Tren Ekbis

Pertamina Masih Kalah dengan Petronas, Ini Akar Masalahnya

  • Pertamina mencatatkan pendapatan sedikit lebih tinggi dibanding Petronas. Namun dari sisi laba bersih, Pertamina kalah telak.
unnamed (1).jpg
Pertamina Vs Petronas (TrenAsia AI)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Perbedaan kinerja keuangan antara PT Pertamina (Persero) dan perusahaan migas nasional Malaysia, Petronas, patut untuk disimak. Meski memiliki skala pendapatan yang hampir setara, laba bersih kedua perusahaan menunjukkan jurang perbedaan yang sangat lebar.

Dikutip data Fortune Global 500 tahun 2023, Rabu, 7 Januari 2025, Pertamina mencatatkan pendapatan sebesar US$75,78 miliar, sedikit lebih tinggi dibanding Petronas yang membukukan US$75,41 miliar. 

Namun dari sisi laba bersih, Pertamina hanya membukukan US$4,44 miliar, sedangkan Petronas mampu mencetak laba hingga US$16,32 miliar atau sekitar 3,7 kali lipat lebih besar.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa persoalan Pertamina bukan sekadar soal skala bisnis, melainkan menyangkut perbedaan mendasar dalam model usaha, struktur industri, hingga mandat negara yang melekat pada perusahaan.

Skala Aset dan Efisiensi Operasi

Dari sisi aset, kesenjangan semakin terlihat jelas. Total aset Petronas mencapai US$168,47 miliar, hampir dua kali lipat dari aset Pertamina yang berada di level US$91,12 miliar. Aset besar ini memberi Petronas fleksibilitas lebih luas dalam investasi hulu migas global yang berorientasi profit tinggi.

Jumlah karyawan Petronas tercatat 54.105 orang, lebih banyak dibanding Pertamina yang memiliki 40.415 karyawan, mencerminkan cakupan operasi internasional yang lebih luas.

Baca juga : Gen Z Hati-Hati! Tahun 2026 Jangan Sampai Tercekik Paylater

Mandat Ganda Pertamina Jadi Beban Struktural

Perbedaan paling krusial terletak pada mandat bisnis. Petronas beroperasi sebagai perusahaan migas multinasional murni, dengan orientasi utama pada keuntungan dan ekspansi global. Portofolio investasinya tersebar di berbagai negara, mulai dari Afrika, Timur Tengah, hingga Amerika.

Sebaliknya, Pertamina memikul mandat ganda. Selain mencari laba, BUMN energi ini bertanggung jawab menjaga ketahanan energi nasional, menyalurkan BBM bersubsidi, serta melayani wilayah terpencil melalui kebijakan BBM satu harga. 

Banyak dari tugas ini secara ekonomi tidak menguntungkan, namun tetap harus dijalankan demi stabilitas sosial.

Fondasi Industri Migas Tak Seimbang

Kondisi industri migas domestik juga memperlebar kesenjangan. Indonesia kini berstatus sebagai importir minyak bersih, dengan produksi minyak mentah hanya sekitar 500 - 700 ribu barel per hari, jauh di bawah konsumsi nasional yang melampaui 1 juta barel per hari.

Akibatnya, Pertamina harus menanggung biaya impor besar serta risiko fluktuasi nilai tukar. Sebaliknya, Malaysia masih berstatus sebagai produsen dan eksportir minyak bersih, memberikan keuntungan struktural bagi Petronas dalam menjaga margin dan stabilitas pasokan.

Tata Kelola dan Persepsi Pasar

Faktor lain yang tak kalah penting adalah isu tata kelola perusahaan. Pertamina beberapa kali diterpa kasus korupsi besar, termasuk pada 2025 yang disebut menimbulkan kerugian negara dalam jumlah signifikan. 

Masalah inefisiensi, birokrasi, serta persepsi rekrutmen yang kurang meritokratis turut membebani kinerja jangka panjang.

Di sisi lain, Petronas dikenal memiliki standar tata kelola dan profesionalisme yang lebih kompetitif, mampu bersaing langsung dengan perusahaan migas global seperti Shell, BP, dan TotalEnergies tanpa perlindungan monopoli.

Baca juga : Morgan Stanley Taksir Harga Emas Tembus Rp2,58 Juta!

Lingkungan Pasar yang Kontras

Pasar BBM ritel Malaysia bersifat sangat kompetitif, dengan banyak pemain seperti Shell, Petron, dan Petronas sendiri. Persaingan ini memaksa efisiensi, inovasi, dan disiplin biaya.

Indonesia justru menghadirkan paradoks. Pertamina memegang kebijakan satu pintu impor BBM (one-door policy), namun di sisi lain harus bersaing ketat dengan pemain asing di segmen BBM non-subsidi. 

Beban distribusi nasional yang luas dari kota besar hingga daerah tertinggal menekan profitabilitas.

Pada kuartal III-2025, Pertamina membukukan laba bersih sekitar US$2,05 miliar dan menargetkan laba akhir tahun sebesar US$3,3 miliar. Meski menunjukkan perbaikan, angka ini masih jauh dari capaian Petronas yang dalam satu tahun penuh mampu mencetak laba di atas US$16 miliar.

Kesenjangan laba antara Pertamina dan Petronas tidak bisa dilihat sebagai kegagalan semata, melainkan cerminan perbedaan peran dan struktur. Pertamina bukan hanya entitas bisnis, tetapi juga instrumen negara untuk menjaga stabilitas energi dan sosial.

Namun demikian, tantangan tata kelola, efisiensi, dan transformasi bisnis tetap menjadi pekerjaan rumah besar jika Pertamina ingin memperkecil jarak dengan Petronas di masa depan terutama di tengah transisi energi dan persaingan global yang kian ketat.