Tren Inspirasi

Jika Harga BBM Naik, Dapatkah Sepeda Jadi Solusi?

  • Harga BBM naik, saatnya beralih ke sepeda? Studi ungkap potensi ekonomi hingga Rp29 triliun jika Indonesia serius kembangkan transportasi ramah lingkungan.
image.jpg
Bersepeda bersama keluarga bisa menjadi kebiasaan baru apabila kebijakan empat hari kerja diterapkan. (Time Out)

SOLO, TRENASIA.ID — Rencana penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi berlaku mulai 1 April 2026 menjadi sinyal bagi masyarakat untuk mulai mempertimbangkan alternatif transportasi yang lebih hemat dan berkelanjutan.

Di tengah tekanan biaya energi, sepeda kembali dilirik. Bukan sekadar gaya hidup sehat, tetapi juga sebagai solusi ekonomi. Pengalaman negara seperti Jerman menunjukkan bahwa kebijakan pro-sepeda tidak hanya berdampak pada mobilitas, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi yang signifikan.

Nilai Ekonomi Sepeda

Penelitian terbaru mengungkap bahwa kebijakan bersepeda di Jerman menghasilkan nilai ekonomi mencapai:

-141,7–144,7 miliar Euro (2024)

-Setara lebih dari Rp2.400 triliun

Temuan ini dipresentasikan oleh Sukma Larastiti, peneliti dari Pusat Studi Mobilitas Lestari Transportologi, dalam seminar bertajuk “Prioritizing Cycling Policy in Indonesia: Could Cycling Provide Economic Benefits for Cities?” belum lama ini.

Menurut Sukma, dampak ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari satu sektor, melainkan kombinasi efek langsung dan tidak langsung.  “Capaian Jerman dapat menjadi panduan Indonesia dalam menyusun kebijakan yang lebih ramah pesepeda,” ujar Sukma.

Kontribusi utama sektor sepeda di Jerman:

-Kesehatan masyarakat: 68,3 miliar Euro

-Industri sepeda: 47 miliar Euro

-Pariwisata: 22–25 miliar Euro

-Potensi Indonesia: Bisa Tembus Rp29 Triliun

Dengan pendekatan proyeksi berbasis data Jerman, Indonesia diperkirakan berpotensi meraih:

-1,4–1,5 miliar Euro

-Setara sekitar Rp29 triliun

Namun, angka tersebut masih bersifat estimasi, bukan gambaran kondisi riil saat ini. “Mulai dari jumlah pengguna, kondisi infrastruktur, hingga aktivitas ekonomi terkait sepeda. Data-data tersebut sebagian besar tidak tersedia atau sulit diakses publik,” tutur Sukma.

Tantangan Utama: Infrastruktur hingga Persepsi

Meski potensinya besar, pengembangan sepeda di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan mendasar. Dari sisi keselamatan, pesepeda masih harus berbagi jalan dengan kendaraan bermotor tanpa perlindungan memadai.

“Para pesepeda menghadapi ancaman keselamatan tinggi akibat harus berbagi jalan dengan kendaraan bermotor berkecepatan tinggi, tanpa didukung infrastruktur memadai. Persoalan keamanan parkir sepeda juga menjadi hambatan tersendiri,” ujar Lala, sapaan akrab Sukma.

Dari sisi kebijakan, pembangunan jalur sepeda dinilai belum optimal. “Jalur-jalur ini hanya tersedia di titik-titik tertentu dan belum tentu menjawab kebutuhan serta menjamin keselamatan penggunanya.”

Investasi Jadi Pembeda Besar Indonesia vs Jerman

Perbedaan hasil antara Jerman dan Indonesia tidak lepas dari kesenjangan investasi.

Perbandingan investasi sepeda:

Jerman:

5,4 Euro per kapita/tahun

Target 30 Euro per kapita pada 2030

Indonesia:

Hanya 0,01–0,02 Euro per kapita/tahun

Dampaknya terlihat jelas pada infrastruktur:

Jerman: 58.421 km jalur sepeda

Indonesia: 567,2 km (di 21 kota)

Masalah Lain: Sepeda Masih Dipandang “Minoritas”

Secara politik dan ekonomi, sepeda belum menjadi prioritas. Menurut Lala, pesepeda kerap dianggap tidak memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, berbeda dengan industri otomotif yang jelas menyumbang ke PDB dan pajak. “Ketiadaan dokumentasi mengenai nilai ekonomi bersepeda membuat pengembangan sektor ini cenderung diabaikan,” kata Lala.

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Pengalaman Jerman menunjukkan bahwa keberhasilan kebijakan sepeda tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pendekatan menyeluruh:

-Kebijakan berbasis kebutuhan manusia.

-Dukungan politik yang kuat.

-Integrasi dengan transportasi publik.

-Sistem data yang solid.

Jerman sendiri menguatkan kebijakan ini melalui Nationaler Radverkehrsplan atau Rencana Nasional Bersepeda.

Momentum BBM Naik: Saatnya Ubah Cara Pandang

Rencana kenaikan harga BBM dapat menjadi momentum untuk mendorong perubahan perilaku mobilitas masyarakat. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang komprehensif, sepeda sulit berkembang menjadi solusi utama.

Lala menegaskan, kunci utamanya adalah integrasi dalam sistem transportasi nasional. “Hal itu disertai dengan sistem pencatatan dan pemantauan perkembangan sepeda secara berkelanjutan. Dengan kata lain, sepeda perlu ditempatkan sebagai bagian integral dalam kebijakan transportasi publik Indonesia.”

Baca Juga: Belgia Bayar Pekerja yang Naik Sepeda ke Kantor

Di tengah tekanan biaya hidup akibat energi, sepeda tidak lagi sekadar alternatif murah, tetapi berpotensi menjadi strategi ekonomi jangka panjang. Pengalaman Jerman menunjukkan bahwa dengan kebijakan yang tepat, sepeda bisa menciptakan nilai ekonomi besar, dari kesehatan hingga industri.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan pada potensi, melainkan pada keberanian untuk menjadikan sepeda sebagai bagian utama dari sistem transportasi masa depan.