Jangan FOMO! Ini Strategi Investor Saat IHSG Reli ATH
- Investor justru perlu memahami makna ATH dan menyiapkan strategi agar tidak terjebak keputusan emosional.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Rekor demi rekor yang dicetak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini memunculkan dua reaksi ekstrem di kalangan investor. Sebagian tergoda masuk pasar karena takut ketinggalan momentum, sementara sebagian lain justru memilih menepi karena khawatir harga saham sudah terlalu mahal.
Padahal, menembus level tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) tidak serta-merta menjadi sinyal bahaya bagi pasar. Dalam banyak kasus, rekor justru mencerminkan kondisi pasar yang sedang berada dalam tren jangka panjang yang solid, selama penguatannya ditopang faktor fundamental.
Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha menjelaskan, ATH adalah level tertinggi yang pernah dicapai IHSG sepanjang sejarah pergerakannya. Pencapaian ini umumnya lahir dari kombinasi pertumbuhan laba emiten, likuiditas pasar yang memadai, serta optimisme terhadap prospek ekonomi jangka menengah hingga panjang.
“Pasar yang sehat memang akan sesekali mencetak rekor baru. ATH adalah konsekuensi logis dari pertumbuhan, bukan pertanda bahwa pasar pasti akan berbalik turun,” ujarnya, Kamis 22 Januari 2026.
Sepanjang 2025, IHSG tercatat berulang kali mencetak rekor harian dan menutup tahun di level tertinggi. Memasuki awal 2026, tren tersebut masih berlanjut dengan pencapaian ATH baru, sebagaimana tercermin dalam data Bursa Efek Indonesia (BEI).
Namun, Dimas menilai ATH kerap disalahartikan oleh investor ritel. Salah satu kekeliruan paling umum adalah anggapan bahwa pasar pasti terkoreksi setelah mencetak rekor. Faktanya, pergerakan setelah ATH sangat beragam, pasar bisa melanjutkan penguatan, bergerak mendatar, atau mengalami koreksi sementara.
“Banyak investor justru merugi karena keluar terlalu cepat, lalu kehilangan momentum saat pasar kembali naik,” katanya.
Kesalahpahaman lain muncul dari perbandingan yang tidak tepat. IHSG mencerminkan seluruh saham yang tercatat di BEI, sementara indeks seperti LQ45 hanya berisi saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid. Saat penguatan IHSG didorong saham-saham berisiko tinggi dengan kenaikan cepat, kinerja reksa dana saham berbasis blue chip bisa terlihat tertinggal, meski dari sisi risiko justru lebih terjaga.
- Baca Juga: IHSG Mulai Konsolidasi, ANTM hingga BRMS jadi Primadona
Menurut Dimas, tantangan terbesar saat IHSG berada di level tertinggi bukanlah volatilitas pasar, melainkan bias psikologis investor. ATH sering memicu FOMO, rasa percaya diri berlebihan, hingga kebiasaan membeli aset hanya karena harganya baru saja melonjak. Pola inilah yang kerap membuat investor membeli di harga tinggi dan menjual saat pasar terkoreksi.
Alih-alih bereaksi berlebihan, ATH sebaiknya dimaknai sebagai momen evaluasi strategi. Investor perlu kembali pada tujuan awal investasi, apakah untuk dana pensiun, pendidikan, atau kebutuhan jangka panjang lainnya, bukan terpaku pada satu titik pergerakan indeks.
Strategi investasi berkala atau dollar cost averaging (DCA) juga dinilai relevan di tengah kondisi pasar seperti ini. Dengan berinvestasi secara rutin, risiko salah timing dapat ditekan sekaligus membantu menjaga disiplin investasi. Selain itu, diversifikasi aset dan rebalancing portofolio secara berkala penting untuk menjaga keseimbangan risiko, terutama ketika sebagian aset sudah naik signifikan.
“Disiplin strategi jauh lebih penting daripada mencoba menebak puncak pasar,” ujar Dimas.
Ia menegaskan, ATH bukanlah sinyal jual otomatis. Selama investasi dilakukan sesuai profil risiko dan tujuan jangka panjang, rekor indeks justru bisa menjadi pijakan untuk mengambil keputusan yang lebih rasional dan konsisten.

Ananda Astri Dianka
Editor
