Tren Ekbis

Listrik Batu Bara Boncos, Seberapa Serius RI Beralih ke Energi Terbarukan?

  • Bauran EBT Indonesia capai 17,89% pada 2026, melampaui target pemerintah. Simak perkembangan PLTS, panas bumi, dan PLTA menuju transisi energi nasional.
PLTA XIZANG.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID – Transisi energi Indonesia memasuki babak baru. Hingga April 2026, bauran energi baru dan terbarukan (EBT) nasional mencapai 17,89%, melampaui target pemerintah tahun 2026 sebesar 16,46%. Meski demikian, sistem kelistrikan nasional masih sangat bergantung pada energi fosil, terutama batu bara yang menyumbang hampir dua pertiga produksi listrik nasional.

Lalu, seberapa serius pemerintah Indonesia dalam mengembangkan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara?

Data terbaru menunjukkan pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto menyiapkan berbagai langkah besar, mulai dari target pembangunan 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dalam tiga tahun, percepatan proyek panas bumi, hingga pembangunan sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala besar.

Bauran Energi Terbarukan Indonesia 

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per April 2026, total produksi listrik nasional mencapai 165,51 TWh. Komposisi bauran energi menunjukkan bahwa energi fosil masih mendominasi, meskipun kontribusi energi hijau terus meningkat.

Komposisi bauran listrik nasional per April 2026:

  • Batu bara: 64,87%
  • Gas: 13,86%
  • Bahan Bakar Minyak (BBM): 3,38%
  • Energi Baru dan Terbarukan (EBT): 17,89%

Capaian EBT sebesar 17,89% tersebut telah melampaui target pemerintah tahun 2026 yang berada di level 16,46%. Namun dari sisi kapasitas pembangkit, dominasi energi fosil masih sangat kuat. Total kapasitas pembangkit listrik terpasang Indonesia mencapai sekitar 108 Gigawatt (GW) per April 2026, dengan komposisi,

  • 85% berasal dari energi fosil
  • 15% berasal dari energi baru dan terbarukan

Baca juga : Rupiah Melemah, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?

Perbedaan Bauran Energi Antarwilayah

Transisi energi juga menunjukkan perbedaan besar antarwilayah dengan komposisi sebagai berikut,

Sumatera

  • Bauran EBT mencapai 41,76%
  • Batu bara menyumbang 38,40%
  • Menjadi wilayah dengan porsi energi terbarukan tertinggi di Indonesia dan telah melampaui penggunaan batu bara

Sistem Jawa-Bali

  • Batu bara masih mendominasi sebesar 70,99%
  • Bauran energi terbarukan baru mencapai 10,01%

Data diatas menunjukkan tantangan terbesar transisi energi Indonesia masih berada di wilayah Jawa-Bali sebagai pusat konsumsi listrik terbesar nasional.

Target Ambisius Prabowo

Presiden Prabowo Subianto menetapkan target besar dalam pengembangan energi surya, dengan target capaian sebagai berikut,

  • Membangun 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada periode 2026–2028
  • Kapasitas PLTS terpasang saat ini baru sekitar 1,5 GW
  • Program tersebut menjadi bagian dari visi mencapai 100% energi terbarukan untuk sektor kelistrikan dalam 10 tahun mendatang

Untuk mempercepat realisasi target tersebut, pemerintah menargetkan tambahan 17 GW kapasitas energi terbarukan dari PLTS pada 2026. Sejumlah langkah pendukung juga telah disiapkan diantaranya,

  • Kementerian ESDM bersama ATR/BPN menyiapkan sekitar 24.000 hektare lahan di Pulau Jawa
  • Pemerintah akan melakukan revisi terhadap Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN agar dapat mengakomodasi program PLTS 100 GW

Keseriusan pemerintah juga tercermin dalam RUPTL PLN 2025–2034. Dari total tambahan kapasitas pembangkit baru sebesar 69,5 GW, sebanyak 76% atau sekitar 52,8 GW akan berasal dari energi bersih, termasuk tenaga surya, tenaga air, tenaga angin, dan panas bumi.

Perkembangan proyek hijau tersebut menunjukkan percepatan yang cukup signifikan diantaranya,

  • 43% atau 22,57 GW proyek energi hijau telah masuk tahap pengembangan dalam satu tahun setelah RUPTL diterbitkan
  • 0,78 GW kapasitas pembangkit energi bersih telah beroperasi penuh

Baca juga : Aturan Baru Outsourcing 2026: Hanya 6 Sektor Pekerjaan yang Boleh Dialihdayakan

Potensi Panas Bumi Indonesia

Indonesia memiliki keunggulan besar dalam pengembangan energi panas bumi atau geothermal.

Data panas bumi Indonesia:

  • Potensi geothermal mencapai 23,6 GW atau 23.600 MW
  • Indonesia menjadi negara dengan potensi panas bumi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat
  • Kapasitas terpasang panas bumi mencapai sekitar 2,6 GW pada 2024
  • Kapasitas tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2014 yang berada di level 1,4 GW

Proyek-proyek panas bumi yang sedang berjalan:

  • Barito Renewables (BREN)
    • Kapasitas mencapai 926 MW per Maret 2026
    • Menargetkan kapasitas 1 GW pada akhir 2026
    • Sepanjang 2025 telah memproduksi 6.885 GWh listrik dari panas bumi
  • Salak Unit 7
    • Kapasitas 40 MW
    • Target penyelesaian akhir 2026
  • Wayang Windu Unit 3
    • Kapasitas 30 MW
    • Target selesai akhir 2026
  • Darajat Unit 3 (ekspansi)
    • Tambahan kapasitas 7 MW
    • Target rampung akhir 2026
  • Lumut Balai Unit 3
    • Kapasitas 55 MW
    • Konstruksi dimulai tahun 2026
    • Target beroperasi pada 2030
  • Proyek Mataloko milik PLN
    • Kapasitas 2 x 10 MW
    • Target pengeboran dimulai pada 2026
  • Pertamina Geothermal Energy (PGE)
    • Menargetkan kapasitas panas bumi 1 GW pada 2026
    • Meningkat menjadi 1,5 GW pada 2029

Secara nasional, pemerintah menargetkan penambahan sekitar 5,2 GW kapasitas panas bumi dalam 8–9 tahun mendatang.

Baca juga : Pengusaha AMDK Bersiap Hadapi Pemberlakuan SNI Oktober 2026

PLTA Jadi Tulang Punggung Energi Terbarukan Indonesia

Selain panas bumi dan tenaga surya, energi air atau hydropower masih menjadi kontributor terbesar dalam bauran energi terbarukan Indonesia.

Potensi dan kapasitas PLTA:

  • Potensi pembangkit listrik tenaga air mencapai 76,09 GW
  • Kapasitas terpasang saat ini sekitar 19.385 MW

Daftar proyek PLTA yang sedang dikembangkan:

  • PLTA Kayan Cascade, Kalimantan Timur
    • Tahap pertama berkapasitas 900 MW
    • Target selesai tahun 2026
    • Diproyeksikan menjadi PLTA terbesar di Asia Tenggara
  • PLTA Batang Toru, Sumatera Utara
    • Ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2026
    • Berperan mendukung sistem kelistrikan Sumatera
  • PLTA Kerinci Merangin, Jambi
    • Kapasitas 420 MW
    • Masih dalam tahap konstruksi dengan target selesai 2026
  • PLTA Cibuni, Sukabumi
    • Kapasitas 99 MW
    • Sedang dalam tahap penyelesaian
  • PLTA Cimandiri, Sukabumi
    • Kapasitas 75 MW
    • Sedang dirampungkan
  • PLTA Upper Cisokan, Jawa Barat
    • Kapasitas 1.040 MW
    • Merupakan proyek pumped-storage yang sedang dipercepat pembangunannya
  • PLTA 300 MW di Kalimantan Timur
    • Kapasitas 300 MW
    • Mulai memasuki tahap konstruksi pada Mei 2026
  • PLTA Kukusan 2, Tanggamus
    • Kapasitas 5,4 MW
    • Menggunakan teknologi run-of-river

Baca juga : Mengapa Indonesia Sulit Lepas dari Listrik Batu Bara?

Meski perkembangan energi hijau menunjukkan tren positif, tantangan Indonesia masih sangat besar. Batu bara masih menjadi sumber energi utama dengan kontribusi 64,87% terhadap total produksi listrik nasional, terutama di sistem Jawa-Bali yang ketergantungannya mencapai 70,99%.

Dengan kondisi tersebut, keberhasilan target besar seperti pembangunan 100 GW PLTS, pencapaian 100% listrik dari energi terbarukan dalam 10 tahun, serta realisasi 52,8 GW proyek hijau dalam RUPTL PLN akan menjadi penentu utama keberhasilan transformasi energi Indonesia.

Transisi energi Indonesia kini memasuki fase percepatan. Pencapaian bauran EBT yang telah melampaui target menunjukkan perkembangan positif, tetapi dominasi batu bara dan kebutuhan investasi besar masih menjadi tantangan utama menuju sistem kelistrikan yang lebih hijau.