Tren Pasar

Kenapa Laba UNVR Bisa Meroket Rp7,6 T di Tahun 2025?

  • Laba Unilever Indonesia (UNVR) meroket tajam berkat penjualan bisnis es krim Rp3,79 triliun. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kualitas laba inti tahun 2025?
unilever_169.jpeg

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan kinerja mengejutkan pada tahun 2025 dengan laba bersih yang melonjak sangat tajam. Capaian ini menjadi sorotan utama pasar modal karena terjadi di tengah tantangan daya beli yang masih lemah serta bayang-bayang isu boikot produk global.

Berdasarkan laporan keuangannya laba bersih emiten berkodekan UNVR meroket hingga Rp7,64 triliun atau naik 126,84% sepanjang tahun buku 2025. Angka fantastis ini jauh melampaui capaian tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp3,37 triliun, menimbulkan pertanyaan besar mengenai sumber utama kenaikan laba yang sangat signifikan tersebut.

Namun, investor harus menyadari bahwa lonjakan laba ini bukan murni berasal dari penjualan produk sehari-hari. Kenaikan drastis tersebut rupanya didorong oleh aksi korporasi strategis yang memberikan keuntungan jumbo satu kali, sehingga tidak mencerminkan kinerja operasional rutin yang akan berulang di masa depan.

Divestasi Es Krim: Jawaban di Balik Angka Fantastis

Faktor utama pendorong lonjakan laba adalah keuntungan satu kali dari pemisahan unit bisnis es krim. Dalam laporan laba rugi, perseroan mencatatkan pendapatan non-operasional yang disebut sebagai laba penjualan operasi dihentikan dengan nilai yang sangat fantastis mencapai angka Rp3,79 triliun.

Keuntungan besar ini merupakan hasil divestasi aset bisnis es krim kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia. Transaksi pemisahan unit bisnis ini telah rampung pada Desember 2025, sehingga seluruh keuntungannya langsung diakui secara penuh pada pembukuan tahun berjalan perusahaan.

Langkah ini sejalan dengan keputusan global Unilever PLC untuk memisahkan kategori es krim agar lebih fokus. Akibatnya, unit bisnis es krim kini berdiri sendiri dan kinerjanya tidak lagi dikonsolidasikan ke dalam operasional rutin perseroan pasca rampungnya transaksi strategis tersebut.

Kinerja Solid di Dua Segmen Utama

Terlepas dari divestasi, bisnis inti UNVR tetap menunjukkan pertumbuhan positif dengan total penjualan bersih Rp31,94 triliun. Capaian ini bertumbuh dibandingkan tahun buku 2024 berkat kontribusi solid dari dua pilar bisnis utamanya, yaitu kebutuhan rumah tangga dan juga segmen makanan minuman.

Dari sisi segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh menjadi penopang utama UNVR dengan penjualan bersih Rp23,36 triliun. Angka ini naik dari posisi tahun sebelumnya, yang turut mengerek laba segmen ini tumbuh menjadi Rp5,01 triliun di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

Sementara itu, segmen makanan dan minuman non-es krim juga mencatatkan kinerja menggembirakan dengan penjualan bersih mencapai Rp8,58 triliun. Capaian ini naik dibandingkan tahun 2024, dengan laba segmen yang berhasil dibukukan mencapai Rp2,02 triliun, menandakan permintaan produk makanan inti masih tetap terjaga.

Sorotan pada Beban Royalti Berelasi

Kendati perseroan berhasil melakukan efisiensi biaya, pengeluaran ke pihak berelasi atau entitas induk global tetap menjadi sorotan. Dalam laporan keuangan tahun 2025, tercatat adanya beban merek, teknologi, dan biaya jasa yang nilainya cukup signifikan mencapai angka sebesar Rp2,17 triliun.

Angka beban royalti dan jasa ini mengalami sedikit peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp2,12 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa kewajiban pembayaran atas penggunaan aset intelektual global tetap membebani struktur biaya perusahaan secara substansial meski ada penghematan lokal.

Nilai tersebut mencerminkan komitmen pembayaran royalti merek dan teknologi dari penjualan bersih pihak ketiga. Dana triliunan rupiah ini terus mengalir ke entitas induk sebagai kompensasi atas penggunaan merek dagang global serta dukungan teknologi dalam operasional Unilever di Indonesia.

Bagaimana Kualitas Laba Inti?

Phintraco Sekuritas dalam riset terbarunya menyoroti kualitas laba perseroan dengan memisahkan faktor keuntungan divestasi. Mereka menegaskan bahwa jika keuntungan satu kali divestasi es krim dikesampingkan, pertumbuhan laba bersih inti UNVR sejatinya tumbuh lebih moderat sebesar 21,78% menjadi Rp3,54 triliun.

Kondisi tersebut ditopang oleh penghematan biaya operasional mampu menjaga margin laba kotor tetap relatif stabil di level 46,9% di tengah pasar yang penuh tantangan. "Dari sisi struktur biaya, beban pemasaran dan penjualan turun 3,57% YoY," tulis tim riset dalam laporannya pada Kamis, 12 Februari 2026.

Dampak efisiensi tersebut mampu mendongkrak profitabilitas operasional perusahaan secara signifikan pada periode tahun ini. Laba usaha tercatat naik sebesar 20,60% menjadi Rp4,59 triliun, dengan margin operasi yang membaik ke level 14,37% dari posisi sebelumnya hanya 12,43%.

Dividen Interim dan Gerak Saham

Merujuk laporan keuangan, perseroan telah membagikan dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp87 per saham atau total Rp3,30 triliun. Artinya, dividen final yang akan diputuskan dalam Rapat Umum nanti hanyalah sisa laba bersih dikurangi nilai dividen interim tersebut.

Dari lantai bursa, saham UNVR hingga pukul 09.44 WIB, pada perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, terpantau melesat 2,21% ke level Rp2.310 per saham. Secara year to date, saham ini tampak masih tertekan 12,21% di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.

Menatap prospek depan, Phintraco Sekuritas tetap optimis pada momentum musiman kuartal pertama tahun 2026. Saat ini saham UNVR diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba sebesar 24,48 kali, mencerminkan valuasi yang sedikit premium di tengah harapan perbaikan daya beli pasar.