Meneropong Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026
- BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026. Simak kondisi ekonomi di era Prabowo-Gibran, mulai konsumsi, investasi hingga sektor usaha.

Muhammad Imam Hatami
Author


Siluet warga beraktivitas di perkampungan nelayan kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Minggu, 26 Juli 2020. Warga dan nelayan mengaku dampak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat pandemi COVID-19 sangat berpengaruh terhadap perekonomian warga pesisir Jakarta Utara. Harga jual hasil laut nelayan merosot tajam, seperti harga jual ikan berkurang hingga setengah harga normal. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID - Memasuki kuartal kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, perekonomian Indonesia menunjukkan daya tahan di tengah ketidakpastian global. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi nasional tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II 2026.
Meski laju tersebut sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I 2026, capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,12%. Bahkan, realisasi tersebut melampaui ekspektasi mayoritas ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 5,10%-5,12%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengatakan, besaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai Rp6.552,1 triliun berdasarkan harga berlaku (ADHB), sementara PDB atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp3.576,2 triliun.
"Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku Rp6.552,1 triliun, atas dasar harga konstan Rp3.576,2 triliun, sehingga pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 dibandingkan triwulan II-2025 atau yoy tumbuh 5,29%." ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Melambat ke 5,29 Persen, RI Mulai Kehilangan Momentum
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Indonesia tumbuh 3,73%, sedangkan secara kumulatif semester I 2026 (cumulative-to-cumulative/ctc) mencapai 5,45%.
Tiga Mesin Utama Ekonomi Masih Bekerja
Data BPS menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia masih didominasi permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah menjadi tiga mesin utama yang menopang pertumbuhan selama April-Juni 2026.
Komponen terbesar tetap berasal dari konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06% dengan kontribusi mencapai 53,32% terhadap PDB. Menurut Edy, konsumsi masyarakat masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar.
"Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya, pada kuartal II 2026, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar yakni sebesar 2,67 persen. Selain itu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 juga ditopang oleh komponen PMTB dengan sumber pertumbuhan sebesar 2,06 persen, dan konsumsi pemerintah memberikan sumber pertumbuhan sebesar 1,07 persen. Sementara itu, net export memberikan sumber pertumbuhan sebesar -0,78 persen." jelasnya.
Baca juga : Mengapa Rasa Cukup Sulit Dicapai Meski Gaji Terus Bertambah?
Selain konsumsi masyarakat, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,87% dengan kontribusi 29,36% terhadap PDB. Sementara itu, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan paling tinggi di antara seluruh komponen pengeluaran, yakni 15,97%, dengan kontribusi 7,57% terhadap PDB.
Komponen lainnya juga tumbuh positif.
- Konsumsi LNPRT tumbuh 6,93% dengan kontribusi 1,35%.
- Ekspor barang dan jasa tumbuh 4,13% dengan kontribusi 23,13% terhadap PDB.
Meski ekspor masih meningkat, kontribusi net ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi justru negatif, menunjukkan impor tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor sehingga menjadi salah satu faktor penahan laju ekonomi.

Belanja Pemerintah Melonjak
Salah satu temuan menarik dalam laporan BPS adalah lonjakan konsumsi pemerintah yang hampir mencapai 16%. Pertumbuhan sebesar 15,97% menjadikan belanja pemerintah sebagai komponen dengan laju pertumbuhan tertinggi sepanjang kuartal II 2026.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung ekonomi karena porsinya yang mencapai lebih dari separuh PDB nasional.
Kombinasi antara konsumsi masyarakat, investasi, dan belanja pemerintah menghasilkan sumber pertumbuhan sebesar 5,80 poin, yang mampu mengimbangi pelemahan kontribusi dari sektor perdagangan luar negeri.
Baca juga : Rebound 0,3 Persen, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?
Hampir Semua Sektor Tumbuh, Tambang Jadi Pengecualian
Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor ekonomi mencatat pertumbuhan positif.
Dua sektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah:
- Pengadaan listrik dan gas: 10,81%
- Penyediaan akomodasi dan makan minum: 10,60%
Sementara sektor-sektor utama lainnya juga menunjukkan ekspansi.
- Industri pengolahan tumbuh 4,52%
- Perdagangan tumbuh 6,39%
- Konstruksi tumbuh 6,68%
- Pertanian tumbuh 3,80%
Namun terdapat satu sektor yang masih mengalami kontraksi, yakni pertambangan dan penggalian yang turun 1,64%. BPS menjelaskan penurunan tersebut dipicu oleh berkurangnya produksi sejumlah komoditas mineral.
Kontraksi sektor tambang tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi laju pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun sektor-sektor lain masih mampu menjaga momentum ekspansi.
Realisasi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% juga menjadi kabar positif karena berada di atas berbagai proyeksi sebelum rilis data.
Sebelumnya, konsensus ekonom yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II berada di kisaran 5,12%, sementara jajak pendapat Reuters memperkirakan sekitar 5,10%.
Meski demikian, dibandingkan kuartal I 2026 yang mencapai 5,61%, laju pertumbuhan memang mengalami normalisasi seiring masih tingginya ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, dan dinamika perdagangan internasional.
Secara keseluruhan, data BPS menggambarkan bahwa memasuki kuartal II pemerintahan Prabowo-Gibran, ekonomi Indonesia masih bertumpu pada kekuatan pasar domestik.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin utama ekonomi nasional, investasi menunjukkan ekspansi yang solid, sementara percepatan belanja pemerintah menjadi tambahan tenaga bagi pertumbuhan.
Di sisi lain, pelemahan sektor pertambangan serta kontribusi negatif net ekspor menunjukkan bahwa tantangan dari sisi eksternal masih membayangi.
Dengan demikian, potret ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 memperlihatkan fondasi domestik yang masih kuat, namun tetap menghadapi pekerjaan rumah berupa penguatan daya saing ekspor, pemulihan produksi komoditas mineral, serta menjaga momentum investasi agar pertumbuhan ekonomi dapat berlanjut pada paruh kedua tahun ini.

Chrisna Chanis Cara
Editor
