Bukan BBRI Cs, Saham Taipan Ini Bikin IHSG Cetak Rekor
- Anomali pasar! IHSG tembus 8.885 tanpa dorongan BBRI Cs. Saham Low Tuck Kwong, Salim, dan Bakrie justru mengamuk.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan sesi pertama hari ini, Selasa, 6 Januari 2026. Sempat dibuka di zona merah, indeks komposit berhasil melakukan manuver rebound ciamik dan berbalik hijau ke level 8.885 jelang penutupan sesi satu. Momentum bullishawal tahun tampaknya masih terlalu kuat untuk diredam.
Kenaikan ini melanjutkan tren positif sehari sebelumnya, di mana IHSG sukses mengukir rekor tertinggi baru (All Time High) di level 8.859,19 pada perdagangan Senin kemarin. Pasar saham domestik seolah sedang menggelar "pesta pora", dengan kapitalisasi pasar (market cap) yang kini tembus angka fantastis Rp16.194 triliun.
Menariknya, pendorong utama reli kali ini bukanlah saham perbankan raksasa (Big Banks) yang biasanya menjadi tulang punggung indeks. Panggung kali ini diambil alih oleh saham-saham Blue Chips non-perbankan milik para konglomerat papan atas Indonesia yang kompak "unjuk gigi" menjadi pemimpin pasar (top leaders).
1. Bukan Big Banks, Tapi 'Geng' Konglomerat
Berdasarkan data perdangangan kemarin, kenaikan IHSG disetir oleh emiten-emiten non-bank yang terafiliasi dengan nama-nama orang terkaya Indonesia. Saham emiten batu bara milik Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), menjadi motor utama dengan lonjakan 11,15% ke level Rp17.450. Kenaikan ini menegaskan dominasi sektor energi, menggeser dominasi perbankan.
Tak mau kalah, raja teknologi data center Toto Sugiri juga ikut meramaikan pesta. Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII)terpantau melesat 11,19% ke posisi Rp223.975 per saham. Kenaikan dua digit pada saham berharga ratusan ribu ini memberikan bobot poin yang signifikan terhadap penguatan indeks komposit.
Di barisan lain, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) milik Grup Salim dan keluarga Panigoro mencatat kenaikan solid sebesar 8,95% menjadi Rp7.000. Induk Grup Astra, PT Astra International Tbk (ASII), juga tak ketinggalan dengan kenaikan 2,61% ke level Rp6.875. Deretan saham inilah yang menjadi fondasi kuat IHSG hari ini.
2. Grup Bakrie: Lapis Kedua Mengamuk
Selain para raksasa konglomerat di atas, fenomena menarik lainnya adalah "mengamuknya" saham-saham lapis kedua (second liner) milik Grup Bakrie. Merujuk data BEI, empat emiten dari grup legendaris ini sukses bercokol di jajaran top leaders IHSG secara year-to-date (YTD).
Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tercatat naik 15,91%, sementara induknya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melonjak lebih agresif sebesar 26,78%. Sentimen positif di sektor mineral dan batu bara menjadi bahan bakar utama kenaikan saham-saham komoditas milik Bakrie ini.
Dua emiten lainnya, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA), masing-masing melaju 18,93% dan 12,69%. Kekompakan grup Bakrie ini seringkali menjadi indikator tingginya selera risiko (risk appetite) para trader ritel di pasar.
3. Wall Street Kebal Geopolitik
Sentimen positif dari pasar global turut menjadi katalis pendorong IHSG. Pelaku pasar global menilai langkah militer AS ke Venezuela tidak akan memicu konflik geopolitik yang meluas. Hal ini tercermin dari hijaunya bursa global di mana Dow Jones melonjak 1,23% dan Nasdaq menguat 0,69% pada penutupan Senin kemarin.
Fanny Suherman, Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, menyoroti bahwa pasar justru melihat peluang ekonomi di balik konflik tersebut. Saham sektor energi di AS memimpin penguatan karena optimisme bahwa perusahaan minyak AS akan diuntungkan dari potensi pembangunan kembali infrastruktur energi Venezuela.
Optimisme ini menular ke Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak hampir 3%, sementara Kospi Korea Selatan melesat 3,43%. Hijau royonya bursa regional memberikan kepercayaan diri bagi investor domestik untuk tetap melakukan akumulasi beli meskipun IHSG sudah berada di area ketinggian baru.
4. IPOT: Waspada Profit Taking
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menilai fenomena January Effect yang berjalan sejak awal tahun masih menjadi tenaga utama. Namun, ia mengingatkan investor untuk tetap rasional melihat dinamika eksternal, terutama arah kebijakan global yang bisa berubah cepat.
Meski tren penguatan masih terbuka, Hari memberikan catatan khusus mengenai manajemen risiko di tengah pasar yang sedang euforia. Potensi pembalikan arah jangka pendek akibat aksi ambil untung investor selalu mengintai di balik rekor tertinggi.
"Manajemen risiko pun tetap perlu diperhatikan, mengingat dalam kondisi pasar yang cenderung bullish, potensi aksi profit taking tetap terbuka," ujar Hari dalam keterangan tertulisnya pada Senin, 5 Januari 2026, mengingatkan investor agar tidak terlena.
5. BNI Sekuritas: Anomali Net Sell di Big Banks
Di sisi teknikal, IHSG hari ini diprediksi bergerak dengan kecenderungan koreksi wajar. Fanny Suherman juga menyoroti adanya anomali di mana asing justru mencatatkan net sell (jual bersih) sekitar Rp9,98 miliar, dan sasaran jualnya termasuk saham Big Banks.
Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBRI (Bank BRI), bersama dengan BUMI, MEDC, dan JPFA. Ini mengonfirmasi bahwa reli hari ini tidak didukung oleh sektor perbankan, melainkan rotasi ke sektor lain.
"IHSG potensi koreksi wajar hari ini dengan support 8.780-8.800 dan resistance 8.880-8.900. Trading idea hari ini INET, BRMS, MBMA, UNTR, ARCI, dan HRTA," pungkas Fanny memberikan rekomendasi saham pilihan yang mayoritas berada di sektor non-bank.

Alvin Bagaskara
Editor
