Nasional

Tersandera 2 Raksasa: Tantangan Indonesia dalam Pusaran Perang Dagang AS-China

  • China menunjukkan sikap keras terhadap manuver AS. Pemerintah China memperingatkan negara-negara lain agar tidak membuat kesepakatan ekonomi dengan AS yang dapat merugikan kepentingan China.
8a9d2553-5eb1-4fab-b648-9f94f3c4babc.jpg
Ilustrasi perang dagang AS-China. (Chrisna Chanis Cara/TrenAsia)

JAKARTA – Indonesia menghadapi situasi pelik dalam lanskap perdagangan global. Dua kekuatan ekonomi dunia, Amerika Serikat dan China, tengah menjalankan strategi agresif untuk melindungi kepentingan nasional masing-masing. Di tengah hubungan dagang yang erat dengan kedua negara, Indonesia kini berada dalam tekanan dari dua arah.

Dari sisi Amerika Serikat, pemerintah Negeri Paman Sam secara aktif mendesak Indonesia untuk mereformasi sejumlah kebijakan perdagangan yang dianggap menghambat akses pasar dan investasi asing.

AS menyoroti pentingnya penguatan perlindungan kekayaan intelektual, penghapusan hambatan teknis dan non-tarif, serta pembukaan sektor investasi asing secara lebih luas. Tak hanya itu, Washington juga meminta peningkatan transparansi dalam pemberian subsidi dan kebijakan impor, penyederhanaan regulasi digital dan sektor jasa, hingga penghapusan kebijakan diskriminatif dalam pengadaan barang pemerintah dan sektor energi.

Desakan ini mencuat seiring dengan strategi ekonomi luar negeri AS, sebagaimana dilaporkan Bloomberg, di mana Washington mendorong negara-negara mitra untuk mengurangi ketergantungan dagang terhadap China sebagai syarat mendapatkan pengecualian tarif.

Langkah ini disertai potensi ancaman sanksi finansial, membuat banyak negara, termasuk Indonesia berada dalam posisi tawar yang sulit.

Di sisi lain, China juga mengambil sikap tegas atas manuver Amerika Serikat. Pemerintah China memperingatkan negara-negara lain agar tidak menjalin kesepakatan ekonomi yang dapat merugikan kepentingan Beijing. China menyatakan siap mengambil tindakan balasan secara “tegas dan setara” apabila merasa dirugikan.

“China akan mengambil langkah balasan secara tegas dan setara jika ada negara yang mencoba membuat kesepakatan semacam itu,” ujar juru bicara pemerintah China seperti dikutip China Daily, Senin, 21 April 2025.

Presiden Xi Jinping pun intens mempererat kerja sama dagang dengan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, melalui diplomasi aktif dan penolakan terhadap praktik tarif sepihak dari AS. Xi secara tegas menyatakan bahwa dalam perang tarif, tidak ada pihak yang benar-benar menang.

“AS telah menyalahgunakan tarif terhadap seluruh mitra dagangnya atas nama 'kesetaraan', sambil memaksa negara-negara lain untuk memulai negosiasi tarif timbal balik,” tambah juru bicara tersebut.

Ketergantungan Ekonomi Indonesia terhadap AS dan China

Data perdagangan terbaru menunjukkan betapa dalam keterikatan ekonomi Indonesia dengan kedua negara tersebut. Pada 2024, nilai perdagangan Indonesia–China meningkat 5,7% menjadi US$135,1 miliar.

Meski ekspor Indonesia ke China menurun 4% menjadi US$62,4 miliar, China tetap menjadi mitra dagang utama RI. Sebaliknya, impor dari China melonjak 16% menjadi US$72,7 miliar, mencakup lebih dari 31% dari total impor nasional. Akibatnya, neraca perdagangan Indonesia dengan China mengalami defisit sebesar US$10,3 miliar—berbalik dari surplus US$2 miliar pada tahun sebelumnya.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke China meliputi besi baja, batu bara, dan nikel, sementara impor didominasi oleh mesin, peralatan listrik, besi baja, dan plastik.

Selain perdagangan barang, investasi China ke Indonesia juga menunjukkan kekuatan pengaruhnya. Sepanjang Januari hingga September 2024, China mencatatkan investasi sebesar US$5,8 miliar dan menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia.

Sementara itu, hubungan dagang Indonesia–Amerika Serikat juga menunjukkan signifikansi yang tinggi. Pada 2023, ekspor Indonesia ke AS mencapai US$258,82 miliar, jauh melampaui nilai impor dari AS yang hanya US$19,59 miliar. Ini menjadikan AS sebagai sumber surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia.

Komoditas ekspor utama ke AS mencakup mesin dan peralatan listrik, garmen, produk perikanan, serta lemak dan minyak nabati. Di sisi lain, Indonesia berencana meningkatkan impor energi dari AS, termasuk LPG, minyak mentah, dan bensin, serta produk pertanian seperti gandum dan kedelai.

Strategi Seimbang yang Penuh Risiko

Di tengah ketegangan antara dua raksasa ekonomi global ini, Indonesia tampaknya berusaha menerapkan strategi diplomasi dagang yang seimbang. Namun keseimbangan ini sangat rapuh.

Di satu sisi, Indonesia perlu menjaga surplus perdagangan dengan AS dan memperkuat akses pasar ke Amerika. Di sisi lain, ketergantungan terhadap produk impor dan aliran investasi dari China membuat Indonesia tidak bisa sembarangan mengambil langkah yang bisa dianggap memihak salah satu pihak.

Dengan tekanan dari dua kutub kekuatan global yang semakin intens, Indonesia dihadapkan pada dilema besar: bagaimana menjaga kedaulatan ekonomi dan kepentingan nasional tanpa terseret ke dalam tarik-menarik kepentingan antara Washington dan Beijing.