Omzet SRC Tembus Rp236 T, Toko Kelontong Kian Berdaya
- Ekosistem SRC mencatat omzet Rp236 triliun per tahun dengan nilai transaksi UMKM mencapai Rp5,65 triliun, memperkuat ekonomi ritel rakyat.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Ekosistem toko kelontong mitra dari Sampoerna Retail Community (SRC) mencatat kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Total omzet dari toko kelontong tersebut mencapai Rp236 triliun per tahun atau setara 11,36% dari Produk Domestik Bruto (PDB) ritel nasional.
President Director PT HM Sampoerna Tbk Ivan Cahyadi, angka tersebut membuktikan pemberdayaan toko kelontong tidak lagi bersifat sektoral, melainkan telah menjadi bagian penting dari struktur ekonomi nasional.
“Selama 18 tahun SRC menunjukkan bahwa dampak berkelanjutan lahir dari inisiatif yang konsisten dan relevan dengan kebutuhan zaman,” ujar Ivan dalam acara Pesta Retail 2026, di Bogor, Jawa Barat, Senin, 26 Januari 2026.
Menurut Ivan, SRC yang telah berjalan selama 18 tahun kini berkembang menjadi gerakan ritel tradisional terbesar di Indonesia. Hingga saat ini, lebih dari 250.000 toko kelontong tergabung dalam ekosistem SRC, didukung oleh 6.300 mitra dan terhubung melalui 10.000 paguyuban di berbagai daerah.
“Bentuk apresiasi kepada 7.000 total terpilih mewakili 250.000 SRC di seluruh Indonesia, terima kasih atas peran untuk mendukung penuh ekonomi nasional,” ucap Ivan.

Selain kontribusi omzet nasional, SRC juga mencatat nilai transaksi distribusi produk UMKM lokal mencapai Rp5,65 triliun per tahun. Toko-toko binaan SRC kini menjadi kanal distribusi strategis bagi produk usaha kecil dan menengah di berbagai daerah, memperkuat ekonomi lokal hingga tingkat komunitas.
Transformasi tersebut didorong oleh pendampingan berkelanjutan melalui penguatan manajemen usaha, literasi digital, serta integrasi teknologi dalam aplikasi AYO by SRC. Pendekatan ini memungkinkan ritel tradisional bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi digital.
Data internal SRC menunjukkan, rata-rata omzet toko meningkat hingga 42% setelah bergabung, dengan hampir 90% di antaranya telah terhubung dengan sistem digital. Selain itu, 77% toko SRC berhasil memperluas lini usaha, termasuk produk digital dan layanan pembayaran yang menciptakan sumber pendapatan baru.
Dampak Sosial dan Ketenagakerjaan
Dari sisi sosial, keberadaan SRJ juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Ivan menyebutkan sekitar 5% toko SRC turut menyerap tenaga kerja baru, sehingga berkontribusi langsung terhadap penguatan ekonomi daerah
Menariknya, lebih dari 54% pelaku usaha di toko SRC adalah perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, sehingga memperlihatkan peran ritel dalam menopang ekonomi rumah tangga.
Kontribusi SRC juga tercermin dalam efek berganda ekonomi. Mengacu pada riset tahun 2025, aktivitas ekonomi yang dihasilkan oleh ekosistem Sampoerna menciptakan multiplier effect sebesar Rp204,1 triliun per tahun, atau sekitar 1% dari PDB nasional.
“Pemberdayaan toko bukan sekadar pendampingan usaha, melainkan strategi nyata dalam memperkuat kemandirian ekonomi rakyat yang inklusif dan berkelanjutan,” tegas Ivan.
Ke depannya, SRC menargetkan penguatan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, BUMN, dan swasta agar transformasi ritel tradisional terus sejalan dengan agenda pemerataan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Ananda Astridianka
Editor
