Emas Fisik Langka, Digital Jadi Solusi Lindung Nilai Modern
- Kelangkaan emas fisik memicu spread lebar. Emas digital tawarkan efisiensi biaya dan likuiditas tinggi. Simak strategi hibrida hadapi disrupsi pasar ini.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Tahun 2026 dibuka dengan reli harga emas yang sangat agresif. Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, harga emas Antam telah melonjak sekitar Rp300.000 per gram, melesat dari Rp2.488.000 pada awal tahun menjadi Rp2.790.000 per gram pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026. Rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High) pun berkali-kali pecah.
Tren bullish ini diprediksi belum akan berhenti. Institusi raksasa global seperti Goldman Sachs dan JP Morgan memproyeksikan harga emas masih akan lanjut berlari hingga menembus kisaran Rp3.000.000 hingga Rp3.250.000 per gram di akhir tahun 2026. Namun, euforia kenaikan harga ini justru memicu masalah baru: kelangkaan stok fisik di pasaran akibat panic buying.
Tingginya minat investor menciptakan kemacetan parah di sisi suplai, menyebabkan stok emas batangan, terutama denominasi kecil, makin sulit ditemukan di berbagai butik logam mulia. Kondisi kelangkaan fisik di tengah harga yang terus mendaki ini memaksa pelaku pasar untuk mengevaluasi ulang strategi mereka dan melirik emas digital sebagai solusi likuiditas.
1. Spread Lebar Gerus Potensi Cuan Fisik
Masalah utama emas fisik saat ini bukan hanya ketersediaan, melainkan struktur biaya yang tidak efisien untuk jangka pendek. Selisih harga jual dan beli (spread) emas fisik relatif lebar, berkisar 10% hingga 15%. Artinya, investor membutuhkan kenaikan harga global minimal 10% hanya untuk mencapai titik impas (break even point).
Selain itu, terdapat biaya tersembunyi seperti risiko penyimpanan di rumah atau biaya sewa Safe Deposit Box (SDB) di bank yang kerap luput dari hitungan. Faktor ini menjadikan emas fisik kurang ideal untuk strategi investasi jangka pendek-menengah, dan lebih cocok diposisikan sebagai aset warisan antargenerasi.
2. Efisiensi Biaya Emas Digital
Sebaliknya, emas digital menawarkan keunggulan komparatif berupa spread yang jauh lebih tipis, umumnya di kisaran 3% hingga 5%. Dalam kalkulasi ekonomi, efisiensi ini memungkinkan investor membukukan keuntungan lebih cepat saat harga spot dunia bergerak naik, tanpa terbebani potongan biaya yang besar.
Fitur ini juga mendukung strategi Dollar Cost Averaging (DCA) yang lebih mulus karena memungkinkan pembelian dalam gramasi mikro (mulai 0,01 gram). Likuiditas pun terjamin karena pencairan aset menjadi uang tunai dapat dilakukan secara real-time tanpa batasan jam operasional toko yang stoknya sering kosong.
3. Risiko Kontraparti dan Regulasi
Transisi ke digital memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait risiko kontraparti (counterparty risk). Keamanan dana investor sangat bergantung pada kredibilitas platform penyedia. Jika terjadi kegagalan sistem atau kebangkrutan penyedia layanan, dana investor bisa terancam.
Oleh karena itu, peran regulasi menjadi filter krusial. Investor wajib memastikan platform emas digital yang digunakan telah memiliki lisensi resmi dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Hal ini untuk menjamin bahwa saldo digital nasabah benar-benar di- backup oleh ketersediaan fisik di lembaga kliring.
4. Strategi Hibrida: Rasionalitas vs Fanatisme
Menghadapi kondisi pasar saat ini, pendekatan terbaik adalah strategi hibrida. Investor disarankan menggunakan emas digital sebagai kendaraan akumulasi kekayaan (wealth accumulation) dan trading jangka menengah dengan memanfaatkan spread rendah.
Sementara itu, emas fisik tetap perlu dimiliki sebagai porsi kecil portofolio untuk asuransi kekayaan (wealth insurance) menghadapi skenario krisis sistemik ekstrem. Di era disrupsi rantai pasok dan harga yang menuju Rp3 juta per gram, fanatisme terhadap bentuk fisik tidak boleh menghalangi rasionalitas ekonomi.

Alvin Bagaskara
Editor
