IHSG Anjlok dan Asing Kabur Rp15 T, Sekuat Apa Ekonomi RI?
- Pasar gejolak dan IHSG rontok, sekuat apa ekonomi RI? Pemerintah jamin stabilitas lewat data kredit perbankan dan proyeksi PDB di tengah transisi pimpinan OJK.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pasar modal Indonesia memasuki babak sangat krusial pada awal Februari 2026 ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan perdagangan di bawah bayang-bayang tekanan jual masif investor asing. Sinergi kebijakan pemerintah dan respons cepat Pejabat Sementara OJK diharapkan mampu membentengi pasar keuangan.
Berdasarkan data perdagangan bursa hingga penutupan Jumat lalu, IHSG terjerembap ke level 8.329. Angka ini tercatat melemah sangat tajam sekitar 6,94% jika dibandingkan pekan sebelumnya. Tekanan tersebut semakin diperparah aliran modal keluar investor asing di pasar reguler yang menembus Rp15,7 triliun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menilai koreksi tajam dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi domestik, sentimen negatif MSCI effect menjadi pemicu utama gejolak pasar. "Sentimen ini membuat pasar domestik bergejolak, termasuk dinamika pergantian pimpinan bursa," ujar David dalam keterangan resmi pada Senin, 2 Februari 2026.
Fundamental Ekonomi Kuat
Merespons gejolak tersebut, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan resmi di Lobby Utara Wisma Danantara, Sabtu. 31 Januari 2026. Ia menegaskan sistem pengelolaan keuangan nasional tetap kokoh. "Institusi kita kuat karena dikelola sesuai standar tata kelola baik. Pemerintah berdiri teguh di belakang pasar keuangan kita," ujar Airlangga.
Airlangga memaparkan bahwa upaya stabilisasi pasar modal didukung kondisi perbankan yang kuat. Pertumbuhan kredit tercatat mencapai 9,6% dengan rasio permodalan atau CAR di level 25,87%. Data fundamental perbankan tersebut memberikan keyakinan tambahan bahwa ekonomi Indonesia memiliki daya tahan tinggi.
Pemerintah kini berfokus mengembalikan kepercayaan investor internasional melalui perbaikan transparansi dan tata kelola. Airlangga menegaskan penguatan aturan beneficial ownership dan peningkatan likuiditas melalui free float 15% menjadi prioritas utama. Langkah strategis ini diharapkan mampu meredam tekanan jual asing ke depan.
Selain perbankan, Airlangga turut menyoroti kekuatan fundamental ekonomi dengan pertumbuhan kuartal ketiga yang mencapai 5,04%. Ia optimis data pertumbuhan terbaru yang akan segera diumumkan BPS mencatatkan hasil lebih baik. "Diperkirakan lebih besar daripada pertumbuhan yang di kuartal ke-3," ungkapnya penuh keyakinan.
Bayang-bayang Sentimen Global
Di sisi lain, interim freeze dari MSCI disertai peringatan penurunan bobot saham Indonesia menjadi risiko nyata. Jika tidak ada perbaikan transparansi hingga Mei 2026, status emerging market Indonesia terancam degradasi. Kondisi ini memaksa pemerintah bergerak cepat melakukan reformasi struktural guna menjaga kredibilitas.
Situasi eksternal berupa ancaman tarif perdagangan Amerika Serikat juga turut mendorong volatilitas global. Potensi respons keras Uni Eropa terhadap kebijakan tarif Donald Trump memicu pelarian modal ke aset aman. Hal ini menekan pergerakan mata uang negara berkembang termasuk rupiah dan kinerja aset pasar modal.
Dinamika politik internasional tersebut menciptakan tekanan luar biasa bagi aliran modal asing di Asia. Investor cenderung memilih wait and see sambil mencermati perkembangan eskalasi ekonomi dunia. "Pasar masih dibayangi ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat yang kembali memanas seiring isu Greenland Trade War," tambah David.
Meski pasar sedang bergejolak, David menilai estafet kepemimpinan baru di BEI dan OJK justru menjadi katalis positif. Penunjukan Friderica Widyasari Dewi sebagai Pejabat Sementara dianggap langkah strategis. "Estafet kepemimpinan baru justru berpotensi menjadi katalis perbaikan jangka menengah mengingat rekam jejak profesional mereka," tegas David.
Proyeksi dan Rekomendasi Saham
Ke depan pelaku pasar akan mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 pekan ini. IPOT memperkirakan GDP berada di kisaran 5,1% hingga 5,2% secara tahunan. Realisasi pertumbuhan ekonomi yang solid sangat dibutuhkan untuk memulihkan kepercayaan investor terhadap prospek bisnis domestik.
Angka pertumbuhan tersebut diharapkan mampu mengimbangi sentimen negatif MSCI. Stabilitas makroekonomi yang terjaga menjadi kunci utama pemulihan indeks pasar modal. "Jika realisasi di atas ekspektasi, ini bisa menjadi dorongan bagi IHSG untuk membangun support baru, bahkan membuka peluang menuju area 9.000," jelas David.
Di tengah fluktuasi ini, IPOT tetap merekomendasikan strategi transaksi pada saham yang sedang naik. Beberapa pilihan saham antara lain WIIM dengan target Rp1.975 serta JPFA pada Rp3.090. Strategi trading yang disiplin sangat disarankan bagi investor ritel guna meminimalisir risiko kerugian modal.
Selain saham, reksadana Premier ETF Indonesia Consumer atau XIIC dinilai cukup defensif di tengah tekanan pasar. Sektor konsumsi diprediksi tetap tangguh menghadapi volatilitas harga saham karena permintaan masyarakat yang stabil. "Sektor ini relatif defensif didukung prospek sektor konsumsi yang cukup menjanjikan," pungkas analis David Kurniawan.

Alvin Bagaskara
Editor
