Rupiah Melemah, Ancam Daya Beli Masyarakat Jelang Idulfitri
- Rupiah melemah ke Rp17.019 per dolar AS. Kenaikan harga impor berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama menjelang Idulfitri saat konsumsi meningkat.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin, 9 Maret 2026, rupiah tercatat berada di level Rp17.019 per dolar AS atau melemah 0,56%. Kondisi tersebut menurun dibandingkan penutupan pada Jumat pekan lalu, yang berada pada posisi Rp16.925 per dolar Amerika Serikat (AS).
Nilai tukar tersebut juga berhasil melampaui pelemahan yang pernah terjadi pada pandemi Covid-19 di Maret 2020, di kisaran Rp16.600–Rp16.700 per dolar AS. Kondisi geopolitik yang terus memanas dan tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia menjadi salah satu penyebab utama dari melemahnya nilai tukar rupiah.
Momentum ini menjadi sinyal keras bagi Bank Indonesia (BI) untuk fokus menempatkan stabilisasi rupiah sebagai prioritas utama dalam kebijakan moneter. Bersamaan dengan momentum menjelang Idulfitri, apakah minat dan daya beli masyarakat tetap terjaga?
Melansir dari Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial Dan Sains “Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar Rupiah dan Penyaluran Dana Zakat terhadap Daya Beli Masyarakat di Sumatera Utara”, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap perekonomian domestik, terutama melalui kenaikan harga barang di dalam negeri.
Ketika rupiah terdepresiasi, biaya impor bahan baku, pangan, maupun barang konsumsi dari luar negeri cenderung meningkat. Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya diterapkan oleh pelaku usaha ke harga jual produk di pasar domestik. Dampaknya, masyarakat harus mengeluarkan pengeluaran yang lebih besar untuk membeli barang yang sama dibandingkan sebelumnya.
Tekanan harga ini biasanya semakin terasa pada periode dengan tingkat konsumsi tinggi, seperti menjelang Idulfitri. Pada momen tersebut, permintaan masyarakat terhadap berbagai kebutuhan meningkat, mulai dari bahan pangan, pakaian, hingga kebutuhan transportasi dan pariwisata.
Jika kenaikan permintaan ini terjadi bersamaan dengan tekanan harga akibat pelemahan rupiah dan inflasi, maka beban pengeluaran rumah tangga dapat meningkat cukup signifikan. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat harus mengatur ulang prioritas belanja agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pokok.
Pada sektor ekonomi, daya beli masyarakat menggambarkan kemampuan masyarakat dalam membelanjakan pendapatannya untuk memperoleh barang dan jasa yang dibutuhkan. Ketika terjadi inflasi atau kenaikan harga secara umum, nilai uang yang dimiliki masyarakat secara riil akan menurun, sehingga kemampuan membeli barang juga melemah.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa inflasi memiliki pengaruh signifikan terhadap daya beli karena kenaikan harga barang dan jasa mendorong masyarakat mengurangi konsumsi atau menunda pembelian tertentu. Dalam konteks pelemahan rupiah, tekanan terhadap daya beli dapat muncul secara tidak langsung melalui kenaikan harga barang impor maupun produk domestik yang menggunakan bahan baku dari luar negeri.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor untuk beberapa komoditas, seperti pangan tertentu, energi, atau bahan industri, membuat perubahan nilai tukar cukup berpengaruh terhadap struktur biaya produksi. Ketika biaya produksi meningkat, harga di tingkat konsumen juga cenderung ikut naik.
Jika kondisi ini terjadi menjelang Idulfitri, dampaknya bisa semakin terasa karena periode tersebut biasanya menjadi puncak konsumsi rumah tangga dalam setahun. Masyarakat cenderung meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan perayaan, mulai dari makanan khas Lebaran hingga pakaian baru.
Namun, ketika harga-harga meningkat sementara pendapatan relatif tidak berubah, sebagian rumah tangga berpotensi menahan konsumsi atau beralih ke produk dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, penurunan daya beli juga dapat berdampak pada aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Ketika masyarakat menahan belanja akibat tekanan harga, perputaran ekonomi di sektor perdagangan dan jasa dapat ikut melambat. Oleh karena itu, stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang periode konsumsi tinggi seperti Idulfitri.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
