Profil Jeffrey Hendrik Pjs Dirut BEI, Mampukah Genjot IHSG?
- Jeffrey Hendrik ditunjuk sebagai Pjs Dirut BEI di tengah gejolak pasar. Akankah kepemimpinannya mampu memulihkan kepercayaan dan mengangkat IHSG?

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Penunjukan Jeffrey Hendrik sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 31 Januari 2026 menjadi langkah strategis di tengah tekanan besar yang sedang dihadapi pasar modal Indonesia.
Ia menggantikan Iman Rachman yang mengundurkan diri di saat sentimen pasar tertekan oleh gejolak internal serta peninjauan indeks saham Indonesia oleh lembaga global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pengangkatan ini tidak hanya bertujuan mengisi kekosongan jabatan, tetapi juga menjadi sinyal stabilisasi untuk meredam kekhawatiran investor, khususnya investor global.
Rekam Jejak Jeffrey
Jeffrey Hendrik bukan sosok baru di industri pasar modal. Sebelum dipercaya sebagai Pjs Dirut BEI, ia menjabat Direktur Pengembangan BEI sejak Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 29 Juni 2022.
Ia merupakan lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Trisakti tahun 1995 dan memulai kariernya di sektor keuangan sejak awal 1990-an.
Pengalaman panjangnya di dunia pasar modal mencapai puncak ketika ia memimpin PT Phintraco Sekuritas sebagai Direktur Utama selama 23 tahun, dari 1999 hingga 2022.
Selain itu, sejak 2021 ia juga tercatat sebagai anggota Task Force Keuangan Berkelanjutan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang berperan dalam perumusan kebijakan terkait penguatan ESG dan keuangan berkelanjutan.
Pengangkatan Jeffrey Hendrik terjadi di tengah situasi yang bisa disebut sebagai ujian berat bagi kepemimpinan BEI. Tugas paling mendesak yang dihadapinya adalah mengembalikan kepercayaan investor global, terutama setelah MSCI melakukan peninjauan terhadap indeks saham Indonesia.
Baca juga : Dirut BEI Mundur, IHSG Langsung Menguat 1,18 Persen
Pada 2 Februari 2026, Jeffrey dijadwalkan mewakili BEI bersama OJK dalam pertemuan daring dengan MSCI guna meyakinkan lembaga tersebut bahwa Indonesia berkomitmen meningkatkan transparansi dan tata kelola pasar modal.
Selain itu, ia juga harus memastikan stabilitas operasional BEI tetap terjaga di tengah isu pengunduran diri sejumlah pejabat dan tekanan sentimen pasar, seraya menenangkan pelaku pasar bahwa seluruh aktivitas bursa berjalan normal dan proses pengambilan keputusan tidak terganggu.
Tantangan lain yang tak kalah penting adalah memulihkan sentimen IHSG yang tertekan oleh kombinasi faktor domestik dan global.
Di luar tekanan jangka pendek, penunjukan Jeffrey Hendrik juga membuka peluang strategis bagi arah pengembangan BEI ke depan. Latar belakangnya sebagai praktisi sekuritas membuatnya memahami secara mendalam kebutuhan teknis pasar, dinamika industri, serta perilaku investor, baik institusi maupun ritel.
Perspektif ini berpotensi memperkuat jembatan antara regulator dan pelaku pasar. Jeffrey juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap penguatan tata kelola dan transparansi, bukan semata mengejar pertumbuhan kapitalisasi.
Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya edukasi investor agar lebih rasional, pengembangan pasar modal syariah, serta keberlanjutan program pengembangan produk seperti bursa karbon.
Baca juga : Dirut BEI Mundur, IHSG Langsung Menguat 1,18 Persen
Karena berasal dari internal BEI, kesinambungan program pengembangan pasar dinilai akan tetap terjaga.
Pertanyaan utama yang kini mengemuka adalah sejauh mana Jeffrey Hendrik mampu membawa perubahan nyata bagi BEI dan IHSG, terutama dengan statusnya sebagai pejabat sementara.
Dampak kepemimpinannya akan sangat ditentukan oleh hasil pertemuan dengan MSCI, kebijakan konkret yang diumumkan setelahnya, serta kemampuannya berkoordinasi dengan OJK dalam mendorong reformasi tata kelola pasar modal.
Jika mampu mengelola krisis ini secara efektif, Jeffrey berpeluang menjadi figur transisi yang tidak hanya menstabilkan BEI, tetapi juga meletakkan fondasi pemulihan kepercayaan jangka panjang yang pada akhirnya tercermin pada pergerakan IHSG. Namun, apabila reformasi hanya berhenti pada tataran narasi, pasar kemungkinan akan tetap bersikap skeptis.

Muhammad Imam Hatami
Editor
