5 Cara Pilih Saham Ala Lo Kheng Hong: Cari PER Rendah & GCG
- Ingin cuan seperti Lo Kheng Hong? Simak 5 jurus investasinya: Cari 'Wonderful Company' harga murah, cek GCG, hingga jurus 'tidur'. Pelajari selengkapnya.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Lo Kheng Hong dikenal sebagai Warren Buffett Indonesia berkat kesuksesannya meraup kekayaan fantastis dari pasar saham domestik. Strateginya terbukti ampuh bertahan di berbagai kondisi pasar termasuk saat indeks sedang mengalami kejatuhan dalam seperti yang terjadi pada saat ini.
Di tengah koreksi tajam IHSG akibat sentimen global investor pemula seringkali bingung menentukan saham apa yang layak dibeli. Padahal momen ini adalah waktu yang tepat untuk mempraktikkan ajaran value investing yang selama ini dipegang teguh oleh investor kawakan tersebut.
Ia memiliki prinsip investasi yang sangat ketat namun sederhana untuk diterapkan oleh siapa saja yang mau belajar serius. Kunci utamanya adalah kesabaran dan ketelitian dalam membedah fundamental perusahaan sebelum memutuskan untuk menaruh uang kerja keras kita di sana.
1. Prinsip Wonderful Company
Lo Kheng Hong tidak pernah membeli saham hanya berdasarkan grafik pergerakan harga atau tren sesaat semata di pasar. Ia fokus mencari perusahaan kategori "Wonderful Company" yang memiliki bisnis bagus dan fundamental kuat namun sedang dihargai murah oleh pasar saham.
Indikator valuasi yang menjadi acuan utamanya adalah rasio Price to Earning atau PER yang rendah di bawah lima kali. Selain itu ia juga memburu saham dengan Price to Book Value di bawah satu kali atau harga diskon besar.
Kombinasi ini memastikan bahwa investor membeli aset perusahaan dengan harga yang jauh lebih murah daripada nilai wajarnya saat ini. Strategi ini meminimalkan risiko kerugian atau downside risk karena harga beli sudah berada di dasar atau bottom valuasi perusahaan tersebut.
2. Integritas Manajemen
Bagi investor kawakan ini faktor kejujuran manajemen atau tata kelola perusahaan yang baik adalah segalanya dalam berinvestasi saham. Ia hanya mau menaruh uangnya di perusahaan yang dikelola oleh direksi dan komisaris yang memiliki integritas tinggi dan reputasi bersih.
Lo Kheng Hong sangat menghindari manajemen yang memiliki rekam jejak buruk atau sering merugikan pemegang saham publik minoritas. Menurutnya percuma membeli perusahaan yang untung besar jika uangnya disalahgunakan oleh pengelola yang tidak amanah atau tidak transparan dalam laporannya.
Sebelum membeli saham ia selalu menyempatkan diri untuk meriset siapa sosok di balik kemudi perusahaan tersebut secara mendalam. Kepercayaan terhadap karakter pengelola menjadi benteng pertahanan utama agar investasi yang ditanamkan tidak hilang begitu saja di kemudian hari nanti.
3. Sektor Pilihan LKH
Meskipun tidak membatasi diri pada sektor tertentu Lo Kheng Hong seringkali meraup keuntungan jumbo dari saham komoditas dan perbankan. Ia menyukai sektor komoditas seperti batu bara dan sawit yang bersifat siklikal terutama saat harganya sedang hancur lebur di pasar.
Strateginya adalah membeli saat harga komoditas jatuh dan semua orang takut lalu menjualnya saat siklus harga naik tinggi. Selain komoditas ia juga sangat menyukai sektor perbankan karena menyadari bahwa bank merupakan jantung utama dari perputaran roda ekonomi negara.
Pilihan pada sektor perbankan ini sejalan dengan aksi terbarunya yang menyerok saham bank besar saat IHSG anjlok pekan ini. Sektor ini dinilai memiliki ketahanan yang kuat terhadap gejolak ekonomi dan rutin membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya setiap tahun.
4. Jurus Sabar Tingkat Dewa
Ciri khas yang paling fenomenal dari Lo Kheng Hong adalah strategi "tidur" atau kekuatan kesabaran tingkat tinggi investor. Setelah melakukan riset mendalam dengan membaca Laporan Tahunan sampai tuntas ia akan membeli saham tersebut dalam jumlah besar lalu membiarkannya saja.
Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga harian yang seringkali membuat investor pemula menjadi panik dan stres. Prinsipnya adalah membiarkan perusahaan bekerja keras untuk menghasilkan laba baginya sampai pasar akhirnya menyadari nilai asli perusahaan tersebut suatu saat nanti.
Proses menunggu harga pasar menyesuaikan dengan nilai fundamental ini bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun lamanya. Kesabaran inilah yang membedakan investor sukses dengan spekulan yang hanya mengejar keuntungan instan namun seringkali berakhir dengan kerugian yang sangat menyakitkan.
5. Hindari Saham Gorengan
Lo Kheng Hong sangat anti menyentuh saham-saham "gorengan" yang pergerakan harganya tidak didasari oleh kinerja fundamental yang jelas. Ia menghindari perusahaan yang harganya naik drastis hanya karena manipulasi bandar atau rumor pasar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya sama sekali.
Ia lebih memilih untuk berinvestasi pada perusahaan yang memiliki aset riil yang besar dan terlihat wujud fisiknya. Selain itu perusahaan tersebut harus mampu mencatatkan laba bersih yang terus bertumbuh secara konsisten dari tahun ke tahun operasionalnya di Indonesia.
Dengan menghindari saham spekulatif ia menjaga modalnya tetap aman dari risiko kebangkrutan atau delisting dari bursa efek Indonesia. Filosofi ini mengajarkan investor muda untuk tidak terjebak dalam permainan judi saham yang seringkali menjanjikan kekayaan cepat namun semu belaka.

Alvin Bagaskara
Editor
