Tren Ekbis

Rupiah Tembus Rp17.000, Benarkah Situasinya Mirip 1998?

  • Rupiah sempat menembus Rp17.000 per dolar AS dan memicu kekhawatiran krisis 1998. Pemerintah menegaskan ekonomi Indonesia masih ekspansi di tengah gejolak global.
<p>Karyawati menunjukkan mata uang Dolar Amerika dan Rupiah di salah satu teller bank, di Jakarta, Rabu, 3 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Karyawati menunjukkan mata uang Dolar Amerika dan Rupiah di salah satu teller bank, di Jakarta, Rabu, 3 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Media sosial kini dipenuhi komentar kepanikan generasi muda yang menyamakan kondisi ekonomi saat ini dengan krisis moneter 1998. Hal ini dipicu oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang bergejolak tajam menembus batas psikologis Rp17.000 per Dolar AS pada Senin pagi, 9 Maret 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa pernyataan dari sejumlah pihak turut memberikan pengaruh terhadap sentimen pasar. Dinamika informasi di ranah publik tersebut pada akhirnya ikut memberikan tekanan tambahan pada pergerakan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini

"Rupiah 17.000, IHSG anjlok, karena sebagian teman-teman ekonom bilang, katanya kita sudah resesi, seperti 1998 lagi dan itulah, daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kita jaga mati-matian dan boro-boro krisis," ucapnya kepada awak media di Jakarta, pada Senin, 9 Maret 2026. 

Purbaya meminta para investor di pasar keuangan untuk tetap tenang menghadapi gejolak global. "Jangankan krisis. Resesi aja belum. Melambatnya aja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan," tegasnya. 

Rekor Kelam Rupiah di Pasar

Berdasarkan data pasar pagi ini, pergerakan nilai tukar rupiah dibuka melemah sebesar 0,45% ke posisi Rp17.001 per Dolar AS. Mata uang nasional tersebut akhirnya ditutup membaik pada level Rp16.949 per Dolar AS menjelang akhir sesi perdagangan hari Senin.

Angka ini melampaui rekor pandemi 2020 serta krisis 1998. Namun, pemerintah telah memetakan risikonya. "Kita sudah tahu krisis 1998 apa penyebabnya. Kita terapkan [mitigasinya] di 2008-2009. Ketika global jatuh, kita tumbuh bagus kan. 2020, kita jaga juga ekonominya dengan kebijakan yang pas," jelasnya.

Sebagai perbandingan, pada krisis Asia 1997–1998, rupiah jatuh sangat cepat dari sekitar Rp2.400 per dolar pada pertengahan 1997 menjadi sekitar Rp17.000 pada awal 1998. Saat itu Bank Indonesia memiliki ruang intervensi yang jauh lebih terbatas, baik dari sisi cadangan devisa, kerangka kebijakan moneter, maupun independensi kelembagaan dibandingkan kondisi saat ini.

Kini, pergerakan drastis arus modal keluar direspons dengan kerangka penanganan yang jauh lebih matang melalui sinergi kebijakan ganda. Bank Indonesia mengoptimalkan instrumen moneternya untuk menstabilkan pasar valuta asing secara langsung, sementara pemerintah menopang dari sisi fiskal untuk menjaga daya beli.

Harga Minyak Dunia Meroket

Bersamaan dengan pelemahan rupiah, harga minyak mentah Brent meroket 23,9% menjadi 116,1 Dolar AS per barel. Jenis West Texas Intermediate juga ikut melambung tajam hingga 25,2% menuju level 116,1 Dolar AS per barel pada sesi pembukaan perdagangan hari Senin.

Lonjakan harga komoditas energi tersebut membawa risiko besar bagi kas negara tahun ini. Kementerian Keuangan mencatat bahwa setiap kenaikan harga patokan minyak sebesar 1 Dolar AS berpotensi besar untuk menambah defisit anggaran fiskal pemerintah hingga mencapai angka Rp6,8 triliun.

Meski beban berisiko membengkak melampaui asumsi 70 Dolar AS per barel, pemerintah memilih menahan harga. "Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM, dalam pengertian, menaikkan harga BBM. Karena kita lihat seperti apa kondisinya," ungkap Purbaya.

Evaluasi Anggaran Pemerintah

Bendahara negara ini menjelaskan bahwa otoritas fiskal tidak ingin mengambil keputusan secara tergesa-gesa menghadapi gejolak pasar ini. Namun, evaluasi akan segera dilakukan. "Nanti kalau setelah sebulan semuanya berubah, kita akan evaluasi," tambahnya saat menanggapi ancaman lonjakan defisit di kas negara.

Pemerintah saat ini terus mengkaji efektivitas penyaluran tersebut di lapangan. "Banyak juga masyarakat yang membayar dengan harga subsidi. Jadi, kita lihat apakah itu bagus atau jelek ke ekonomi. Tapi sekarang belum saatnya ambil keputusan, karena uangnya [anggaran] masih cukup," tutup Purbaya.