyeksi Return on Equity (ROE) BBTN yang diperkirakan membaik dalam dua tahun ke depan. Perbaikan rasio profitabilitas ini didorong oleh efisiensi biaya operasional serta pengelolaan risiko kredit yang semakin hati-hati dan terukur oleh manajemen.

5. Valuasi dan Juara BUMN

Target harga baru Rp1.800 dari Panin Sekuritas merefleksikan valuasi Price to Book Value (PBV) sebesar 0,7 kali untuk tahun 2026. Valuasi ini didasarkan pada proyeksi nilai buku perseroan yang dinilai masih cukup murah dibandingkan rata-rata historisnya selama lima tahun terakhir.

Kenaikan harga saham sebesar 17,24% ytd mengukuhkan posisi BBTN sebagai juara di antara bank BUMN lainnya. Momentum positif ini didorong oleh arus modal asing dan tingginya minat ritel domestik terhadap saham perbankan yang memiliki fundamental kuat dan valuasi murah.

Dengan kombinasi kinerja keuangan solid dan valuasi yang atraktif, saham BBTN menjadi pilihan menarik bagi investor nilai. Potensi penurunan Cost of Credit dan biaya dana tahun ini menjadi katalis tambahan yang memperkuat alasan untuk mengoleksi saham bank perumahan ini.