Airlangga Hartarto: SRC Serap 1 Juta Tenaga Kerja dan UMKM
- Perkembangan SRC disebut menyerap 1 juta tenaga kerja dan menjadi pilar UMKM nasional melalui digitalisasi, pembiayaan KUR, dan penguatan ekonomi desa.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dibangun melalui jaringan Sampoerna Retail Community (SRC) memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, baik dari sisi penciptaan lapangan kerja maupun penguatan konsumsi domestik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto menyebut jumlah mitra SRC saat ini telah mencapai sekitar 250 ribu toko yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Skala tersebut menjadikan SRC sebagai salah satu jaringan UMKM ritel terbesar di tanah air.

“Kalau satu toko rata-rata mempekerjakan empat orang, maka sektor SRC ini menyerap sekitar 1 juta tenaga kerja, yang artinya ikut menghidupi kurang lebih 4 juta anggota keluarga,” kata Airlangga dalam acara Pesta Ritel 2026, di Bogor, Jawa Barat, Senin, 26 Januari 2026.
Menurutnya, dari sisi makroekonomi kontribusi sektor ritel dan konsumsi rumah tangga dinilai sangat krusial. Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang berada di kisaran Rp23.000 triliun, pertumbuhan ekonomi nasional dalam tujuh tahun terakhir tercatat stabil di sekitar 5% per tahun. Keberadaan UMKM ritel seperti SRC disebut menjadi salah satu penopang utama ketahanan ekonomi nasional.
Tidak hanya menyerap tenaga kerja, SRC juga dinilai berhasil mendorong modernisasi toko kelontong tanpa menghilangkan kepemilikan usaha oleh pelaku UMKM. “Kepemilikan toko tetap di tangan UMKM, bukan konglomerasi. Ini yang menjadi kekuatan SRC,” ujar Airlangga.
Digitalisasi menjadi faktor penting dalam penguatan ekosistem tersebut. Hampir seluruh toko SRC kini telah terhubung dengan platform digital, termasuk penggunaan sistem pembayaran QRIS, yang mempermudah transaksi dan meningkatkan efisiensi usaha.
Pemerintah juga mendorong pelaku SRC memanfaatkan berbagai skema pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga subsidi sekitar 6%. Tahun ini, alokasi KUR secara nasional mencapai lebih dari Rp300 triliun dan terbuka bagi pelaku UMKM ritel.
Ke depannya, SRC juga diarahkan untuk berperan sebagai fasilitator Koperasi Merah Putih, khususnya di wilayah desa. Dengan basis kewirausahaan yang sudah terbentuk, toko-toko SRC dinilai mampu menjadi penggerak ekonomi kolektif berbasis gotong royong di tingkat lokal
“UMKM seperti SRC inilah yang membuat ekonomi Indonesia tetap resilien di tengah ketidakpastian global,” tegas Airlangga.
Selain berkontribusi pada penguatan ekonomi lokal, jaringan usaha mikro dan ritel juga memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas konsumsi nasional. Airlangga menekankan bahwa UMKM, khususnya sektor ritel berbasis komunitas mampu menjadi penopang utama daya beli masyarakat di tengah fluktuasi ekonomi.
Dengan jangkauan yang luas hingga ke wilayah non perkotaan, UMKM mampu menjaga perputaran ekonomi tetap berjalan, bahkan saat sektor formal mengalami perlambatan. Ia juga menyoroti pentingnya transformasi UMKM agar mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan perkembangan teknologi.
Digitalisasi, penguatan manajemen usaha, serta peningkatan literasi keuangan menjadi kunci agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas. Dalam konteks ini, pendampingan berkelanjutan dan ekosistem usaha yang inklusif menjadi faktor penting untuk mendorong UMKM agar lebih produktif serta berdaya saing.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penguatan UMKM bukan semata-mata agenda bisnis, melainkan bagian dari strategi pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan sektor keuangan perlu diperkuat agar kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional semakin optimal.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
