Garuda Indonesia (GIAA) dan Efek Kejut Danantara
- Danantara kucurkan dana segar US$1,4 miliar untuk restrukturisasi Garuda Indonesia. Mampukah delapan pilar pemulihan ini membawa saham GIAA lepas landas?

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Langkah strategis Danantara untuk mengucurkan dana segar sebesar US$ 1,4 miliar menjadi faktor determinan tunggal yang mengubah peta jalan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Intervensi finansial masif ini bukan sekadar bantuan likuiditas, melainkan katalis utama yang memicu proyeksi fantastis lonjakan laba bersih maskapai nasional hingga 23 kali lipat.
Tanpa dukungan finansial tersebut, rencana pemulihan maskapai yang telah mengangkasa sejak 1947 ini dipastikan tidak akan memiliki landasan kokoh. Oleh karena itu, analis Samuel Sekuritas, Jason Sebastian, menegaskan peran Danantara adalah kunci pembuka bagi normalisasi neraca keuangan emiten bersandikan GIAA.
"Dalam pandangan kami, pertumbuhan berkelanjutan bagi GIAA pada akhirnya bergantung pada dua faktor kunci: neraca yang lebih kuat dan pertumbuhan laba yang konsisten. Perbaikan neraca memerlukan restrukturisasi utang dan modal baru melalui suntikan modal US$1,0 miliar serta konversi utang menjadi ekuitas sebesar US$405 juta," jelas Jason dalam risetnya dikutip pada Kamis, 12 Maret 2025.
Transformasi Lewat Delapan Pilar Pemulihan
Kehadiran modal dari Danantara memberikan ruang bagi manajemen Garuda Indonesia untuk menjalankan delapan inisiatif prioritas strategis guna mengembalikan kejayaan perusahaan. Jason Sebastian merinci pilar pemulihan tersebut dimulai dari upaya memperbaiki neraca, rasionalisasi armada dan biaya, hingga kebijakan memprioritaskan margin di atas pangsa pasar secara disiplin.
Langkah selanjutnya mencakup penguatan manajemen yield berbasis data, penyegaran integritas kepemimpinan, hingga pembenahan budaya organisasi melalui cultural reset. Strategi ini juga memposisikan kondisi negatif saat ini sebagai katalis inovasi jangka panjang serta pembentukan aliansi strategis guna memperluas jangkauan operasional perusahaan dengan risiko modal sangat terbatas.
"Kami berekspektasi bahwa proses restrukturisasi ini akan berjalan jauh lebih efektif dibandingkan upaya sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari tim manajemen baru serta fokus ketat Danantara pada kedisiplinan belanja modal dan target profitabilitas jangka panjang yang harus dipenuhi secara konsisten oleh manajemen Garuda Indonesia," jelas Jason.
Menakar Proyeksi Laba dan Efisiensi
Berkat normalisasi neraca oleh Danantara, sisi operasional Garuda diperkirakan mulai menunjukkan pemulihan pendapatan signifikan mulai tahun 2026. Samuel Sekuritas pun memproyeksikan pendapatan GIAA meningkat menjadi US$3,7 miliar pada 2026 dan US$4,0 miliar pada 2027 seiring membaiknya rute serta optimalisasi harga tiket pesawat di segmen layanan penuh nasional.
"Kombinasi antara disiplin biaya dan pengurangan utang diharapkan mampu mengubah laba bersih perusahaan menjadi positif mulai tahun depan. Kami memperkirakan laba akan berbalik positif tahun depan sebesar US$3 juta, sebelum meningkat lebih lanjut menjadi US$59 juta, melonjak 23 kali lipat secara tahunan dibandingkan periode sebelumnya," ungkap Jason.
Penguatan performa keuangan ini akan tercermin pada margin EBITDAR yang diharapkan naik menuju level 30,6% pada tahun 2026. Perbaikan tersebut terbantu oleh penggunaan armada secara lebih efisien dan penurunan biaya pemeliharaan akibat minimnya pesawat menganggur di antara total kekuatan 135 armada pesawat yang dioperasikan oleh maskapai Garuda Indonesia saat ini.
Potensi Capital Gain dan Risiko Investasi
Dari lantai bursa, saham GIAA pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026, bertengger di level Rp70 per saham. Artinya, mengacu target Samuel Sekuritas sebesar Rp130, investor berpotensi memperoleh capital gain signifikan dari kenaikan harga saham maskapai tersebut jika target harga tersebut tercapai nanti di masa depan.
"Kami memulai cakupan pada GIAA dengan rekomendasi BELI dan target harga Rp130, yang menyiratkan potensi kenaikan sebesar 75,7%. Pada target harga ini, GIAA dinilai pada proyeksi EV/EBITDAR tahun 2026 sebesar 9,0 kali, yang sejalan dengan rata-rata industri namun didukung margin yang kuat," tulis Jason.
Namun, Samuel Sekuritas juga menyoroti beberapa risiko utama terhadap proyeksi tersebut. Diantaranya meliputi volume penumpang rendah, biaya bahan bakar naik, dan biaya bunga di atas perkiraan. Langkah antisipasi ini sangat krusial untuk menjaga momentum pemulihan dan keberlanjutan operasional jangka panjang maskapai Garuda Indonesia mendatang.

Alvin Bagaskara
Editor
