Fokus Transisi Energi, Potensi Cuan Saham BRPT Capai Segini
- Genjot kapasitas EBT 2,3 GW, analis patok target harga BRPT Rp4.100. Simak 4 katalis pertumbuhan holding raksasa energi terbarukan milik Prajogo Pangestu ini.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terus memperkuat posisinya sebagai raksasa energi terbarukan melalui anak usahanya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang memiliki kapasitas 910,3 megawatt. Selain itu, emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu ini juga mendominasi sektor petrokimia nasional lewat PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan pangsa pasar 40% dari total kapasitas.
Alhasil, peluang pertumbuhan kinerja yang pesat mendorong sekuritas Henan Putihrai mempertahankan rekomendasi beli saham BRPT dengan target harga Rp4.100 per lembar. Target ini mengindikasikan adanya potensi keuntungan lebih dari 43% dibandingkan harga penutupan pasar kemarin yang berada di level Rp2.860 per saham.
Sejumlah aksi korporasi strategis dinilai membuat BRPT sedang memasuki fase akselerasi kinerja keuangan dan fundamental profitabilitas yang kuat. Pertumbuhan pendapatan konsolidasi dan total aset diproyeksikan meningkat tajam dalam lima tahun ke depan seiring kontribusi maksimal dari kedua anak usahanya.
1. Ekspansi Hijau 2,3 GW
Saat ini BREN membidik peningkatan kapasitas terpasang sebesar 2,3 gigawatt pada tahun 2032. Ekspansi ini dilakukan melalui optimalisasi aset eksisting yang ditargetkan menambah 119 megawatt dalam tiga tahun ke depan serta pengembangan proyek baru berupa panas bumi dan tenaga angin.
Penambahan kapasitas juga mencakup pengembangan proyek greenfield skala besar seperti Hamiding di Maluku Utara dan South Sekincau di Sumatra. Selain itu, proyek tenaga angin Sidrap 2, Lombok, dan Sukabumi menjadi katalis tambahan yang krusial dalam pembangunan kapasitas energi baru terbarukan perseroan.
2. Akuisisi Kilang Singapura
Di sektor hilir, TPIA bersama Glencore telah merampungkan akuisisi Shell Energy and Chemicals Park di Singapura yang kini berganti nama menjadi Aster Chemicals and Energy. Transaksi strategis ini mendongkrak kapasitas produksi petrokimia perseroan secara signifikan menjadi sekitar 20 juta ton.
TPIA juga terus melanjutkan pembangunan pabrik Chlor Alkali Ethylene Dichloride di Cilegon dengan target operasi mulai tahun 2027 mendatang. Dengan beroperasinya fasilitas ini, kapasitas produksi diproyeksikan mencapai 21 juta ton per tahun, memperkokoh dominasi perseroan di pasar petrokimia domestik dan regional.
3. Sejalan Target PLN
“Dalam konteks transisi energi nasional, strategi BRPT sejalan dengan rencana pengembangan ketenagalistrikan jangka panjang yang lebih agresif, di mana PLN menargetkan pembangunan kapasitas EBT sekitar 42,6 GW dalam kurun waktu 10 tahun,” tulis analis Henan Putihrai, Dennis Tay, dalam riset yang diterbitkan pekan ini.
BREN diposisikan sebagai pemain kunci untuk menyuplai kebutuhan listrik bersih tersebut, yang tentunya akan berdampak langsung pada pendapatan perseroan di masa depan. “Porsi energi panas bumi diproyeksikan bertambah 5,2 GW, tenaga angin bertambah 7,2 GW,” tambah Dennis merinci proyeksi tersebut.
4. Lonjakan Laba dan Aset
Terkait prospek keuangan, Dennis menulis bahwa pendapatan konsolidasi perseroan diperkirakan tumbuh dengan CAGR sekitar 41,4% sepanjang 2024–2029 dari posisi US$13,5 miliar. Pertumbuhan agresif ini didorong oleh meningkatnya kontribusi segmen petrokimia serta energi terbarukan (renewable), yang kian memperkuat struktur pendapatan jangka panjang perusahaan.
Proyeksi tersebut mencerminkan fase akselerasi fundamental profitabilitas yang semakin solid ke depan. Henan Putihrai juga memperkirakan CAGR EBITDA mencapai sekitar 40,2%, melonjak dari US$577 juta menjadi US$3,1 miliar. Sejalan dengan itu, total aset perseroan diproyeksikan meningkat signifikan dari US$10,5 miliar pada 2024 menjadi US$20,2 miliar pada 2029.

Alvin Bagaskara
Editor
