Saham vs Reksadana, Lebih Pilih Mana? Ini Perbandingannya
- Keputusan memilih saham atau reksadana sangat bergantung pada profil risiko, tujuan keuangan, serta komitmen waktu masing-masing investor.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pertanyaan klasik di dunia investasi sering mengemuka seiring meningkatnya jumlah investor ritel di Indonesia, lebih menguntungkan saham atau reksadana? Jawabannya ternyata tidak sekedar hitam-putih. Para perencana keuangan sepakat, tidak ada instrumen yang paling unggul untuk semua orang.
Keputusan memilih saham atau reksadana sangat bergantung pada profil risiko, tujuan keuangan, serta komitmen waktu masing-masing investor.
Saham menawarkan potensi keuntungan yang lebih tinggi, namun disertai fluktuasi harga yang tajam dan tuntutan analisis mandiri. Sebaliknya, reksadana dinilai lebih praktis dan terkelola, meski imbal hasilnya cenderung lebih moderat.
Memahami perbedaan mendasar keduanya menjadi langkah awal agar investor tidak sekadar ikut tren atau FOMO, tetapi berinvestasi secara sadar dan terukur.
Karakter Dasar Saham dan Reksadana
Saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Investor yang membeli saham berarti ikut memiliki perusahaan tersebut dan berhak atas potensi keuntungan, baik dari kenaikan harga saham (capital gain) maupun dividen.
Namun, risiko kerugiannya juga tinggi karena harga saham bisa berfluktuasi tajam mengikuti kondisi pasar dan kinerja perusahaan.
Sementara itu, reksadana adalah wadah investasi kolektif yang menghimpun dana dari masyarakat untuk kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI).
Dana tersebut ditempatkan ke berbagai instrumen seperti saham, obligasi, atau pasar uang sesuai jenis reksadananya. Diversifikasi ini membuat risiko relatif lebih terkelola.
Baca juga : Beyoncé Resmi Jadi Miliarder Versi Forbes
Risiko dan Potensi Imbal Hasil
Dari sisi risiko, saham dikenal sebagai instrumen high risk–high return. Dalam kondisi pasar yang positif, keuntungan saham bisa melampaui 20 persen per tahun, namun dalam situasi buruk, nilainya juga bisa turun signifikan.
Reksadana menawarkan profil risiko yang lebih beragam. Reksadana saham memiliki potensi imbal hasil sekitar 15–20 persen per tahun, sementara reksadana pendapatan tetap berkisar 6-8 persen per tahun. Meski potensi keuntungannya lebih rendah dibanding saham individual, risikonya dinilai lebih stabil karena dana tersebar di banyak aset.
Modal dan Kemudahan Akses
Dari sisi modal awal, saham di Bursa Efek Indonesia dapat dibeli mulai dari 1 lot (100 lembar). Dengan harga saham Rp1.000 per lembar, investor membutuhkan modal minimal Rp100.000, belum termasuk biaya transaksi.
Adapun reksadana dikenal sangat ramah pemula. Banyak produk reksadana dapat dibeli mulai dari Rp10.000 hingga Rp100.000, dengan akses yang mudah melalui aplikasi bank, dompet digital, maupun platform investasi online.
Waktu dan Keterlibatan Investor
Berinvestasi saham menuntut keterlibatan aktif. Investor perlu mempelajari analisis fundamental dan teknikal, memantau pergerakan pasar, serta mengambil keputusan beli atau jual secara mandiri.
Sebaliknya, reksadana bersifat lebih pasif. Investor cukup memilih produk yang sesuai, sementara pengelolaan portofolio dilakukan oleh Manajer Investasi. Hal ini membuat reksadana cocok bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu atau belum memiliki pengetahuan mendalam tentang pasar modal.
Baca juga : Fakta Ekspansi CUAN 2025: Dari Listrik hingga Tambang SINI
Pilih Sesuai Profil Risiko
Bagi investor dengan profil risiko tinggi, tujuan jangka panjang, dan waktu untuk belajar serta memantau pasar, saham kerap menjadi pilihan utama karena memberikan kontrol penuh dan potensi pertumbuhan lebih agresif.
Sementara itu, reksadana lebih sesuai bagi investor pemula, pemilik modal terbatas, atau mereka yang menginginkan investasi yang praktis dengan risiko lebih terkendali.
Sejumlah perencana keuangan menyarankan strategi mengombinasikan saham dan reksadana dalam satu portofolio. Reksadana dapat berfungsi sebagai fondasi stabil, sementara saham menjadi pendorong pertumbuhan nilai investasi.
Dengan pendekatan ini, investor dapat menyeimbangkan risiko dan imbal hasil sesuai tujuan keuangannya.
Pada akhirnya, pilihan antara saham dan reksadana bersifat sangat personal. Instrumen terbaik bukan yang menawarkan keuntungan tertinggi, melainkan yang paling sesuai dengan tujuan, toleransi risiko, dan gaya hidup investor.
Tanpa pemahaman tersebut, investasi berisiko berubah menjadi spekulasi. Sebaliknya, dengan strategi yang tepat, baik saham maupun reksadana sama-sama dapat menjadi alat untuk membangun kekayaan jangka panjang.

Amirudin Zuhri
Editor
