AS-China 'Berdamai' di Inggris, Efeknya Sampai ke Kantong Kita Loh!
- Pertemuan dagang AS-China di London membawa angin segar ke pasar global. Dampaknya langsung terasa ke rupiah, IHSG, dan peluang ekspor Indonesia. Apa saja poin pentingnya?

Muhammad Imam Hatami
Author


LONDON – Inggris mencuri perhatian dunia dengan menjadi tuan rumah pertemuan dagang tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan China. Pertemuan ini bertujuan meredakan ketegangan perang tarif yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Negosiasi dua hari yang memakan waktu hampir 20 jam ini digelar di London, tak jauh dari Istana Buckingham. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan awal berupa kerangka kerja implementasi atas konsensus yang sebelumnya dicapai di Jenewa.
Fokus utama perundingan adalah isu ekspor mineral tanah jarang dan magnet dari China, yakni komoditas strategis yang sangat dibutuhkan industri teknologi dan pertahanan global.
Pemerintahan AS, yang diwakili Menteri Perdagangan Howard Lutnick, menekankan agar China memperkuat komitmennya dalam menjaga stabilitas ekspor. Hal ini sejalan dengan kesepakatan gencatan senjata tarif yang telah disetujui sebelumnya.
“Pertemuan berlangsung sangat baik dan bisa diperpanjang jika diperlukan,” ujar Lutnick.
Delegasi AS langsung bertolak kembali ke Washington untuk melaporkan hasil negosiasi kepada Presiden Donald Trump guna menentukan langkah lanjutan.
Dampak ke Ekonomi Global dan Indonesia
Pertemuan ini memberikan angin segar ke pasar global, termasuk Indonesia. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa nilai tukar rupiah menunjukkan kecenderungan terkonsolidasi dengan pelemahan terbatas, merespons sentimen positif dari negosiasi tersebut.
“Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas terhadap dolar AS yang rebound di tengah antisipasi investor terhadap hasil pembicaraan tarif antara China dan AS,” jelas Lukman, dikutip Rabu, 11 Juni 2025.
Rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp16.200–Rp16.300 per dolar AS. Pada perdagangan terbaru, rupiah dibuka menguat tipis 3 poin (0,02%) ke Rp16.272 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.275.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencerminkan pengaruh sentimen global. Meski sempat dibuka melemah 16,15 poin (0,22%) ke level 7.214,59, Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menilai potensi penguatan masih terbuka, seiring harapan terhadap hasil positif dari perundingan dagang di London.
“IHSG berpeluang menguat terbatas hari ini,” tulis tim riset dalam kajian mereka, Rabu, 11 Juni 2025.
Stabilitas dan Tantangan ke Depan
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa cadangan devisa per Mei 2025 tetap stabil di angka US$152,5 miliar, menunjukkan ketahanan ekonomi nasional meski di tengah gejolak global.
Namun, potensi kenaikan inflasi AS yang diperkirakan mencapai 2,5% secara tahunan (year-on-year) pada Mei masih menjadi perhatian pelaku pasar. Jika terealisasi, hal ini bisa mengurangi peluang The Fed untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Dari sisi hubungan dagang bilateral, AS menyatakan bahwa dokumen tarif Indonesia telah sesuai dan tak memerlukan putaran negosiasi lanjutan. Hal ini memberikan kepastian lebih bagi pelaku usaha Indonesia, khususnya eksportir yang mengandalkan pasar AS.

Ananda Astridianka
Editor
