Tren Ekbis

Potensi Banjir Kian Tinggi, Giant Sea Wall Siap Digarap 2026

  • Indonesia bersiap groundbreaking proyek Giant Sea Wall Rp1.297 triliun, solusi iklim dan banjir di Pantura Jawa, sambil cari pendanaan global.
Tanggapi-Giant-Sea-Wall-Guru-Besar-IPB-University-Antara-Harapan-Perlindungan-Pesisir-dan-Tantangan-Ek (1).jpg
Giant Sea Wall (IPB University)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Menanggapi cuaca ekstrem yang menyebabkan banyak wilayah Jakarta terendam banjir, pemerintah pusat mulai memfokuskan rencana mega proyek “Giant Sea Wall”. Fokus ini dilakukan sebagai respons terhadap ancaman rob, abrasi, dan kenaikan permukaan air laut di pesisir utara Jawa. 

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan Pemerintah Provinsi DKI siap melaksanakan penugasan konstruksi tanggul laut sepanjang 19 kilometer di wilayah kota, meskipun waktu pasti pelaksanaan masih menunggu arahan pusat.

“Rencana groundbreaking nya itu mulai bulan September tahun ini,” ucap Pramono, dikutip Selasa, 27 Januari 2026.

Ia menjelaskan Jakarta sendiri mendapat jatah pembangunan giant sea wall sepanjang 19 kilometer (km). Bertambah 7 km dari rencana awal yang hanya sepanjang 12 km. Proyek ini merupakan rencana yang telah direncanakan sejak lama untuk melindungi wilayah pesisir yang padat penduduk.

Saat ini, Pramono mengatakan pihaknya tengah menggarap tanggul laut lepas pantai atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) di Utara Jakarta. Sebelumnya, Badan Otorita Pengelola (BOP) tanggul laut Pantura sedang menyusun rencana konstruksi tanggul laut yang akan membentang di sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura) sepanjang 535 km.

Presiden Prabowo Subianto pernah menyinggung bahwa infrastruktur tersebut diperlukan untuk menahan penurunan muka tanah, di wilayah pesisir Jawa. Prabowo juga menjelaskan proyek ini akan digarap guna menyelamatkan 60% penduduk yang berada di Pulau Jawa.

"Ini untuk menyelamatkan 50 juta penduduk, air laut naik 5 cm setahun, harus segera kita selamatkan," jelasnya dalam Rapat Terbatas bersama Kabinet Merah Putih di Jakarta, dikutip Selasa, 27 Januari 2206.

Skema Pendanaan 

Rencananya, pemerintah akan mengalokasikan dana untuk proyek ini sebesar Rp1.297 triliun. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang juga ditunjuk sebagai dewan pengarah dari BOP menyatakan pembiayaan proyek tersebut akan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). 

Hal ini mengingat pelaksanaannya melibatkan sejumlah provinsi dan kabupaten/kota. “Dapat saya jelaskan di sini secara umum tentu ada yang merupakan ataupun sumber penganggaran APBN. APBN atau pemerintah ya pemerintah tentu APBN dan APBD karena nanti akan melibatkan sejumlah provinsi dan juga kabupaten kota,” ujar AHY, dikutip Selasa, 27 Januari 2026.

Meski demikian, AHY menegaskan pendanaan proyek tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah. Pemerintah juga menyiapkan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) atau public private partnership (PPP) untuk mendukung pembiayaan.

Ia menambahkan, proyek ini tidak hanya berfungsi sebagai tanggul pengendali, tetapi juga dirancang untuk memperkuat konektivitas wilayah serta mendorong peningkatan nilai ekonomi kawasan pesisir.

“Jadi kami pastikan ini menjaga lingkungan tapi dengan secara-secara sekaligus kita juga berupaya untuk meningkatkan nilai ekonomi pantura,” tuturnya.

Referensi Proyek Sejenis di Dunia

Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengembangkan pertahanan pantai berskala besar. Berbagai proyek serupa telah dibangun di luar negeri sebagai respons terhadap ancaman banjir dan perubahan iklim. 

Delta Works di Belanda. Source: ICE

Belanda menjadi contoh sukses penerapan Giant Sea Wall melalui proyek Delta Works. Delta Works merupakan rangkaian tanggul, bendungan, dan barrier yang dirancang sejak 1950-an untuk melindungi wilayah rendah dari banjir laut. Sistem ini kini dikenal sebagai salah satu pertahanan pantai terbesar di dunia dan telah melindungi jutaan warga selama puluhan tahun.

Melansir dari Britannica, Selasa, 27 Januari 2026, proyek ini digarap leh insinyur Belanda Johan van Veen, pada saat kebutuhan mendesak setelah bencana North Sea Banjir 1 Februari 1953. Banjir tersebut menewaskan 1.836 penduduk dan menghancurkan 2.070 km tanah di barat Belanda.

Bendungan ini terdiri dari serangkaian gerbang dan total panjangnya sekitar 2,8 km. Uniknya, benda ini berbeda dari lainnya karena memiliki gerbang yang disesuaikan dalam cuaca normal. Hal ini yang memungkinkan air laut pasang surut dan mengalir di Oosterschelde estuary, sehingga menguntungkan kehidupan ekosistem ikan maupun burung yang ada di wilayah setempat.

Penyelesaian proyek Delta Works tidak semata-mata berfungsi sebagai sistem perlindungan banjir, melainkan juga membawa pengaruh signifikan terhadap perekonomian, infrastruktur, serta pola kehidupan masyarakat Belanda. 

Berdasarkan informasi dari ICE , Delta Works diprediksi mampu mengurangi risiko banjir dalam 4.000 tahun. Selain itu, proyek ini juga berkontribusi pada kualitas air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk sektor pertanian, industri, hingga pengembangan kawasan permukiman. Kondisi ini turut mendorong kemajuan ekonomi dan pertumbuhan nasional.

Di samping itu, Delta Works berkembang menjadi objek wisata unggulan sekaligus simbol kebanggaan nasional, yang menarik perhatian wisatawan mancanegara untuk menyaksikan besarnya ambisi dan perencanaan strategis di balik pembangunan tersebut.

Lebih jauh, proyek berskala besar seperti Delta Works memiliki peran penting dalam merespons tantangan perubahan iklim, terutama dalam melindungi kawasan pesisir yang rentan terhadap banjir dan gelombang badai. 

Melihat ancaman banjir serta kenaikan muka air laut yang juga dihadapi Indonesia, tidak menutup kemungkinan bahwa teknologi serupa akan diterapkan di masa mendatang pada kota-kota dan wilayah yang berisiko tenggelam.