Emas Antam 2025 Cuan 65 Persen, Tahun 2026 Giliran Perak?
- Investor emas Antam panen cuan 65% di 2025! Cek prediksi harga emas dan perak 2026 yang disebut bakal reli akibat kebijakan The Fed dan geopolitik.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Logam mulia emas dan perak kembali menjadi sorotan utama pasar global menjelang awal tahun 2026 ini. Sinyal pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat serta ketidakpastian geopolitik menjadi bahan bakar utama bagi pergerakan harga komoditas tersebut. Kedua aset ini menunjukkan potensi reli struktural yang kuat.
Tahun 2025 lalu tercatat sebagai periode sejarah paling fenomenal bagi pasar emas domestik di Indonesia. Harga emas fisik Antam berhasil mencatatkan kenaikan drastis yang memberikan keuntungan kapital sangat besar bagi para investor ritel. Momentum ini menjadi landasan optimisme pasar memasuki tahun baru.
Financial Analyst Finex, Brahmantya Himawan, menilai kondisi saat ini merupakan momen krusial bagi pelaku pasar untuk membaca arah tren. Penurunan imbal hasil obligasi riil Amerika Serikat menjadi katalis positif yang menguntungkan aset tanpa bunga. "Kondisi saat ini sangat mirip dengan fase awal reli," tegas Brahmantya dalam risetnya pada Kamis, 1 Januari 2025.
1. Antam Cuan 65 Persen
Pasar emas domestik mencatatkan rekor supercycle yang luar biasa sepanjang tahun perdagangan 2025 yang baru saja berlalu. Membuka awal tahun di level Rp1.515.000 per gram, harga emas Antam terus merangkak naik tanpa hambatan berarti. Tren kenaikan ini konsisten terjadi hingga penutupan akhir tahun.
Berdasarkan data perdagangan, harga emas Antam akhirnya menutup tahun 2025 di angka fantastis Rp2.501.000 per gram. Kenaikan harga yang drastis ini memberikan keuntungan kapital atau capital gain sebesar 65,08% bagi investor setia. Performa ini jauh melampaui imbal hasil instrumen deposito perbankan.

Puncak reli harga terjadi pada tanggal 28 Desember 2025 ketika emas menyentuh level tertinggi sepanjang masa. Pada tanggal tersebut harga emas sukses menembus rekor All Time High di level Rp2.605.000 per gramnya. Koreksi teknikal di akhir tahun sejumlah analis berpendapat tidak merusak tren bullish utama.
2. Pandangan Analis: Efek The Fed
Brahmantya Himawan menjelaskan bahwa lonjakan harga ini tidak terlepas dari sentimen makroekonomi global yang mendukung aset safe haven. Kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang memangkas suku bunga secara agresif sepanjang tahun menjadi katalis utamanya. Langkah The Fed ini sukses melemahkan kekuatan Dolar AS.
Menurut Brahmantya, inflasi Amerika Serikat yang melandai serta perlambatan pasar tenaga kerja memperkuat pandangan bahwa siklus pengetatan berakhir. Dalam kerangka ini, penurunan imbal hasil riil obligasi Amerika Serikat mendorong penguatan harga emas secara global. Emas diuntungkan saat biaya peluang memegang aset menyusut.
Selain faktor moneter, ia juga menyoroti eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai wilayah yang menjaga harga emas tetap kokoh. Aksi borong emas fisik oleh bank sentral negara berkembang untuk diversifikasi cadangan devisa juga menopang permintaan. "Emas secara historis selalu mendapat dorongan struktural," ungkap Brahmantya dalam risetnya.
3. Potensi Agresif Perak
Dalam analisisnya, Brahmantya menambahkan bahwa perhatian pasar kini mulai meluas ke logam mulia lain yang lebih agresif. Perak muncul sebagai pelengkap strategis dalam portofolio ketika investor mencari peluang ekspansi nilai aset yang signifikan. Logam putih ini memiliki karakteristik unik dibanding emas.
Berbeda dengan emas yang dominan sebagai pelindung nilai, perak memiliki fungsi ganda sebagai komoditas industri vital. Lonjakan permintaan dari sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik mendorong kinerja perak melampaui emas dalam setahun terakhir. Teknologi hijau menjadi tulang punggung permintaan fisik perak.
Brahmantya menyebut masuknya perak ke dalam daftar mineral kritis di Amerika Serikat semakin memperkuat prospek harga jangka menengah. Posisi ini menempatkan perak di persimpangan menarik antara kebutuhan industri manufaktur dan minat investasi spekulatif pasar. "Kombinasi ini membuat pergerakannya cenderung lebih agresif," jelas analis Finex tersebut.
4. Target Harga 2026
Mengutip proyeksi pasar, harga emas diperkirakan berpotensi bergerak di kisaran US$4.700 hingga US$5.000 per troy ounce pada tahun ini. Target harga yang terbilang fantastis untuk tahun 2026 tersebut didasarkan pada asumsi berlanjutnya pelemahan dolar AS serta kuatnya permintaan dari bank sentral. Dengan kondisi tersebut, emas global dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas.
Sementara itu, harga perak diproyeksikan berpeluang mencapai kisaran US$90 hingga US$120 per troy ounce pada tahun 2026. Secara persentase, potensi kenaikan harga perak dinilai lebih tinggi dibandingkan emas, terutama didorong oleh lonjakan permintaan industri. Seiring dengan itu, rasio harga emas terhadap perak diperkirakan akan semakin menyempit.
Prospek emas dan perak memasuki tahun 2026 dinilai tetap konstruktif dengan mempertimbangkan faktor moneter dan geopolitik global. Pelonggaran kebijakan moneter global akan terus memberikan angin segar bagi harga komoditas logam mulia di pasar. Tren kenaikan struktural tampaknya belum akan berakhir segera.
5. Strategi Investor dan Trader
Bagi investor jangka panjang, Brahmantya menyarankan logam mulia tetap dijadikan aset lindung nilai utama dalam portofolio. Emas terbukti efektif melindungi kekayaan dari inflasi dan ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi tahun ini. Akumulasi bertahap tetap menjadi strategi yang disarankan analis.
Sementara itu bagi trader aktif, volatilitas dan tren kuat membuka peluang strategi follow the trend yang menguntungkan. Namun, manajemen risiko yang disiplin sangat diperlukan mengingat pergerakan harga perak bisa sangat fluktuatif dan tajam. Trader harus jeli memanfaatkan momentum koreksi harga.
Kombinasi antara kebutuhan lindung nilai dan spekulasi membuat pasar logam mulia sangat dinamis di awal tahun. Pelaku pasar disarankan untuk terus memantau data ekonomi Amerika Serikat sebagai penunjuk arah harga selanjutnya. "Volatilitas dan tren kuat membuka peluang strategi," tutup Brahmantya.

Alvin Bagaskara
Editor
