Krisis Minyak Bikin APBN Bengkak, Celios Desak Stop Dana MBG
- Merespons harga minyak yang meroket di tengah eskalasi konflik, Celios mendesak pemerintah menghentikan program MBG demi selamatkan defisit APBN.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak mentah global yang memberikan ancaman serius terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN. Krisis energi ini menempatkan pemerintah dalam posisi yang sangat dilematis di tengah tuntutan stabilitas publik.
Center of Economic and Law Studies atau Celios merilis analisis terkait skenario suram keuangan negara di tengah gejolak komoditas energi. “BBM please jangan naik, tapi duitnya dari mana?” tulis Celios dalam unggahan di laman Instagram resminya pada Senin, 2 Maret 2026.
Dalam paparan di media sosial tersebut, institusi riset ini mendesak pemerintah untuk segera mengambil keputusan pengorbanan kebijakan yang strategis. Salah satu rekomendasi paling mendesak adalah menghentikan program kampanye andalan demi menyelamatkan sisa kas negara.
Sensitivitas Defisit Anggaran
Meroketnya harga minyak mentah di pasar internasional memberikan pukulan langsung yang sangat signifikan terhadap kesehatan neraca keuangan negara. Tim analis Celios membeberkan perhitungan matematis beban ekstra yang harus ditanggung oleh Bendahara Negara saat ini.
“SEKARANG GIMANA SENSITIVITAS KE DEFISIT APBN? Setiap 1 USD per barrel harga minyak naik, defisit makin bengkak Rp6,8 T,” tulis Celios di laman Instagramnya.
Proyeksi skenario terburuk yang dirilis oleh tim riset menunjukkan adanya potensi guncangan finansial berskala raksasa pada struktur keuangan kita. “Kita simulasikan ada pelebaran defisit Rp340 triliun,” catat unggahan tersebut.
Ancaman Pembiayaan Utang
Guna menutup celah pembengkakan defisit yang masif tersebut, langkah konvensional yang biasanya diambil oleh pemerintah adalah menerbitkan instrumen utang. Namun, ruang fiskal pemerintah di pasar obligasi global kini semakin sempit dan berisiko tinggi.
“Darimana defisit ditutup? Utang lah.. Eits.. cari utangan kedepan makin susah,” catat Celios.
Turbulensi geopolitik secara otomatis akan mendorong suku bunga acuan bergerak naik sehingga biaya penerbitan surat utang menjadi sangat mahal. “Risiko naik, bunga makin mahal. Appetite alias napsu investor berkurang. Cara lain?” tulis lembaga tersebut.
Rantai Pasok Selat Hormuz
Akar dari kepanikan pasar minyak dunia ini tidak lepas dari ancaman blokade pada rute perdagangan maritim yang sangat vital bagi keselamatan rantai pasok global. Selat Hormuz diakui sebagai urat nadi utama pendistribusian energi dari Timur Tengah.
Mengutip analisis International Energy Agency (IEA) berdasarkan data Kpler, volume ekspor minyak mentah pada 2025 tercatat sangat masif. Pasokan utama berasal dari Arab Saudi sebesar 5,4 juta barel per hari, Irak 3,3 juta barel, UAE2 juta barel, serta Iran 1,7 juta barel.
Mayoritas pasokan energi fosil tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan operasional negara-negara Asia yang rentan. Rincian data mencatat bahwa ekspor dominan mengarah ke China sebesar 4,6 juta barel, India 2,1 juta barel, dan wilayah Asia lainnya menembus 6,2 juta barel per hari.
Penghentian Program
Menghadapi tekanan fiskal yang tak terbendung ini, kompromi ekonomi skala besar mutlak diperlukan untuk menjaga stabilitas makro. Lembaga ini bilang pemerintah harus menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes MP). “MAU SELAMAT PAK? MBG DAN KOPDES MP HARUS DISTOP,” tulis postingan Celios.
Prioritas negara saat ini seharusnya difokuskan pada upaya menjaga daya beli masyarakat kelas bawah dan memitigasi lonjakan inflasi domestik. “Dalam ekonomi ada istilah trade-off. Sekarang yang paling urgen jaga daya beli, jaga inflasi. Apa jagain program janji kampanye? Jawabannya sih jaga keselamatan warga dari krisis minyak lah,” catat laporan di laman tersebut.
Mengalihkan pos anggaran populis dinilai menjadi satu-satunya jalan rasional yang tersisa untuk menghindari resesi finansial. “MBG dan Kopdes MP di stop, geser belanja ke mitigasi risiko inflasi. Lumayan mumpung masih awal Maret, ada hemat Rp279 T dari MBG. Jangan sampai telat ya!” tulis Celios.
Akar Krisis Energi Alternatif
Di luar persoalan teknis tata kelola kas negara, krisis ini menguak kembali kerapuhan struktural sektor energi nasional kita dari hulu hingga hilir. “Tapi ya krisis minyak ini kan karena kita kecanduan impor BBM Mumpung bulan Ramadhan, mari ambil hikmah nya. Carut marut geopolitik yang imbasnya ke harga BBM:” catat akun Instagram itu.
Lembaga pemikir ini menyoroti serangkaian kegagalan mendasar terkait lambatnya kebijakan transisi energi terbarukan di dalam negeri. “Gara-gara kita kalah cepat ngembangin transportasi publik. Gara-gara kita kalah cepat nurunin porsi fossil di bauran energi. Gara-gara kita males banget cari energi alternatif yang lebih resilience,” papar Celios.
Momentum krisis berskala global ini semestinya menjadi teguran keras bagi para pengambil keputusan untuk merombak total prioritas pembangunan. “Please pak pajak kita dipake yang bener,” tulis Celios menutup unggahannya.

Alvin Bagaskara
Editor
