Tren Leisure

AI Bikin Sulit Cari Kerja, Aplikasi Kencan Jadi Solusi

  • Para pencari kerja yang putus asa meninggalkan LinkedIn dan beralih ke sumber jaringan baru yaitu aplikasi kencan.
Menggunakan aplikasi kencan untuk mencari pekerjaan.
Menggunakan aplikasi kencan untuk mencari pekerjaan. (freepik.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Para pencari kerja yang putus asa meninggalkan LinkedIn dan beralih ke sumber jaringan baru yaitu aplikasi kencan.

Menurut survei ResumeBuilder.com terhadap 2.225 pengguna situs kencan di AS, sekitar sepertiga pengguna aplikasi kencan mengatakan bahwa mereka mencari pasangan berdasarkan prospek mendapatkan bantuan karier dari pasangan tersebut.

Sebanyak 66% responden survei mengatakan mereka mencari pengguna yang bekerja di perusahaan yang ingin mereka masuki, sementara 75% sengaja mencocokkan diri dengan orang-orang yang menempati posisi tertentu yang ingin mereka isi.

“Networking menjadi satu-satunya cara bagi orang-orang untuk bisa melewati kesulitan luar biasa dalam mencari pekerjaan saat ini,” kata Stacie Haller, penasihat karier utama ResumeBuilder.com, kepada Bloomberg.

Dilansir dari Gizmodo, meskipun networking telah lama menjadi kata kunci dalam pengembangan karier, meningkatnya ketergantungan pada AI untuk mengotomatiskan tahap awal proses seleksi membuat praktik ini menjadi semakin penting.

Sistem AI dapat menghemat banyak waktu perusahaan dengan memindai resume dan surat lamaran pelamar dalam hitungan detik, tetapi proses ini sering kali dipenuhi bias yang melekat dalam algoritmanya. Pada akhirnya, AI bukanlah alat terbaik untuk menyeleksi kandidat yang paling berkualitas.

Namun, perusahaan tetap mengandalkan teknologi ini karena belum menemukan cara yang lebih murah untuk menangani jumlah lamaran yang sangat banyak untuk satu lowongan, yang disebabkan oleh tingginya tingkat pengangguran serta kemudahan mengirimkan lamaran berkat platform seperti LinkedIn, dan tentu AI itu sendiri.

Jadi, tidak peduli seberapa berkualitas seseorang untuk sebuah pekerjaan, ada kemungkinan besar algoritma komputer akan langsung menolak lamaran di tahap pertama atau kedua pencarian kerja, bahkan sebelum dilihat oleh manusia.

Inilah mengapa networking menjadi penting, karena referensi semakin menjadi satu-satunya cara yang pasti agar resume kamu benar-benar diperiksa oleh manusia.

Dilansir dari New York Post, melalui aplikasi seperti Tinder, Bumble, dan Facebook Dating, pengguna mencari pasangan yang bekerja di posisi tertentu atau di perusahaan yang diinginkan, hal ini karena banyak di antaranya mengaku termotivasi oleh sulitnya kondisi pasar kerja.

Tiffany Chau, mahasiswa di California College of the Arts, memanfaatkan profil Hinge-nya untuk mencari koneksi yang relevan saat ia tengah mencari magang di bidang desain produk.

Mencari pekerjaan semakin sulit. (freepik.com)

Menurut laporan Bloomberg, salah satu kencannya membawanya ke pesta Halloween di mana dia bertemu seseorang yang baru saja menjalani wawancara di Accenture dan mendapatkan beberapa kiat dari orang tersebut.

“Bagi saya, pendekatan saya terhadap aplikasi kencan adalah sebagai platform jejaring sosial lain seperti platform lainnya, seperti Instagram atau LinkedIn,” kata Chau.

Para pencari kerja semakin frustrasi dengan pilihan yang lebih tradisional, karena situs seperti LinkedIn menerima jumlah lamaran yang sangat banyak, sementara banyak perusahaan menggunakan bot AI untuk menyaring resume.

Sementara itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,6% pada November 2025, level tertinggi sejak September 2021, menurut Bureau of Labor Statistics. Bagi pekerja dengan gelar sarjana, tingkat pengangguran meningkat menjadi 2,9% dari sebelumnya 2,5% pada tahun sebelumnya.

Pasar tenaga kerja juga menunjukkan beberapa tanda kelemahan mendasar lainnya, seperti pertumbuhan upah yang melambat, meningkatnya jumlah orang yang menganggur lebih dari enam bulan, dan tingginya tingkat pengangguran di kalangan pemuda berusia 20 hingga 24 tahun.

Alex Xiao, yang baru berusia 18 tahun, adalah direktur Ditto AI, sebuah startup aplikasi kencan untuk mahasiswa.

Xiao, mahasiswa jurusan analitik di University of California, Berkeley, mengatakan bahwa ia beberapa kali mendapatkan kecocokan (match) secara online dengan orang-orang yang sedang mencari pekerjaan, bukan kencan.

“Banyak koneksi pada dasarnya bermuara pada, ‘Bagaimana kamu bisa membantu saya mengembangkan karier?’” ujarnya kepada Bloomberg. Ia menambahkan, beberapa orang langsung meminta pekerjaan kepadanya setelah melihat jabatannya.

Tren terbaru dalam mencari pekerjaan ini terlihat di semua kelompok usia dan menurut survei, memberikan hasil yang cukup berhasil.

Di antara mereka yang menggunakan aplikasi kencan untuk mencari pekerjaan, 88% mengaku berhasil menjalin koneksi dengan seseorang untuk keperluan profesional.

Bagi sebagian besar, hal ini berarti mendapatkan bimbingan atau saran karier, mendapat kesempatan wawancara, memperoleh informasi lowongan, atau mendapatkan referensi. Bahkan, 37% mengatakan mereka berhasil menerima tawaran pekerjaan melalui aplikasi tersebut.

Hanya 10% yang mengatakan mereka tidak melihat satupun dari hasil tersebut. Seorang peserta survei menyebut praktik pencarian kerja baru ini “aneh tapi efektif,” sementara yang lain berkata, “Cara ini berhasil, tapi kamu perlu keberanian untuk bertanya.”

“Ini benar-benar aneh,” kata responden ketiga. “Rasanya sistemnya sangat rusak sehingga orang-orang harus melakukan hal seperti ini.”