Tren Pasar

Aksi Rights Issue CBRE Rp1,91 Triliun Berpotensi Dilusi Saham Segini

  • Emiten pelayaran CBRE bidik dana segar Rp1,91 triliun lewat rights issue dengan rentang harga Rp100-Rp150. Ketahui jadwal dan risiko dilusi sahamnya.
CBRE ilustrasi.png
Ilustrasi bisnis PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE). (cbre.co.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID - PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) bersiap menggelar Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau right issue secara resmi. Emiten perkapalan portofolio Andry Hakim ini menargetkan perolehan dana segar maksimal Rp1,91 triliun guna memperkuat operasional dan pendanaan perusahaan.

Prospektus ringkas mencatat bahwa manajemen perseroan berencana menerbitkan maksimal 12,76 miliar saham baru dengan menetapkan nilai nominal Rp25 per lembar. Harga pelaksanaan rights issue tersebut secara resmi telah diproyeksikan pada rentang Rp100 hingga Rp150 per lembar sahamnya.

Melalui skema rights issue ini, setiap pemegang 90 saham lama perseroan berhak mendapatkan 253 HMETD secara penuh. Rencana penerbitan saham baru tersebut berpotensi menimbulkan efek dilusi kepemilikan maksimum sebesar 73,76% bagi para investor pasar reguler maupun tunai.

Terdapat ketentuan teknis terkait hak memesan efek dalam wujud pecahan yang dipastikan akan selalu dibulatkan ke bawah. Hak atas pecahan saham tersebut wajib dijual dan seluruh hasil penjualannya akan langsung dimasukkan ke dalam rekening resmi operasional perseroan.

Jadwal Pelaksanaan dan Pencatatan Saham

Rencana aksi korporasi tersebut telah mendapatkan restu pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa 18 Desember 2025. Tanggal akhir perdagangan saham dengan HMETD atau cum right pasar reguler resmi akan jatuh pada 26 Mei 2026.

Sementara itu, jadwal cum right untuk pasar tunai serta tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak ditetapkan pada 2 Juni 2026. Proses distribusi dokumen HMETD secara elektronik akan dilaksanakan pada keesokan harinya, yakni tepat pada 3 Juni 2026.

Selanjutnya, pencatatan saham baru hasil pelaksanaan di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan tepat pada 4 Juni 2026. Periode perdagangan sekaligus masa pelaksanaan HMETD akan berlangsung efektif mulai tanggal 4 hingga 10 Juni 2026 bagi seluruh para pemegang saham.

Setelah seluruh proses pelaksanaan dan perdagangan hak tersebut rampung, perseroan telah menetapkan periode penyerahan saham hasil pelaksanaan HMETD. Jadwal penyerahan saham baru kepada investor yang berpartisipasi dijadwalkan akan berlangsung mulai tanggal 8 hingga 12 Juni tahun 2026.

Manuver Pengendali dan Skema Konversi Utang

Struktur kepemilikan perseroan didominasi oleh Omudas Investment Holdco sebesar 61,13% dan Republik Capital Indonesia sebesar 11,30%. Kedua entitas pemegang saham utama tersebut menyatakan secara resmi tidak akan melaksanakan haknya dalam aksi korporasi penggalangan dana berskala besar ini.

Kedua entitas pemegang saham utama tersebut sepakat akan mengalihkan sebagian atau seluruh HMETD mereka kepada pihak investor lain. Terdapat empat pihak strategis yang telah dipastikan menerima pengalihan hak tersebut guna berpartisipasi dalam aksi penambahan modal perseroan ini.

Keempat pihak tersebut meliputi Hilong Shipping Holding Limited, PT Saga Investama Sedaya, Yafin Tandiono Tan, dan PT Superkrane Mitra Utama Tbk. Nilai pinjaman yang akan dikonversi menjadi ekuitas mencapai Rp924 miliar menggunakan patokan nilai kurs mata uang tertentu.

Rincian konversi mencakup tagihan Hilong senilai US$25 juta atau setara Rp420 miliar dan Saga Investama sebesar US$12,5 juta ekuivalen Rp210 miliar. Asumsi kurs yang digunakan untuk transaksi konversi ini dipatok secara pasti sebesar Rp16.800 untuk setiap dolarnya.

Selanjutnya, Yafin Tandiono Tan akan mengonversi pinjaman senilai US$11 juta atau setara Rp184,8 miliar. Sementara itu, Superkrane turut mengonversi hak tagih senilai US$6,5 juta yang memiliki nilai ekuivalen sebesar Rp109,2 miliar secara penuh dalam rencana aksi korporasi ini.

Mekanisme konversi pinjaman dari empat investor strategis tersebut akan langsung mengubah sebagian kewajiban perseroan menjadi ekuitas murni. Aksi korporasi skala besar ini dipastikan tidak mengubah struktur pengendali perseroan, sehingga status pengendalian perusahaan pelayaran laut tersebut tetap terjaga utuh.

Alokasi Dana, Kinerja Saham, dan Tips Investasi

Setelah proses konversi utang selesai dan dipotong ragam biaya emisi rights issue, perseroan akan segera mengalokasikan sisa dananya. Sebanyak Rp150 miliar disiapkan sebagai belanja modal pembelian armada kapal Anchor Handling Tug Supply dan sisa dananya khusus dialokasikan untuk modal kerja.

Dari aspek manajemen risiko, dokumen prospektus secara rinci mencantumkan bahwa risiko utama bisnis perseroan adalah fluktuasi permintaan jasa pelayaran lepas pantai. Profil risiko tersebut menjadi pertimbangan material penting bagi seluruh pemegang saham publik dalam mengambil sebuah keputusan investasi.

Data laporan posisi keuangan menunjukkan jumlah liabilitas perseroan tercatat terus meningkat signifikan mencapai lebih dari Rp1,95 triliun pada Desember 2025. Konversi utang menjadi ekuitas melalui penambahan modal ini pastinya akan langsung memperbaiki postur neraca keuangan perseroan secara menyeluruh.

Dari lantai bursa, pergerakan saham CBRE pada penutupan perdagangan hari Jumat, 13 Maret 2026, ditutup melemah sebesar 6,59% menuju level Rp850 per lembar. Jika diukur sejak periode awal tahun, kinerja saham emiten pelayaran ini tercatat telah mengalami pelemahan sebesar 15,42%.

Meskipun pergerakan saham ini mengalami tren pelemahan sejak periode awal tahun, data historis menunjukkan rekam jejak jangka panjang yang sangat berbeda. Apabila dibandingkan dengan posisi tahun lalu, harga saham CBRE ini tercatat masih menanjak cukup drastis hingga mencapai 2.800%.