Alasan Saham BULL Mendadak Jadi Primadona Investor Ritel
- BULL bidik ekspansi miliaran dolar berkat berkah tarif tanker akibat geopolitik. Diversifikasi bisnis LNG dan investor strategis picu lonjakan investor ritel.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Memanasnya tensi geopolitik global di kawasan Timur Tengah rupanya membawa angin segar bagi industri pelayaran. Di tengah disrupsi rantai pasok energi akibat konflik tersebut, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) justru bersiap menangkap peluang investasi emas bernilai fantastis.
Perseroan secara resmi mencanangkan tahun 2026 sebagai titik awal transformasi fundamental untuk memaksimalkan momentum tingginya tarif sewa. Transformasi tajam ini mencakup peralihan fokus pendapatan utama menuju armada kapal gas, serta memperkuat cengkeraman operasional perusahaan di pasar maritim internasional.
Rencana manuver bernilai miliaran dolar tersebut rupanya selaras dengan tingginya antusiasme pelaku pasar modal. Saham BULL belakangan ini terbukti sukses mencuri perhatian para investor ritel di kanal media sosial. Hal ini tampak jelas dari lonjakan tajam jumlah investor pemilik saham pelayaran ini.
Berdasarkan data terbaru, jumlah investor mengalami kenaikan pesat dari sebelumnya hanya sebanyak 69.261 SID melesat tajam menjadi 84.871 SID. Pencapaian pertumbuhan luar biasa kepemilikan saham tersebut tercatat secara resmi pada akhir bulan Februari 2026 yang lalu di pasar modal domestik.
Dari lantai bursa, pergerakan saham berkode emiten BULL ini terpantau menguat 4,74% ke level Rp398 per saham pada penutupan perdagangan Selasa 10 Maret 2026. Menariknya, di tengah hangatnya rencana ekspansi bisnis ini, saham perseroan masih mengalami koreksi 21,78% secara year to date.
Cuan Geopolitik Kerek Tarif Sewa
Tak ayal, koreksi harga saham tersebut justru membuka peluang akumulasi mengingat fundamental BULL sedang diuntungkan. Dinamika geopolitik akibat memanasnya kawasan Selat Hormuz menyebabkan ratusan kapal takut melintas. Disrupsi ini memicu kelangkaan pasokan armada yang otomatis melambungkan tarif sewa kapal secara drastis.
Penyelesaian konflik Iran berpotensi memberikan sentimen positif tambahan bagi industri pelayaran. "Kalau dia pakai kapal yang safe, all of this substandard ships will die. And what happens itu akan remove a lot of artificial supply," papar Direktur BULL Kevin Wong, dalam tayangan podcast di Youtube Samuel Sekuritas dikutip Selasa, 10 Maret 2026.
Hilangnya kapal ilegal dari peredaran akan memperketat suplai pasar. Dampak kondisi ini sangat menguntungkan. Tarif sewa kapal yang awal tahun berada di kisaran US$60.000 hingga US$70.000 dolar per hari, kini meroket hingga US$269.000 dolar per hari, mendekati rekor tahun 2019.
Berkah tarif tinggi ini sejalan dengan kematangan strategi ekspansi operasional. Sejak tahun 2005, emiten berkodekan BULL sangat bergantung pada pasar domestik. Namun, perusahaan kini berhasil menggeser fokus menuju perairan internasional untuk memaksimalkan margin laba di tengah tingginya fluktuasi permintaan maritim global.
Manuver berani perseroan berekspansi ke luar negeri ini dinilai sukses memperkuat ketahanan finansial di masa mendatang. "Sekarang boleh dibilang kami BL satu-satunya perusahaan tanker Indonesia yang mendapatkan pendapatan rem dari luar negeri gitu," papar Kevin.
Banting Setir ke Bisnis LNG
Dominasi rute internasional kini disempurnakan dengan rencana diversifikasi armada kapal gas cair. Langkah banting setir menuju bisnis logistik energi bersih ini membuktikan kejelian direksi dalam memanfaatkan anjloknya harga kapal di pasaran imbas kebijakan pembatasan ekspor dari pemerintah Amerika Serikat.
Situasi pasar yang sedang tertekan tersebut justru memicu lahirnya peluang investasi bernilai murah. "Dengan itu membuat harga-harga kapal LNG tankers sangat murah yang not much more than scrap gitu. Nah, di situ yang kita lihat suatu golden opportunity for entry," jelasnya.
Strategi pembelian aset murah ini menunjukkan kehati-hatian manajemen dalam menjaga risiko likuiditas. Perseroan secara rasional menghindari pembelian kapal baru. Mereka sengaja memborong 12 armada pada fase pertengahan siklus demi menekan risiko modal kapital hingga mencapai kisaran 70 sampai 80 persen.
Perburuan Modal Investor Global
Namun, ekspansi armada gas berbiaya raksasa memicu tekanan likuiditas. Merespons keterbatasan kas ini, direksi merancang penjajakan intensif untuk menarik dana investor global. "Karena kita lihat potensi peluang kita itu sangat-sangat signifikan di mana kita memerlukan akan berinvestasi beberapa miliar dolar potentially gitu," ungkap Kevin.
Kevin mengungkapkan bahwa pembicaraan bersama para pemodal kakap diklaim lancar menuju tahap eksekusi yang diestimasikan pada semester I-2026. "Kita sudah membicarakan dengan calon strategic investor dan partner sudah cukup lama dan proses sudah berjalan dan kita targetkan ya sebelum middle of the year sudah bisa mulai mengeksekusi itu," papar Kevin.
Rencana aksi korporasi tersebut diyakini menjadi katalis pembalikan arah harga saham perseroan. Kehadiran mitra strategis kakap sanggup membuka jalan lebar bagi terwujudnya aneka skema ekspansi raksasa yang otomatis akan mendongkrak fundamental keuangan perusahaan di masa mendatang.

Alvin Bagaskara
Editor
