Tren Ekbis

Bank Mandiri vs BRI: Beda Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2025

  • Konsensus ekonom prediksi pertumbuhan ekonomi RI 2025 hanya 5,1%, di bawah target APBN. Menkeu Purbaya sinyalkan realisasi meleset jelang rilis BPS.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia - Panji 4.jpg
Nampak suasana pembangunan serta gedung-gedung pusat bisnis dan perkantoran di kawasan Jakarta Pusat, Senin 26 Juni 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Konsensus para ekonom dan analis memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 hanya akan mencapai angka 5,1% secara tahunan. Angka median ini berada sedikit di bawah target optimis yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar 5,2%.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga memberikan sinyal bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi kemungkinan besar akan meleset dari target pemerintah. Ia memperkirakan angka pertumbuhan berada di kisaran 5,1% namun tetap meminta publik menunggu rilis resmi data dari otoritas statistik pusat.

Badan Pusat Statistik atau BPS dijadwalkan akan mengumumkan angka resmi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 pada Kamis, 5 Februari 2026. Menjelang pengumuman tersebut berbagai institusi keuangan global maupun domestik telah merilis prediksi mereka dengan rentang angka yang cukup bervariasi.

1. Rentang Prediksi Ekonom

Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg estimasi median pertumbuhan ekonomi berada di level 5,1%. Prediksi paling optimis datang dari ekonom Citigroup Securities Indonesia Helmi Arman yang menjadi satu-satunya pihak yang memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh hingga 5,3% pada tahun lalu.

Sebaliknya prediksi terendah datang dari Enrico Tanuwidjaja dari Bank UOB Indonesia yang memperkirakan pertumbuhan hanya mencapai 4,7%. Angka pesimis lainnya sebesar 4,8% datang dari Moody’s Analytics Singapore serta 4,9% dari CIMB Ltd dan JP Morgan Chase Bank.

Sementara itu sejumlah ekonom dari Bank Maybank Indonesia, Bank Permata, dan Mirae Asset Sekuritas masih memegang proyeksi sesuai target pemerintah di 5,2%. Perbedaan pandangan ini menunjukkan adanya dinamika tantangan ekonomi global dan domestik yang dinilai berbeda oleh setiap analis riset.

2. Proyeksi Bank BUMN

Menariknya dua bank pelat merah terbesar di Indonesia memiliki proyeksi yang sedikit berbeda terkait kinerja ekonomi tahun 2025. Tim ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkirakan ekonomi nasional mampu tumbuh sebesar 5,23% atau sedikit melampaui target yang ditetapkan pemerintah.

Di sisi lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memiliki pandangan yang sedikit lebih konservatif dibandingkan saudaranya sesama BUMN. BRI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 hanya akan berada di level 5,17% mendekati estimasi median pasar.

Perbedaan tipis dalam proyeksi kedua bank raksasa ini mencerminkan betapa ketatnya realisasi pertumbuhan ekonomi nasional tahun lalu. Pasar kini menanti pembuktian dari data resmi BPS untuk melihat proyeksi bank BUMN mana yang paling mendekati angka realisasi di lapangan nanti.

3. Sinyal Menteri Keuangan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mengakui adanya peluang pertumbuhan ekonomi 2025 berada di bawah target APBN. Dalam pernyataannya usai acara Indonesia Economic Summit ia menyebut angka 5,1% sebagai kemungkinan realisasi yang paling masuk akal terjadi saat ini.

"Kalau tebakan saya 5,2%, tapi 5,1% lah. Ada kemungkinan di bawah target APBN tetapi kita lihat nanti," ujarnya. Meski demikian Purbaya menegaskan bahwa dirinya tidak akan mengintervensi BPS dan menyerahkan sepenuhnya penghitungan angka kepada lembaga statistik independen tersebut.

Sikap realistis Bendahara Negara ini memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa pemerintah menyadari tantangan ekonomi yang terjadi sepanjang tahun lalu. Namun ia tetap optimis bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian global di masa mendatang.

4. Optimisme Ekonomi 2026

Meskipun kinerja 2025 diprediksi melambat Purbaya menyuarakan optimisme tinggi untuk prospek ekonomi tahun 2026 yang diyakini akan melesat kencang. Ia menunjuk sejumlah indikator dini yang menunjukkan perbaikan signifikan di awal tahun seperti indeks PMI Manufaktur yang kembali ke zona ekspansif manufaktur.

PMI Manufaktur Indonesia tercatat naik ke level 52,3 pada Januari 2026 setelah sebelumnya tertahan di angka 51. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa aktivitas industri pengolahan mulai bergeliat kembali dan siap memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan produk domestik bruto nasional kedepan.

Indikator positif lainnya terlihat dari setoran pajak pada bulan Januari 2026 yang diklaim tumbuh impresif sebesar 30% secara tahunan. "Jadi bagus keadaannya, ekonominya lebih bagus," tegas Purbaya meyakinkan publik bahwa mesin pertumbuhan ekonomi sudah mulai panas di awal tahun ini.

5. Keyakinan Kemenko Perekonomian

Berbeda dengan nada hati-hati Menkeu pihak Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian justru masih memegang optimisme target 5,2% bisa tercapai. Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyatakan keyakinannya bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi 2025 tidak akan jauh dari target yang telah ditetapkan sebelumnya.

"Kami yakin mudah-mudahan di 2025 masih 5,2% walaupun beberapa pengamat menyampaikan 4,9%," ujar Susiwijono. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah pusat masih memiliki harapan bahwa konsumsi rumah tangga dan belanja negara di akhir tahun mampu mendongkrak angka pertumbuhan final.

Untuk tahun 2026 pemerintah memasang target yang jauh lebih ambisius dengan pertumbuhan minimal sebesar 5,4%. Keyakinan ini didasari oleh perbaikan iklim investasi dan reformasi struktural yang diharapkan mampu memacu ekonomi tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2025.