Perang Timur Tengah Berkobar, Harga Pertalite Bisa Rp18.000
- Konflik AS–Iran picu harga minyak dunia naik tajam hingga puluhan dolar per barel, tekanan pada BBM Indonesia dan kemungkinan jebolnya subsidi.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Ketegangan konflik antara Amerika Serikat (AS)-Iran telah memicu lonjakan harga minyak dunia, sehingga membawa risiko terhadap harga energi global serta tekanan fiskal bagi Indonesia. Pasokan minyak yang terganggu di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, membuat harga minyak mentah melonjak signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Melansir dari Business World, Selasa, 3 Maret 2026 harga minyak mentah Brent sempat naik lebih dari 13% dan mencapai sekitar US$79–82 per barel pada awal Maret 2026. Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mencatat kenaikan tajam melebihi US$75 per barel seiring dengan adanya gangguan distribusi melalui jalur selat tersebut.
Gangguan pasokan ini terutama dipicu oleh penutupan atau terganggunya Selat Hormuz, rute pengiriman minyak yang menjadi jalur penting bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Jika konflik berlangsung dan jalur itu terus terganggu, banyak pakar yang memperkirakan harga minyak dunia dapat menembus kisaran US$100–120 per barel.
Dampak ke Indonesia: Harga BBM & Subsidi
Lonjakan harga minyak dunia ini berimplikasi langsung terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) domestik. Para pengamat menyatakan bahwa jika harga minyak global berada di atas US$100 per barel, Indonesia sebagai negara yang masih sangat bergantung pada impor minyak akan menghadapi kemungkinan penyesuaian harga BBM, termasuk bagi jenis yang masih disubsidi seperti Pertalite dan Solar.
Menurut pengamat ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, dampak serangan tersebut pada perekonomian tanah air, khususnya harga BBM. Ia mengasumsikan harga minyak dunia naik di kisaran US$120-150, maka Pertamax bisa melonjak ke angka Rp 22.000-Rp 25.000 per liter, dan BBM Subsidi (Pertalite dan Solar) akan mencapai Rp 18.000 per liter.
"Apabila sudah demikian, asumsi APBN Perubahan harus diubah," kata Yayan dikutip Selasa, 3 Maret 2026.
Melihat pada UU No. 17 tahun 2025 tentang APBN tahun 2026, diasumsikan harga Minyak Mentah sebesar US$70. Sehingga jika ada eskalasi konflik AS-Iran, bisa jadi harga minyak mentah di atas US$70.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai eskalasi konflik antara AS-Iran berpotensi memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Ia memperkirakan belanja negara bisa membengkak hingga Rp515 triliun apabila situasi geopolitik terus memanas.
Menurut Bhima, penutupan Selat Hormuz berisiko mendorong harga minyak mentah dunia melonjak ke kisaran US$100-120 per barel. Kenaikan tersebut cukup realistis mengingat harga minyak global sebelumnya sudah naik sekitar 13,4% dalam waktu singkat akibat ketegangan di kawasan tersebut.
Dalam simulasi APBN 2026, Bhima menjelaskan bahwa setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi harga minyak yang telah ditetapkan pemerintah akan menambah beban belanja negara sebesar Rp10,3 triliun.
“Bukan hanya beban subsidi BBM, tapi juga kompensasi ke Pertamina dan beban subsidi listrik. Ada beban ganda langsung ke APBN. Kondisi diperburuk oleh kekhawatiran flight to quality dari investor menyebabkan pelemahan rupiah,” tegas Bima.
Kenaikan harga minyak dunia kerap disusul oleh meningkatnya biaya logistik dan produksi barang, yang kemudian dapat menekan daya beli masyarakat melalui kenaikan tarif transportasi serta harga barang kebutuhan pokok. Gejolak ini juga dapat memicu inflasi lebih tinggi, menambah beban ekonomi rumah tangga dan pelaku usaha kecil menengah (UMKM) yang sudah menghadapi kenaikan biaya produksi.
Pemerintah sendiri mengakui potensi kenaikan harga BBM nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara mengenai stok BBM di Indonesia terkini. Saat ini, pemerintah sedang menghitung dampak dan upaya yang akan dilakukan terkait penutupan Selat Hormuz, Iran.
Bahlil menekankan bahwa stok BBM di Indonesia masih cukup. "Masih cukup 20 hari," terang Bahlil ditemui di Istana Negara, dikutip Selasa, 3 Maret 2026.
Ia menyatakan bahwa hingga saat ini belum dapat merinci langkah mitigasi yang akan ditempuh pemerintah untuk merespons situasi tersebut. Namun demikian, pemerintah dijadwalkan mengadakan rapat bersama Dewan Energi Nasional pada esok hari guna membahas dampak yang muncul serta merumuskan strategi antisipasi ke depan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
