Morgan Stanley Taksir Harga Emas Tembus Rp2,58 Juta!
- Bank investasi global Morgan Stanley memproyeksikan harga emas berpotensi menembus Rp80,16 juta per ons atau sekitar Rp2,58 juta per gram .

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Harga emas diperkirakan kembali melejit pada tahun 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian global dan arah kebijakan moneter dunia.
Bank investasi global Morgan Stanley memproyeksikan harga emas berpotensi menembus US$4.800 per ons, setara Rp80,16 juta per ons atau sekitar Rp2,58 juta per gram (kurs Rp16.700), pada kuartal IV tahun ini. Proyeksi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah emas masih layak dibeli di level setinggi ini?
Dikutip Rabu, 7 Januari 2026, dalam laporan terbarunya, Morgan Stanley menyebut lonjakan harga emas didorong oleh kombinasi ekspektasi penurunan suku bunga global, potensi perubahan kepemimpinan di Federal Reserve, serta pembelian emas secara agresif oleh bank sentral dan dana investasi global. Dalam kondisi suku bunga rendah, emas tetap menarik meski tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi geopolitik, Morgan Stanley menyoroti meningkatnya tensi global, termasuk peristiwa di Venezuela pada awal Januari, yang dinilai mendorong investor kembali mencari aset lindung nilai. Kondisi ini memperkuat peran emas sebagai safe haven, meski faktor geopolitik bukan satu-satunya dasar proyeksi harga US$4.800 per ons Rp80,16 juta per ons atau Rp2,58 juta per gram) tersebut.
Sepanjang 2025, harga emas mencatatkan kinerja luar biasa. Emas dunia mencetak rekor tertinggi US$4.549,71 per ons, setara Rp75,98 juta per ons atau sekitar Rp2,44 juta per gram, pada 26 Desember 2025. Secara tahunan, harga emas melonjak 64%, menjadi kinerja terbaik sejak 1979, didorong meningkatnya permintaan lindung nilai di tengah ketidakpastian global dan pelemahan mata uang.
Harga Logam Lain dan Rekomendasi
Tak hanya emas, perak juga diproyeksikan tetap berada dalam kondisi pasar yang ketat hingga 2026. Lonjakan harga perak sebesar 147% sepanjang 2025 mencerminkan tekanan serius dari defisit struktural yang telah berlangsung beberapa tahun, di tengah meningkatnya permintaan industri terutama dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, semikonduktor, dan teknologi digital.
Perak kini tidak lagi sekadar logam mulia, tetapi telah menjadi komoditas strategis industri masa depan. Tekanan pasokan global diperkirakan semakin besar seiring kebijakan baru China terkait izin ekspor yang mulai berlaku awal 2026.
Sebagai salah satu pemain kunci dalam rantai pasok logam dunia, pembatasan ekspor dari China berpotensi mempersempit suplai global, meningkatkan volatilitas harga, serta memperkuat posisi perak sebagai aset lindung nilai alternatif selain emas.
Di luar logam mulia, logam dasar juga menunjukkan prospek yang masih menjanjikan. Harga tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat menyentuh US$13.387,50 per ton atau sekitar Rp223,57 juta per ton, mencerminkan ekspektasi kuat terhadap permintaan jangka panjang.
Tembaga menjadi tulang punggung transisi energi global, digunakan secara masif pada jaringan listrik, kendaraan listrik, pusat data, dan infrastruktur hijau. Sementara itu, nikel mencatat kenaikan 5,8 persen menjadi US$17.980 per ton atau sekitar Rp300,27 juta per ton, level tertinggi sejak Oktober 2024.
Kenaikan ini terjadi di tengah risiko gangguan pasokan dari Indonesia, yang merupakan produsen nikel terbesar dunia. Ketidakpastian kebijakan, isu lingkungan, serta potensi pengetatan ekspor membuat pasar semakin sensitif terhadap kabar pasokan, sehingga menopang harga.
Menurut Morgan Stanley, kombinasi risiko geopolitik, permintaan industri yang tetap solid, serta defisit pasokan struktural akan menjadi pendorong utama harga logam mulia dan logam dasar sepanjang 2026.
Dalam konteks ini, logam tidak hanya dipandang sebagai komoditas siklikal, tetapi juga sebagai aset strategis yang mencerminkan arah ekonomi global dan transisi energi. Menurut Morgan Stanley bagi investor, emas masih dinilai relevan sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, pelemahan nilai tukar, dan ketidakpastian global.
Namun, strategi akumulasi perlu disesuaikan dengan profil risiko, horizon investasi, serta tujuan keuangan, termasuk mempertimbangkan diversifikasi ke perak atau saham berbasis logam dan pertambangan. Pendekatan bertahap dan manajemen risiko menjadi kunci dalam menghadapi potensi volatilitas harga komoditas di tahun 2026.

Ananda Astri Dianka
Editor
