Rebound 0,3 Persen, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?
- Rupiah menguat 55 poin ke Rp17.972 per dolar AS setelah ketegangan Iran-AS mereda. Simak penyebab penguatan, dampaknya, dan prospek rupiah selanjutnya.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terapresiasi 55 poin atau 0,31% ke level Rp17.972 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup melemah di atas level Rp18.000.
Penguatan tersebut menjadi sinyal membaiknya sentimen pasar setelah kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah mulai mereda. Pelaku pasar merespons positif perkembangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat yang dinilai dapat mengurangi risiko gangguan terhadap jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz.
Meredanya ketegangan geopolitik turut mendorong harga minyak dunia bergerak lebih stabil. Kondisi tersebut mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven dan memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Sehari sebelumnya, rupiah ditutup melemah 0,19% ke posisi Rp18.015 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu memburuknya neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan mencatat defisit US$450 juta, dengan sektor minyak dan gas menjadi penyumbang terbesar.
Defisit migas mencapai US$3,49 miliar setelah nilai impor mencapai US$25,91 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspor yang tercatat US$5,46 miliar. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS untuk membiayai impor sehingga memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.
Pasar juga mencermati posisi cadangan devisa Indonesia yang menurun menjadi US$145 miliar pada akhir Juli 2026, dari posisi tertinggi US$156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Meski masih berada pada level yang dinilai memadai untuk mendukung stabilitas eksternal, penurunan cadangan devisa menjadi indikator yang terus diperhatikan investor.
Apa yang Berubah Hari Ini?
Perubahan terbesar datang dari membaiknya sentimen global. Jika sehari sebelumnya pasar lebih banyak menyoroti defisit neraca perdagangan Indonesia, hari ini perhatian investor beralih ke perkembangan geopolitik yang lebih kondusif.
Meredanya ketegangan Iran-AS mengurangi kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi dan membuka ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang.
Apa Artinya Bagi Masyarakat?
Kembalinya rupiah ke bawah level Rp18.000 per dolar AS menjadi kabar positif karena dapat membantu meredam tekanan terhadap biaya impor, terutama bahan baku industri, produk elektronik, dan komoditas yang diperdagangkan menggunakan dolar AS. Apabila tren penguatan berlanjut, risiko kenaikan harga barang akibat pelemahan kurs juga berpotensi berkurang.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang. Defisit perdagangan, pergerakan harga minyak dunia, dan kondisi cadangan devisa masih menjadi faktor yang akan memengaruhi stabilitas nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan.
Yang Perlu Dipantau Investor
Pelaku pasar akan mencermati perkembangan lanjutan negosiasi Iran-AS, arah harga minyak dunia, serta data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi kebijakan Federal Reserve.
Di dalam negeri, perhatian juga tertuju pada perkembangan neraca perdagangan dan posisi cadangan devisa sebagai indikator ketahanan eksternal Indonesia.

Chrisna Chanis Cara
Editor
