Tren Pasar

Harga Emas di Pucuk, Masih Aman untuk Masuk?

  • World Gold Council menilai tren emas masih solid dan belum overbought, sementara analis memproyeksikan peluang kenaikan menuju US$5.000 pada semester I 2026.
<p>Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia</p>

Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Harga emas dunia kembali mencetak rekor baru pada awal 2026 dengan menembus level US$4.600 per ons. Logam mulia ini bahkan sempat menyentuh kisaran US$4.630 per ons secara intraday pada perdagangan 12 Januari 2026, sekaligus menandai rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high/ATH).

Lonjakan harga terjadi dalam waktu singkat dan kembali menempatkan emas sebagai aset utama incaran investor global, di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan ekonomi dunia.

World Gold Council (WGC) menilai kenaikan harga emas kali ini bukan sekadar euforia jangka pendek. Dalam laporan Weekly Markets Monitor, WGC menyebut meningkatnya frekuensi konflik geopolitik global membuat risiko sistemik kini bersifat “menetap” di pasar keuangan. Kondisi tersebut mendorong emas memperoleh tambahan premi risiko.

Selain faktor geopolitik, sentimen politik di Amerika Serikat turut memperkuat reli emas. Tekanan dan ancaman hukum dari pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap independensi Federal Reserve memicu kekhawatiran pasar akan potensi intervensi politik terhadap kebijakan suku bunga.

Situasi ini mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap dolar AS dan mengalihkan aset ke emas sebagai instrumen lindung nilai (safe haven). WGC menegaskan, dalam lanskap global yang semakin tidak pasti, alokasi strategis ke emas tetap relevan untuk menjaga ketahanan portofolio.

Meski telah mencetak rekor baru, WGC menilai harga emas belum berada di zona jenuh beli ekstrem (overbought). Secara teknikal, level overbought yang kuat baru diperkirakan berada di kisaran US$4.770 per ons. Dengan demikian, kenaikan harga emas saat ini masih berada dalam tren utama yang sehat, meskipun potensi koreksi jangka pendek tetap terbuka.

Peluang tembus US$5.000 pada semester I 2026

Proyeksi harga emas menuju US$5.000 per ons pada semester I 2026 turut disampaikan Nick Cawley, Market Analyst Solomon Global. Menurutnya, kombinasi sejumlah faktor besar masih akan menopang tren kenaikan emas.

Faktor tersebut meliputi meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, tekanan politik terhadap bank sentral AS, melemahnya kepercayaan terhadap mata uang fiat, serta permintaan aset safe haven yang tetap solid.

Cawley menilai selama kondisi ini berlanjut, tren naik emas akan sulit dibendung. Setiap koreksi harga justru berpotensi menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.

Lonjakan harga emas di atas US$4.600 per ons menegaskan bahwa reli logam mulia ini bukan sekadar respons sesaat. World Gold Council menilai tren emas masih solid dan belum memasuki fase overbought, sementara Solomon Global melihat peluang emas menembus US$5.000 per ons pada semester I 2026.

Di tengah tekanan politik, ketidakpastian global, dan meningkatnya risiko sistemik, emas kembali memperkuat posisinya bukan hanya sebagai instrumen cuan, tetapi juga pelindung nilai utama di era ketidakpastian global.