Tren Ekbis

Peluang Kerja di Pabrik Panel Surya & PLTS

  • Investasi pabrik panel surya Rp23,6 triliun masuk Indonesia. Proyek ini diperkirakan membuka banyak peluang kerja baru di sektor energi bersih.
image-384.png
Pengelolaan Sampah Banyumas (Waste4Change)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Dalam upaya mendukung energi bersih terbarukan, pemerintah Indonesia siap membangun sejumlah pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS), guna mengatasi masalah sampah nasional.

Kepala Badan Pengelola Investasi (CEO) Danantara Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan Danantara telah menerima investasi US$1,4 miliar atau sekitar Rp23,66 triliun untuk pembangunan pabrik panel surya berkapasitas 50 gigawatt (GW).

Rosan menjelaskan, pabrik tersebut akan dikebut untuk mempercepat suplai panel surya bagi PLTS yang akan dikembangkan di beberapa desa, khususnya yang telah memiliki distribusi listrik.

"Sudah ada investasi yang masuk ke Indonesia. Pabrik itu akan selesai tahun ini dengan nilai investasi 1,4 miliar dolar AS dan kapasitas 50 gigawatt. Jadi investasi itu sudah masuk dan akhir tahun ini akan selesai. Itu juga akan membantu agar kita dapat menggunakan produksi dalam negeri untuk proyek percepatan PLTS ini," kata Rosan di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.

Rosan menyampaikan Danantara saat ini telah membangun satu prototipe PLTS berkapasitas 1 megawatt (MW) di wilayah Sumenep, Madura, Jawa Timur. “Dengan adanya investasi ini, kita bisa menggunakan produksi dalam negeri untuk mendukung proyek PLTS yang sedang didorong pemerintah,” kata Rosan.

Pembangunan Pabrik Panel Surya Jadi Peluang Tenaga Kerja?

Perkembangan pabrik panel surya dan PLTS di Indonesia berpotensi membuka banyak lapangan kerja baru di berbagai sektor. Hal ini sejalan dengan dorongan transisi energi yang didukung oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan peningkatan investasi energi terbarukan.

Adapun sektor pekerjaan yang berpotensi berkembang seiring pembangunan pabrik panel surya dan proyek PLTS di Indonesia, yaitu:

1. Manufaktur Panel Surya

Panel surya ESD, sumber foto: trenasia.com

Industri ini membutuhkan tenaga kerja untuk proses produksi panel, seperti operator pabrik, teknisi mesin, insinyur listrik, hingga tenaga quality control.

2. Konstruksi dan Instalasi PLTS

Pembangunan PLTS memerlukan tenaga teknis seperti teknisi pemasangan panel surya, pekerja konstruksi, surveyor lokasi, serta insinyur perancang sistem kelistrikan.

3. Engineering dan Konsultan Energi

Sektor ini mencakup tenaga ahli yang bertugas merancang sistem PLTS, melakukan studi kelayakan proyek, hingga menjadi konsultan energi terbarukan.

4. Operasi dan Pemeliharaan Sistem (Operation & Maintenance)

Setelah PLTS beroperasi, dibutuhkan teknisi dan operator untuk memantau kinerja panel surya, melakukan perawatan rutin, serta memastikan sistem listrik berjalan optimal.

5. Logistik dan Rantai Pasok

Ilustrasi listrik, sumber foto: Waste4Change

Industri panel surya juga mendorong kebutuhan tenaga kerja di bidang distribusi, transportasi komponen panel, pengelolaan gudang, serta manajemen rantai pasok.

6. Penjualan dan Edukasi Energi Surya

Pertumbuhan pasar panel surya membuka peluang kerja bagi tenaga pemasaran, konsultan pemasangan PLTS rumah tangga, serta tenaga edukasi terkait penggunaan energi terbarukan. Sektor ini mencakup tenaga pemasaran produk panel surya, konsultan yang membantu perencanaan dan pemasangan sistem PLTS rumah tangga, hingga tenaga edukasi yang memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

Seberapa Siap SDM Indonesia Terhadap Program Tersebut?

Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) menilai penerapan teknologi waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi di kota besar, akan dilakukan dengan catatan, harus didukung ketersediaan sumber daya manusia tersertifikasi agar operasionalnya berkelanjutan.

Anggota Dewan Pakar IATPI, Nofrizal Tahar, mengatakan penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan perubahan perilaku masyarakat dari hulu. Menurutnya, perlu kombinasi antara upaya pengurangan sampah dan penerapan teknologi pengolahan.

“Masalah sampah tidak bisa menunggu,” kata Nofrizal seusai Rapat Pengurus IATPI di Jakarta, Senin, 15 Januari 2026.

Ia juga menjelaskan, teknologi waste to energy dapat menjadi alternatif dari metode penimbunan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA) yang semakin sulit diterapkan di wilayah metropolitan 

Sebagai contoh, ia menjelaskan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Surabaya telah beroperasi sejak 2021 dengan kapasitas sekitar 1.000 ton sampah per hari, dan menghasilkan listrik sekitar 6–7 megawatt.

Selain itu, terdapat pula proyek percontohan di Bantar Gebang berkapasitas sekitar 100 ton per hari yang dikembangkan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional dan pemerintah daerah. Menurutnya, program ini harus dilakukan secara rutin dan serius, mengingat masalah sampah di Indonesia juga banyak mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).

Menurut Nofrizal, limbah tersebut perlu dikelola secara tertelusur dari hulu hingga hilir agar tidak masuk ke jalur pengolahan ilegal.