Tren Global

Di Kala Ancaman PD III Meluas, Seberapa Aman Indonesia?

  • Analisis geopolitik menunjukkan Indonesia relatif aman dari serangan langsung jika PD III terjadi, namun risiko ekonomi dan energi tetap mengintai.
Asap mengepul di atas Teheran pada 28 Februari 2026.
Asap mengepul di atas Teheran pada 28 Februari 2026. (Fatemeh Bahrami/Anadolu via Getty Images)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Isu potensi Perang Dunia III (PD III) kembali mencuat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia.  berdasarkan analisis geopolitik, data militer internasional, serta sejarah kebijakan luar negeri, Indonesia dinilai relatif aman dari serangan militer langsung apabila konflik global benar-benar pecah.

Meski demikian, Indonesia tetap berada dalam pusaran dampak tidak langsung, terutama dari sisi ekonomi, energi, dan stabilitas kawasan. Sejak era Presiden Soekarno, Indonesia menganut politik luar negeri bebas dan aktif. Prinsip ini kemudian mengantarkan Indonesia menjadi salah satu pendiri Gerakan Non-Blok.

Artinya, Indonesia tidak tergabung dalam aliansi militer besar seperti NATO dan tidak memiliki pakta pertahanan ofensif global yang mengikat dalam konflik negara adidaya.

Dalam banyak simulasi konflik global, negara-negara non-blok cenderung tidak menjadi target serangan awal, karena tidak diposisikan sebagai lawan langsung dalam rivalitas kekuatan besar seperti Amerika Serikat, China, atau Rusia.

Baca juga : Konflik AS-Iran, Harga Minyak dan Daya Beli Terguncang

Bukan Target Strategis

Dalam berbagai kajian strategis internasional, dilansir analisis lembaga seperti RAND Corporation dan Center for Strategic and International Studies, target utama dalam konflik global umumnya adalah Negara pemilik senjata nuklir, basis militer utama kekuatan besar, dan sekutu garis depan dalam konflik.

Indonesia tidak memiliki senjata nuklir, tidak menjadi tuan rumah pangkalan militer asing permanen, serta bukan sekutu militer formal dalam konflik besar global. Karena itu, risiko serangan langsung terhadap Indonesia dikategorikan rendah dalam skenario perang global skala penuh.

Posisi Geografis

Secara geografis, Indonesia memang tidak berada di pusat “titik panas” global seperti Eropa Timur atau Timur Tengah. Indonesia juga tidak berada di Semenanjung Korea atau wilayah konflik Ukraina.

Namun, dinamika Indo-Pasifik tetap perlu dicermati. Di selatan Indonesia terdapat Australia yang merupakan bagian dari pakta pertahanan AUKUS bersama Amerika Serikat dan Inggris. Dalam skenario konflik AS - China, Australia berpotensi menjadi basis logistik dan militer utama Barat.

Di sisi utara, ketegangan di Laut China Selatan juga menjadi variabel strategis. Meski Indonesia bukan pihak dalam sengketa utama, kedekatan geografis menjadikan wilayahnya berada di “tengah papan catur global”.

Dengan kata lain, Indonesia bukan zona aman mutlak, melainkan zona relatif aman dengan risiko laten.

Indeks Perdamaian Global

Dikutip laporan Institute for Economics & Peace melalui Global Peace Index sebelum 2025, Indonesia tercatat berada pada kategori menengah-atas dalam tingkat keamanan global. 

Posisi ini menunjukkan bahwa stabilitas domestik Indonesia relatif terjaga dibanding banyak negara di kawasan konflik aktif seperti Timur Tengah atau Eropa Timur. Penilaian tersebut didasarkan pada indikator seperti tingkat konflik internal, stabilitas politik, belanja militer, hingga hubungan diplomatik dengan negara lain.

Dalam berbagai simulasi konflik global, negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam lebih sering diproyeksikan sebagai wilayah terdampak tidak langsung, bukan target militer utama. 

Artinya, potensi gangguan yang muncul cenderung berupa tekanan ekonomi, disrupsi perdagangan, dan fluktuasi energi, bukan serangan militer langsung. Faktor non-blok, tidak adanya aliansi pertahanan ofensif global, serta posisi geografis yang bukan garis depan konflik menjadi alasan utama kawasan ini dinilai relatif lebih aman secara strategis.

Jika PD III benar-benar terjadi, ancaman terbesar bagi Indonesia justru bukan serangan bom atau invasi militer, melainkan gangguan rantai pasok global, krisis energi dan pangan, lonjakan inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, disrupsi jalur pelayaran internasional

Data dari U.S. Energy Information Administration menunjukkan Indonesia masih memiliki ketergantungan pada impor produk minyak. Gangguan geopolitik besar dapat memicu lonjakan harga energi yang langsung berdampak pada perekonomian domestik.

Ketergantungan pada jalur perdagangan laut internasional juga membuat stabilitas kawasan Indo-Pasifik sangat krusial bagi ekonomi nasional.

Baca juga : Skenario Jika Harga Minyak Naik, Apakah APBN 2026 Kuat?

Peran Warga Saat Krisis

Menghadapi potensi krisis global, yang dibutuhkan bukan kepanikan, melainkan kesiapsiagaan strategis. Ketahanan nasional tidak hanya dibangun oleh negara, tetapi juga oleh warga dari level paling dasar.

Berikut beberapa langkah konkret yang bisa kita lakukan,

Penguatan Ekonomi Lokal

  • Prioritaskan membeli produk dalam negeri dan mendukung UMKM sekitar.
  • Kurangi ketergantungan pada barang impor yang rentan terganggu rantai pasoknya.
  • Jika memiliki usaha kecil, mulai diversifikasi produk dan bangun jaringan pelanggan tetap.

Semakin kuat ekonomi lokal, semakin tahan masyarakat menghadapi gejolak global seperti lonjakan harga atau kelangkaan barang.

Ketahanan Pangan Rumah Tangga

  • Miliki stok bahan pokok secukupnya untuk kebutuhan beberapa minggu, tanpa panic buying.
  • Manfaatkan lahan sempit untuk menanam sayuran sederhana (cabai, kangkung, tomat).
  • Kurangi pemborosan makanan dan atur konsumsi secara bijak.

Langkah kecil ini bisa menjadi bantalan awal ketika distribusi pangan terganggu.

Literasi Informasi

Di era digital, krisis sering diperparah oleh hoaks dan disinformasi. oleh karena itu yang perlu kita lakukan adalah sebagai berikut,

  • Verifikasi berita sebelum membagikan.
  • Ikuti sumber resmi pemerintah dan media kredibel.
  • Hindari narasi provokatif berbasis SARA yang dapat memecah belah.

Perang modern bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal informasi.

Solidaritas Komunitas

  • Aktif dalam kegiatan RT/RW atau forum warga.
  • Bangun komunikasi yang baik dengan tetangga.
  • Dukung organisasi sosial atau relawan lokal.

Dalam situasi darurat, bantuan pertama hampir selalu datang dari lingkungan terdekat, bukan dari pusat kekuasaan.

Kesiapsiagaan Pribadi

  • Pelajari dasar-dasar P3K dan tanggap darurat.
  • Ketahui jalur evakuasi dan potensi risiko di lingkungan sekitar.
  • Siapkan dokumen penting dalam satu tempat aman dan mudah diakses.

Kesiapan individu memperkuat kesiapan kolektif.