Tren Pasar

BREN dan DCII Mahal? Cara Analisis Saham PER Tinggi

  • BREN dan DCII mahal? Simak cara analisis saham PER tinggi ala KISI Sekuritas. Gunakan rasio PEG dan diskon historis agar tidak terjebak beli di pucuk.
Aktifitas Bursa Saham - Panji 4.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini tercatat diperdagangkan dengan valuasi premium atau price to earning ratio (PER) yang sangat tinggi. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar modal, apakah saham-saham mahal tersebut masih layak untuk diinvestasikan sekarang?

Investment Specialist KISI Sekuritas, Azharys Hardian, menilai bahwa saham dengan valuasi PER yang tinggi sebenarnya masih bisa dilirik oleh para investor. Namun, ada catatan penting yang harus diperhatikan, yakni investor wajib mencermati sejumlah indikator fundamental lainnya sebelum memutuskan untuk membeli saham tersebut.

Saham-saham dengan valuasi selangit seperti BREN, DCII, hingga SSIA memang kerap membuat investor ritel ragu karena harganya yang dianggap sudah terlalu mahal. KISI Sekuritas memberikan panduan strategi khusus agar investor tidak terjebak membeli di pucuk, melainkan tetap mendapatkan potensi keuntungan yang optimal.

1. Cari Diskon Historis

Azharys Hardian menyarankan investor untuk memprioritaskan strategi membeli saham-saham dengan PER yang sedang terdiskon dari rata-rata historisnya. Ia menjelaskan bahwa saham dengan valuasi terdiskon dapat dilacak dengan mudah, yakni dengan melihat indikator PER saat ini yang berada di bawah rata-rata lima tahun.

Strategi ini dinilai sangat ampuh, terutama ketika kondisi pasar saham sedang terkonsolidasi atau mencari arah baru seperti sekarang ini. "Kami menilai strategi mengoleksi saham dengan PER yang terdiskon jauh lebih menarik dan memiliki margin keamanan yang lebih tinggi," ucap Azharys dalam keterangannya pada Kamis, 12 Februari 2026. 

Jika saham yang biasanya dihargai premium kini diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya akibat sentimen sesaat, maka ini adalah peluang emas. Investor dapat memanfaatkan momentum buy on weakness tersebut untuk mendapatkan saham fundamental bagus dengan harga yang relatif lebih murah dari biasanya.

2. Bandingkan Valuasi Relatif

Selain melihat data historis, investor juga disarankan untuk cermat membandingkan indikator relative valuation saham tersebut terhadap kompetitor di sektor yang sama. Hal ini penting untuk mengetahui apakah harga saham tersebut benar-benar mahal atau justru masih murah dibandingkan dengan kinerja pesaingnya.

Azharys menjelaskan, apabila sebuah saham memiliki fundamental yang setara dengan pemimpin pasar (market leader), namun PER-nya lebih rendah, maka ada peluang besar. Saham tersebut berpotensi mengalami kenaikan harga atau catch-up di masa depan untuk menyamai valuasi wajar di sektor industrinya.

Perbandingan ini membantu investor menemukan "permata tersembunyi" yang mungkin luput dari pantauan pasar karena sentimen sektoral. Dengan analisis perbandingan yang tepat, investor bisa masuk ke saham berkinerja solid sebelum harganya merangkak naik menyesuaikan dengan rata-rata industri yang sudah lebih dahulu tinggi.

3. Perspektif Growth Investing

Dalam kacamata growth investing, PER yang tinggi seringkali bukan berarti mahal, melainkan premi yang harus dibayar untuk pertumbuhan. PER tinggi adalah harga yang wajar jika perusahaan tersebut menjanjikan lonjakan laba di masa depan yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pasar.

"Ini menjadi menarik jika memenuhi kriteria growth story seperti pertumbuhan laba yang agresif dan katalis ekspansi serta sektor strategis," tutur Azharys. Investor harus jeli melihat apakah tingginya rasio harga terhadap laba tersebut didukung oleh rencana bisnis yang konkret dan prospektif.

Sektor-sektor masa depan seperti teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan energi terbarukan seringkali memiliki narasi pertumbuhan jangka panjang yang sangat kuat. Ekspansi kapasitas produksi atau keberhasilan penetrasi pasar baru adalah bahan bakar utama yang melegitimasi mengapa PER saham tersebut melambung tinggi.

4. Filter Rasio PEG

Untuk memastikan keamanan investasi, saham dengan PER tinggi hanya masuk akal jika diimbangi dengan pertumbuhan earnings per share (EPS) yang konsisten. KISI Sekuritas mematok standar pertumbuhan laba bersih per saham harus berada di atas angka 15 persen hingga 20 persen secara konsisten.

Investor dapat menggunakan rasio PEG (Price/Earnings to Growth) sebagai alat bantu analisis untuk menakar kewajaran valuasi saham premium tersebut. Rumusnya sederhana, investor cukup membandingkan rasio PER dengan persentase pertumbuhan laba tahunan perusahaan untuk mendapatkan angka rasio PEG yang valid dan akurat.

Apabila hasil perhitungan menunjukkan angka PEG mendekati atau bahkan di bawah 1 kali, maka PER tinggi tersebut masih tergolong wajar. Ini menandakan harga saham yang mahal saat ini sebanding dengan potensi pertumbuhan laba yang akan dicetak perusahaan di masa mendatang nanti.

5. Deretan Saham Mahal

Data pasar mencatat beberapa saham memiliki PER fantastis, salah satunya PT Surya Semesta Indonusa Tbk (SSIA) dengan PE 562,99 kali. Saham emiten kawasan industri dan properti yang dimiliki Grup Djarum ini diperdagangkan pada level harga Rp1.520 per saham di pasar reguler.

Selanjutnya, terdapat saham teknologi PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang dinobatkan sebagai saham termahal secara nominal di Bursa Efek Indonesia. Saham milik tokoh teknologi Otto Toto Sugiri dan konglomerat Anthoni Salim ini memiliki rasio PE sebesar 459,81 kali dengan harga Rp225.325.

Tak ketinggalan, saham dengan kapitalisasi pasar terbesar saat ini, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), juga masuk dalam kategori valuasi tinggi. Saham energi hijau milik taipan Prajogo Pangestu ini diperdagangkan dengan PER mencapai 446,17 kali, mencerminkan ekspektasi pasar yang sangat besar.