Gula Bisa Rusak Gigi, Begini Prosesnya
- Proses kerusakan gigi dimulai hanya beberapa menit setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman manis.

Muhammad Imam Hatami
Author


Foto: Boston Globe
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID - Konsumsi gula tambahan selama ini kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, obesitas, dan penyakit jantung.
Para ahli kesehatan mengingatkan, dampak gula tidak hanya menyerang organ dalam, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan gigi dan mulut.
Dokter gigi menegaskan kebiasaan mengonsumsi gula berlebihan menjadi salah satu penyebab utama gigi berlubang yang masih banyak dialami masyarakat, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Bukan Jenis Gula, tapi Kebiasaan Konsumsinya
Menurut para ahli, perdebatan mengenai jenis gula, apakah gula tebu, sirup jagung, sirup maple, atau madu sering kali mengaburkan persoalan utama. Faktanya, semua jenis gula tambahan berpotensi merusak gigi jika dikonsumsi secara berlebihan dan terlalu sering.
Yang menjadi masalah bukanlah asal gula tersebut, melainkan bagaimana dan seberapa sering gula dikonsumsi dalam keseharian. Pola makan modern yang dipenuhi minuman manis, camilan, dan makanan olahan membuat gigi terpapar gula hampir sepanjang hari.
Steven J. Kats, seorang dokter gigi, menjelaskan proses kerusakan gigi dimulai hanya beberapa menit setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman manis.
“Beberapa menit setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis, plak lapisan lengket bakteri di mulut akan mengubah gula menjadi asam,” jelasnya, kala menerangkan proses gula merusak gigi, dikutip Antara, Rabu, 7 Januari 2026.
Baca juga : Gen Z Hati-Hati! Tahun 2026 Jangan Sampai Tercekik Paylater
Asam yang dihasilkan bakteri ini menyebabkan penurunan pH di dalam mulut. Ketika pH turun, mineral penting yang melindungi enamel gigi mulai larut, membuat gigi kehilangan lapisan pertahanannya secara perlahan.
Kats menekankan bahwa risiko gigi berlubang tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya gula dalam satu kali konsumsi, melainkan frekuensi paparan gula terhadap gigi. Semakin sering gigi terpapar gula, semakin sering pula enamel mengalami serangan asam.
Dalam kondisi normal, air liur berfungsi menetralkan asam dan membantu memperbaiki enamel. Namun, jika paparan gula terjadi berulang tanpa jeda, proses pemulihan ini tidak berjalan optimal.
Bahaya Minuman Manis yang Diseruput Sepanjang Hari
Kebiasaan menyeruput minuman manis seperti soda, teh manis, atau kopi bergula dalam waktu lama disebut sebagai salah satu pola konsumsi paling berisiko.
“Jika Anda menyesap soda manis sepanjang hari, gigi terus-menerus terpapar gula, sehingga air liur alami yang melawan bakteri tidak dapat membersihkannya,” ujar Steven.
Kondisi ini membuat mulut berada dalam suasana asam berkepanjangan, yang mempercepat pengikisan enamel dan meningkatkan risiko gigi berlubang secara signifikan.
Sebagai langkah pencegahan, para ahli menyarankan agar makanan atau minuman manis dikonsumsi dalam satu waktu makan, bukan sedikit demi sedikit sepanjang hari. Dengan begitu, air liur memiliki kesempatan untuk bekerja maksimal dalam menetralkan asam setelah makan.
Pendekatan ini dinilai lebih aman dibandingkan membatasi gula dalam jumlah kecil namun dikonsumsi terus-menerus.
Kesalahan umum yang sering dilakukan adalah langsung menyikat gigi setelah mengonsumsi makanan manis. Katz mengingatkan bahwa setelah paparan asam, enamel gigi berada dalam kondisi melunak.
Baca juga : Morgan Stanley Taksir Harga Emas Tembus Rp2,58 Juta!
Menyikat gigi dalam kondisi ini justru dapat mempercepat pengikisan enamel dan memperburuk kerusakan jangka panjang.
Sebagai alternatif, Katz menyarankan langkah sederhana namun efektif. “Bilas dengan air untuk membantu membersihkan gula dan asam, dan tunggu sekitar 30 hingga 60 menit sebelum menyikat gigi,” jelasnya.
Waktu tunggu tersebut memungkinkan air liur menetralkan asam dan membantu proses pengerasan kembali enamel gigi secara alami.
Para ahli menekankan bahwa menjaga kesehatan gigi tidak hanya bergantung pada kebiasaan menyikat gigi, tetapi juga pada pengelolaan pola makan.
Mengurangi frekuensi konsumsi gula, menghindari kebiasaan menyeruput minuman manis, serta menerapkan waktu menyikat gigi yang tepat menjadi langkah penting dalam mencegah kerusakan gigi sejak dini.
Dengan perubahan kebiasaan sederhana, risiko gigi berlubang akibat gula dapat ditekan secara signifikan, sekaligus mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Amirudin Zuhri
Editor
