Tren Pasar

Kenapa Emiten Buyback Saham? Ini Dampaknya ke Investor

  • Buyback bisa memberikan sejumlah keuntungan, dengan berkurangnya jumlah saham di pasar, suplai saham menyusut sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga
<p>Karyawan melintas dengan latar belakang layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 4 Januari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Karyawan melintas dengan latar belakang layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 4 Januari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA, TREJASIA.ID - Aksi buyback saham sering kali dilakukan suatu emiten. Aksi ini bisa menarik perhatian pelaku pasar modal, terutama saat kondisi pasar bergejolak atau harga saham dinilai berada di bawah nilai wajarnya. Buyback merupakan langkah strategis ketika perusahaan terbuka (emiten) membeli kembali sahamnya yang beredar di pasar.

Dikutip dari buku berjudul "Principles of Corporate Finance", Kamis, 12 Februari 2026, secara sederhana, buyback saham merupakan aksi korporasi di mana perusahaan menyerap kembali sebagian saham publiknya. Saham yang dibeli tersebut kemudian berstatus sebagai treasury stock, yang tidak memiliki hak suara dan tidak memperoleh dividen selama berada dalam penguasaan perusahaan. 

Langkah ini otomatis mengurangi jumlah saham beredar di publik dan memengaruhi struktur modal perusahaan. Dalam praktiknya, buyback umumnya dibiayai menggunakan laba ditahan atau cadangan kas perusahaan. 

Emiten akan mengumumkan rencana pembelian kembali saham melalui keterbukaan informasi kepada publik, termasuk periode pelaksanaan dan nilai maksimal dana yang disiapkan.

Ketika jumlah saham yang beredar berkurang, maka persentase kepemilikan investor yang tidak menjual sahamnya akan meningkat secara proporsional. 

Selain itu, pengurangan jumlah saham juga berdampak pada indikator keuangan seperti Earnings Per Share (EPS). Dengan laba yang sama tetapi jumlah saham lebih sedikit, nilai EPS akan meningkat, yang sering kali menjadi sentimen positif bagi pasar.

Baca juga : Kenapa Laba UNVR Bisa Meroket Rp7,6 T di Tahun 2025?

Alasan Emiten Melakukan Buyback

Ada sejumlah alasan strategis di balik keputusan perusahaan melakukan buyback. Pertama, manajemen sering menilai harga saham perusahaan sedang undervalued, atau diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. 

Kondisi ini bisa terjadi akibat sentimen pasar yang negatif, gejolak makroekonomi, atau tekanan jangka pendek yang tidak mencerminkan kinerja fundamental. 

Dengan melakukan buyback, perusahaan pada dasarnya “berinvestasi” pada dirinya sendiri. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa manajemen percaya prospek bisnis tetap solid dan harga saham saat ini belum mencerminkan potensi pertumbuhan maupun kekuatan arus kas perusahaan.

Kedua, buyback dapat meningkatkan Earnings Per Share (EPS) karena jumlah saham beredar berkurang sementara laba relatif tetap. Kenaikan EPS sering kali menjadi indikator positif bagi analis dan investor institusi, karena mencerminkan peningkatan laba per lembar saham. 

Secara psikologis maupun teknikal, rasio keuangan yang membaik dapat mendorong minat beli dan menopang kenaikan harga saham di pasar. Dalam beberapa kasus, buyback juga membantu perusahaan menjaga rasio profitabilitas agar tetap kompetitif dibandingkan emiten sejenis.

Ketiga, aksi ini berfungsi sebagai sinyal optimisme manajemen terhadap kondisi keuangan perusahaan. Buyback umumnya hanya dilakukan ketika perusahaan memiliki kas yang cukup kuat dan arus kas yang stabil. 

Baca juga : LQ45 Dibuka Menguat, UNTR dan INCO Pimpin Top Gainer

Dengan mengalokasikan dana untuk membeli saham sendiri, manajemen menyampaikan pesan bahwa likuiditas perusahaan sehat dan kebutuhan operasional maupun ekspansi sudah tercukupi. Sinyal ini dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas dan arah jangka panjang perusahaan.

Selain itu, buyback sering digunakan untuk mengoptimalkan struktur modal. Dalam teori keuangan, perusahaan perlu menjaga keseimbangan antara utang dan ekuitas agar biaya modal tetap efisien. 

Dengan mengurangi jumlah ekuitas melalui buyback, perusahaan dapat memperbaiki struktur permodalan dan meningkatkan rasio pengembalian seperti Return on Equity (ROE). 

Jika dilakukan secara terukur, strategi ini dapat membuat struktur pembiayaan menjadi lebih efisien dan meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan.

Dampak bagi Investor

Dari sudut pandang investor, buyback bisa memberikan sejumlah keuntungan. Dengan berkurangnya jumlah saham di pasar, suplai saham menyusut sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga berdasarkan mekanisme supply and demand.

Buyback juga dapat meningkatkan Return on Equity (ROE), karena total ekuitas perusahaan mengecil akibat penggunaan kas untuk membeli saham.

Selain itu, dibandingkan pembagian dividen tunai, buyback sering dianggap lebih efisien secara pajak karena investor memperoleh keuntungan dalam bentuk capital gain, yang dalam beberapa yurisdiksi lebih ringan dibanding pajak dividen.

Meski terlihat positif, investor tetap perlu mencermati sejumlah aspek sebelum menyambut euforia buyback. Sumber pendanaan menjadi faktor penting. Buyback idealnya dibiayai dari laba atau arus kas yang sehat, bukan dari utang berlebihan yang justru meningkatkan risiko keuangan perusahaan. 

Investor juga perlu memahami tujuan akhir saham treasuri tersebut, apakah akan dimusnahkan untuk mengurangi jumlah saham permanen, atau dijual kembali di masa depan.

Selain itu, jangan sampai aksi buyback mengorbankan investasi jangka panjang seperti riset dan pengembangan (R&D), ekspansi bisnis, atau inovasi produk. 

Baca juga : LQ45 Dibuka Menguat, UNTR dan INCO Pimpin Top Gainer

Buyback yang dilakukan semata-mata untuk mempercantik rasio keuangan dalam jangka pendek bisa menjadi langkah “kosmetik” yang tidak memperkuat fundamental perusahaan.

Secara keseluruhan, buyback dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan nilai pemegang saham dan memperkuat kepercayaan pasar, terutama jika dilakukan dalam kondisi keuangan yang solid. Namun, keputusan investasi tetap harus didasarkan pada analisis menyeluruh terhadap fundamental perusahaan, bukan hanya sentimen jangka pendek.

Bagi investor, memahami konteks dan tujuan buyback menjadi kunci agar tidak terjebak dalam euforia sesaat, melainkan mampu menilai apakah langkah tersebut benar-benar menciptakan nilai jangka panjang.