Tren Pasar

Efek B40, NSSS dan BWPT Jadi Hidden Gem Sektor Sawit

  • Mandatori B40 dorong prospek emiten hulu sawit. Samuel Sekuritas soroti NSSS dan BWPT sebagai hidden gem dengan fundamental kuat.
Panen Kelapa Sawit - Panji 8.jpg
Nampak seorang petani tengah melakukan panen tanaman kelapa sawit di kawasan Bogor Jawa Barat, Kamis 28 Mei 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Genderang perang terhadap ketergantungan impor solar resmi ditabuh pemerintah lewat peresmian mandatori B40 per Januari 2026 ini. Di balik ambisi swasembada energi yang menggebu, dinamika industri kelapa sawit nasional pun langsung bergejolak hebat di lantai bursa.

Kebijakan makro ini tidak sekadar menjadi bahan diskusi di ruang rapat kabinet, melainkan telah merombak peta kekuatan emiten sawit. Pertanyaannya, siapa yang akan benar-benar berpesta pora di tengah lonjakan permintaan CPO domestik: para raksasa perkebunan atau produsen biodisel di sisi hilir?

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memberikan perspektif tajam mengenai anomali margin di era B40. Menurutnya, emiten di sektor hulu (upstream) memiliki posisi yang jauh lebih diuntungkan dibandingkan sektor hilir (downstream) karena karakteristik struktur biaya mereka.

"Margin perusahaan CPO upstream akan lebih tinggi karena memiliki cost yang lebih stabil, namun berpeluang menjual harga CPO yang lebih tinggi di tengah potensi kenaikan harga akibat permintaan biodiesel," ujar Harry Su kepada TrenAsia.id, Rabu, 14 Januari 2026.

Ia mengingatkan investor untuk waspada terhadap perusahaan hilir. Sebab, ketika harga CPO sebagai bahan baku meroket, maka beban biaya operasional produsen biodiesel juga ikut membengkak. Hal ini berisiko menipiskan margin keuntungan meski volume penjualan mereka dipastikan meningkat pesat.

NSSS dan BWPT: Jagoan di Tengah Euforia

Pria yang akrab Harry itu tak ragu membocorkan dua nama emiten hulu yang diprediksi akan menjadi bintang di Kuartal I-2026: PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT). Kedua saham ini memiliki alasan fundamental yang sangat kontras namun sama-sama menjanjikan.

NSSS memikat pasar lewat profil usia pohon sawit yang masih muda, yang menjanjikan lonjakan produktivitas dalam jangka panjang. Saham ini tercatat melesat agresif sebesar +363% dalam setahun terakhir, meskipun Bursa Efek Indonesia sempat melakukan suspensi pada awal Januari lalu akibat fluktuasi harga.

Sementara itu, BWPT dipilih karena valuasinya yang dianggap masih "murah" dibandingkan rata-rata sektor. Perusahaan ini tengah membuktikan keberhasilan strategi pemulihan (turnaround) dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp271,44 miliar serta sukses menekan total liabilitas secara konsisten sepanjang tahun 2025 yang lalu.

Ambisi 2026: Antara Semangat dan Realita

Namun, optimisme di pasar modal ini mendapat "siraman air dingin" dari pengamat kebijakan. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bakhtiar, menilai target pemerintah untuk mencapai nihil impor solar pada akhir 2026 melalui B40 adalah misi yang sangat berat dan cenderung terlalu ambisius.

"Secara kapasitas kilang biodiesel domestik relatif siap karena sebelumnya di B30 belum mencapai batas maksimal. Namun, tantangan utama ada pada aspek operasional, terutama hambatan distribusi yang berpotensi terjadi di wilayah luar Jawa dan Indonesia bagian timur," jelas Bisman kepada TrenAsia pada Rabu, 14 Januari 2026.

Ia menekankan bahwa menjaga konsistensi kualitas dan volume pasokan di seluruh pelosok negeri bukan perkara mudah. Selain masalah logistik, keterbatasan sarana penyimpanan (storage) menjadi ganjalan serius yang bisa mengganggu stabilitas pasokan energi nasional jika tidak segera dicarikan jalan keluar teknis.

Dilema Lingkungan di Balik Sentimen Hijau

B40 memang menjadi pemicu permintaan domestik yang kuat dan memperkuat posisi tawar sawit Indonesia sebagai sumber energi terbarukan di mata global. Namun, Bisman mengingatkan bahwa peningkatan mandatori ini membawa konsekuensi ekologis yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh pemerintah maupun pelaku industri.

Hal ini menjadi alarm bagi emiten sawit untuk tetap patuh pada prinsip ESG demi menjaga kepercayaan investor global. "Ada dua sisi. Di satu sisi memperkuat kontribusi dekarbonisasi nasional, tapi di sisi lain ada aspek negatif seperti masalah pemanfaatan lahan dan potensi deforestasi," pungkas Bisman.