Bedah Saham Sawit Era B40: Nasib JARR, DSNG, hingga AALI
- Mandatori B40 memicu divergensi saham sawit. JARR milik Haji Isam meroket 850%, sementara AALI dan LSIP melambat. Lantas, emiten mana yang diuntungkan?

Alvin Bagaskara
Author


Nampak seorang petani tengah melakukan panen tanaman kelapa sawit di kawasan Bogor Jawa Barat, Kamis 28 Mei 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID - Pesta emiten sawit diprediksi memasuki babak baru, bukan berakhir. Jika sepanjang 2025 harga saham sektor ini melejit karena antisipasi pasar, kini fokus beralih pada realisasi kinerja. Pemicu utamanya adalah implementasi mandatori B40 yang resmi berlaku efektif mulai Januari tahun ini.
Namun, investor perlu cermat membaca peta karena euforia B40 ternyata tidak dinikmati secara merata. Data perdagangan penutupan perdagangan Rabu, 14 Januari 2026, menunjukkan divergensi kinerja yang mencolok. Terlihat jurang lebar antara saham-saham yang bergerak agresif karena spekulasi dengan emiten konvensional yang justru bergerak lambat.
Saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) milik konglomerat Haji Isam tampil paling fenomenal dengan lonjakan 850%sepanjang tahun lalu. Saat ini, harga JARR bertengger di level Rp3.110, meski kini pergerakannya cenderung volatil dan rawan koreksi pasca-reli ekstrem.
Kinerja impresif juga dicatatkan oleh emiten milik TP Rachmat (Triputra Group), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), yang naik solid 71% pada 2025. Kini, saham DSNG diperdagangkan di level Rp1.450, sedang mengalami fase koreksi wajar dari level tertingginya di Rp1.550.
Sebaliknya, saham-saham konvensional bergerak jauh lebih lambat. Misalnya, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) milik Grup Salim kini berada di harga Rp1.180 dengan kenaikan tahunan hanya 22%. Pergerakan saham defensif ini cenderung stabil di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
Setali tiga uang, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) milik Grup Astra baru memanas di level Rp7.725 setelah hanya tumbuh 20% dalam satu terakhir. Sementara itu, emiten berskala menengah, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) milik Sungai Budi Group juga tertinggal dengan harga Rp680 dan kenaikan hanya 10% sepanjang tahun lalu.
Saatnya Melirik yang Tertinggal
Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai peta permainan investasi di sektor perkebunan akan berubah drastis pada tahun 2026. Jika tahun sebelumnya diwarnai oleh euforia kenaikan harga yang mengangkat hampir seluruh saham sektor ini, tahun ini pasar diprediksi tidak lagi bergerak seragam.
“Pasar akan bergerak jauh lebih selektif, menyaring emiten mana yang benar-benar mendapatkan keuntungan fundamental dan struktural dari kebijakan mandatori biodiesel B40,” katanya kepada TrenAsia.id pada Kamis, 15 Januari 2026.
Oleh karena itu, fokus investor akan beralih dari spekulasi harga komoditas mentah menuju kepastian arus kas dari serapan domestik. Situasi ini justru menciptakan peluang menarik bagi saham-saham yang sebelumnya tertinggal atau lagging dalam pesta kenaikan harga sepanjang 2025 lalu.
Hendra bilang saham yang belum terbang tinggi namun memiliki fondasi bisnis kuat terkait ekosistem B40 kini menawarkan valuasi masuk akal. “Potensi upside atau ruang penguatan pada saham laggard ini dinilai lebih lebar dibandingkan memaksakan masuk ke saham yang valuasinya sudah terlalu premium,” paparnya.
Dengan demikian, strategi investor saat ini harus beralih menjadi berburu nilai intrinsik perusahaan yang belum terekspos pasar. "Tahun 2026 adalah fase seleksi. Saham yang tahun lalu tertinggal namun punya fundamental B40 kuat justru menjadi menarik karena valuasinya belum mahal," ujar Hendra.
Rekomendasi dan Target Harga
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Hendra menyoroti TBLA sebagai hidden gem. Dengan harga pasar saat ini di Rp680, Hendra merekomendasikan speculative buy dengan target harga Rp800. “TBLA ada di posisi strategis sisi hilir untuk penyerapan B40, namun harganya belum banyak bergerak dibanding lainnya,” jelas Hendra.
Untuk DSNG, posisi harga saat ini di Rp1.450 dinilai sebagai area entry yang menarik untuk strategi buy on weakness. Hendra memasang target harga di Rp1.600, didukung oleh model bisnis terintegrasi yang solid serta kemampuan perseroan menjaga margin di berbagai kondisi.
Bagi investor konservatif, LSIP di harga Rp1.180 direkomendasikan sebagai saham defensif dengan target Rp1.300. Sementara itu, AALI di level Rp7.725 diposisikan sebagai speculative buy jangka pendek dengan target Rp8.500, mengingat sensitivitasnya yang tinggi terhadap harga CPO global dibanding sentimen domestik.

Alvin Bagaskara
Editor
