Tarif Kapal Meroket 18 Kali, Saham BULL Siap Panen Cuan?
- Konflik Timur Tengah kerek tarif sewa kargo 18 kali lipat. Intip taktik ekspansi emiten pelayaran BULL dan bocoran masuknya pemodal kakap skala global.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Emiten pelayaran PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) resmi berekspansi memborong belasan armada kapal gas alam cair. Langkah strategis perseroan tersebut bertujuan menangkap peluang emas dari lonjakan tarif sewa kargo komersial akibat disrupsi rantai pasok energi global.
Eskalasi konflik militer yang melibatkan Iran dan negara kawasan Timur Tengah memicu kelangkaan pasokan armada logistik. Kondisi bergejolak tersebut membuat ratusan armada takut melintas di perairan Selat Hormuz sehingga langsung melambungkan tarif sewa secara sangat drastis.
Berkah kelangkaan kapal komersial tersebut sukses mengerek tarif sewa logistik melonjak tajam hingga mencapai delapan belas kali lipat. Momentum menguntungkan ini meroket dari level 60 ribu dolar AS kini menjadi 300 ribu dolar AS per hari untuk kargo spot.
Gelombang Ekspansi Armada LNG
Merujuk pada dokumen Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia tertanggal 12 Maret 2026, ekspansi perseroan terus berlanjut. Perusahaan kini bersiap menyambut armada kapal tanker LNG berkapasitas 78 ribu bobot mati ton dengan panjang 280 meter yang diserahterimakan pada kuartal pertama.
Manuver berani perseroan sangat selaras dengan datangnya gelombang ketiga ekspansi LNG dunia. Periode keemasan industri energi ini diproyeksikan sukses menghasilkan kapasitas fasilitas pencairan gas baru lebih dari 200 juta ton per tahun hingga puncaknya pada perayaan akhir tahun 2030.
Lonjakan permintaan kargo komersial tersebut diproyeksikan memicu pengetatan pasar sebesar 11,5 persen akibat ketimpangan jumlah armada logistik maritim. "Hal ini mencerminkan komitmen terhadap strategi perusahaan," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi.
Perburuan Modal Kakap Skala Global
Melalui tayangan podcast bersama Samuel Sekuritas pada 10 Maret 2026, perseroan menegaskan konsistensi untuk memperkuat pilar fasilitas produksi. "Sekarang boleh dibilang kami satu-satunya perusahaan tanker Indonesia yang mendapatkan pendapatan dari luar negeri gitu," papar Direktur BULL Kevin.
Kevin menjelaskan penyelesaian konflik militer kawasan Timur Tengah diyakini tetap memberikan sentimen positif bagi industri pelayaran. "Kalau dia pakai kapal yang safe, all of this substandard ships will die. And what happens itu akan remove a lot of artificial supply," ungkap Kevin.
Ia juga menyampaikan ekspansi armada berbiaya raksasa tentu memicu besarnya kebutuhan likuiditas kas. Merespons kendala tersebut, direksi merancang penjajakan pendanaan secara intensif. "Karena kita lihat potensi peluang kita itu sangat-sangat signifikan di mana kita memerlukan akan berinvestasi beberapa miliar dolar potentially gitu," ungkap Kevin.
Kevin menambahkan bahwa proses pencarian mitra pemodal kakap ini diklaim berjalan lancar. "Kita sudah membicarakan dengan calon strategic investor dan partner sudah cukup lama dan proses sudah berjalan dan kita targetkan ya sebelum middle of the year sudah bisa mulai mengeksekusi itu," tutur Kevin.
Bocoran Aksi Korporasi dan Proyeksi Valuasi
Sementara itu, analis MNC Sekuritas Victoria Venny dalam risetnya tertanggal 27 Februari 2026, mengatakan valuasi saham BULL berada pada rasio harga terhadap nilai buku sebesar 2,7 kali. Angka tersebut dinilai sangat murah karena konsistensi mencetak profit. "BULL telah mencatatkan laba selama tiga tahun berturut-turut hingga 2025," ungkap Victoria Venny.
Saham emiten ini kini diperdagangkan pada rasio harga terhadap pendapatan sebesar 29,1 kali di bursa domestik. "Dengan struktur biaya tetap dan tarif sewa yang kuat, periode pengembalian investasi dapat kurang dari 2 tahun dalam siklus pasar yang kuat," jelas Venny.
Perusahaan ini telah memiliki total kapasitas armada melebihi 700 ribu bobot mati ton. "Manajemen juga menyampaikan bahwa proses pembentukan kemitraan strategis sudah mendekati final, dengan skema pendanaan melalui kombinasi pinjaman bank, rights issue, dan joint venture (JV)," ungkapnya.
Venny menambahkan manajemen BULL memilih mengakuisisi kapal bekas senilai 25 juta dolar AS hingga 40 juta dolar AS ketimbang membeli unit baru seharga 270 juta dolar AS. Tak ayal, langkah efisiensi ini juga mempercepat ekspansi fasilitas produksi terapung dengan alokasi belanja modal mencapai 300 juta dolar AS.

Alvin Bagaskara
Editor
