Tren Global

World Economic Forum Memanas, Ini Pernyataan Pemimpin Dunia

  • Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos menjadi panggung bagi para pemimpin dunia untuk membaca arah ekonomi global
TRUMP,, (1).jpg
Donald Trump berpidato di forum ekonomi dunia (weforum)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos menjadi panggung bagi para pemimpin dunia untuk membaca arah ekonomi global yang kian terfragmentasi. 

Dikutip laman We Forum, Kamis, 22 Januari 2026, Alih-alih menghasilkan kesepakatan besar, forum tahun ini justru menegaskan satu kenyataan, dunia tengah memasuki fase kompetisi geopolitik dan geoekonomi yang semakin tajam, di mana kerja sama global melemah dan kepercayaan lintas negara terus terkikis.

WEF 2026 berlangsung dalam konteks ketidakpastian tinggi, mulai dari perang dagang, konflik regional, fragmentasi rantai pasok, hingga lonjakan risiko teknologi dan lingkungan. Davos kembali berfungsi bukan sebagai ruang kompromi, melainkan sebagai barometer ketegangan global.

Mengusung tema “A Spirit of Dialogue”, WEF 2026 mempertemukan jumlah pemimpin dunia terbanyak dalam beberapa tahun terakhir. Namun, dialog yang terjadi berlangsung dalam apa yang para pakar sebut sebagai “age of competition”, era di mana kepentingan nasional, proteksionisme, dan rivalitas kekuatan besar menggantikan semangat multilateralisme pasca-Perang Dingin.

Diskusi di Davos memperlihatkan kontras tajam antara negara-negara yang mendorong kedaulatan ekonomi dan penggunaan instrumen koersif seperti tarif, dengan pihak lain yang berupaya mempertahankan keterbukaan perdagangan dan tatanan global berbasis aturan, meski dengan penyesuaian.

Baca juga : IndiHome dan Telkomsel Down, Begini Respons Perusahaan

Statement Tiap Negara

Amerika Serikat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampil dengan pendekatan tegas “America First”, menegaskan bahwa tarif tinggi, deregulasi, dan pemotongan pajak besar-besaran menjadi kunci kinerja ekonomi AS yang kuat. 

Dalam pidatonya, Trump mengklaim telah “memangkas defisit perdagangan bulanan hingga 77 persen” dan menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi AS justru membawa manfaat bagi dunia.

"Amerika Serikat adalah mesin ekonomi di planet ini. Dan ketika Amerika berkembang pesat, seluruh dunia juga berkembang pesat. Itu sudah menjadi sejarah. Ketika keadaan memburuk, semuanya akan ikut memburuk… Kalian semua mengikuti kami saat keadaan naik dan turun," tegas Trump

Amerika Serikat juga menegaskan keinginannya untuk menguasai Greenland, kawasan yang disebut Trump tak akan mampu dipertahankan Denmark dan Eropa.

“Yang diminta Amerika Serikat hanyalah sebuah tempat bernama Greenland. Kami sudah memilikinya, sebagai negara wali, tetapi dengan hormat, kami mengembalikannya ke Denmark belum lama ini. Setelah kami mengalahkan Jerman, Jepang, Italia, dan negara-negara lain dalam Perang Dunia Kedua,” ujar Trump dalam pidatonya.

Pendekatan unilateral ini memicu kekhawatiran luas di Davos, terutama karena kebijakan tarif AS dipandang sebagai pemicu utama fragmentasi perdagangan global dan meningkatnya ketegangan ekonomi lintas negara.

Uni Eropa

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan Uni Eropa akan merespons proteksionisme AS dengan adaptasi strategis, bukan penutupan diri. 

Ia menekankan perlunya memperluas hubungan dagang baru, memperkuat otonomi strategis, dan menyesuaikan arsitektur keamanan ekonomi Eropa.

“Europe will always choose the world,” ujar von der Leyen, menegaskan komitmen Eropa terhadap keterbukaan dan kerja sama global meski tekanan eksternal semakin besar.

China

Wakil Perdana Menteri China He Lifeng mengambil posisi berlawanan dengan AS. Pihaknya menegaskan tarif dan perang dagang tidak pernah menghasilkan pemenang. 

China, menurutnya, tetap berkomitmen pada globalisasi ekonomi sambil memperkuat permintaan domestik sebagai penopang pertumbuhan.

Pernyataan ini menegaskan posisi Beijing sebagai pendukung perdagangan global, meskipun banyak negara Barat masih memandang China sebagai pesaing strategis dan sistemik.

Kanada

Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyampaikan pandangan yang lebih reflektif dan realistis. Ia menyatakan bahwa kesepakatan lama dalam tatanan internasional berbasis aturan “tidak lagi bekerja”, dan negara-negara kini harus bersikap prinsipil sekaligus pragmatis.

Menurut Carney, dunia tidak bisa menunggu kembalinya tatanan ideal, melainkan harus berinteraksi secara aktif dengan realitas global yang penuh ketegangan dan ketidakpastian.

Baca juga : Bingung Beli Emas Digital? Ini 4 Platform dan Tips Cuan

Agenda Nasional Lainnya

Sejumlah pemimpin lain memanfaatkan Davos untuk menyoroti agenda domestik dan regional. Presiden Argentina Javier Milei memaparkan transformasi ekonomi negaranya pasca-hiperinflasi, sementara Perdana Menteri Qatar menyerukan pembentukan ulang arsitektur keamanan regional di Timur Tengah yang dinilai semakin rapuh.

Diskusi di Davos 2026 dibayangi oleh Global Risks Report 2026, yang memetakan risiko-risiko utama yang mengancam stabilitas dunia.

Risiko paling mendesak yang disorot adalah konfrontasi geoekonomi, termasuk penggunaan tarif, sanksi, dan pembatasan investasi sebagai senjata politik. 

Laporan tersebut menempatkan risiko ini sebagai ancaman nomor satu yang paling berpotensi memicu krisis global pada 2026, mencerminkan kekhawatiran atas runtuhnya arus perdagangan dan investasi lintas negara.

Meski demikian, laporan terpisah dari para kepala ekonom global mencatat bahwa perekonomian dunia menunjukkan ketahanan yang mengejutkan.

Strategi perusahaan yang mempercepat impor sebelum tarif diberlakukan, pengalihan rantai pasok, serta lonjakan besar investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) telah membantu menopang pertumbuhan dan menahan dampak negatif fragmentasi ekonomi.

Kesimpulan utama dari Davos 2026 bukanlah kesepakatan konkret, melainkan penegasan bahwa tatanan ekonomi global kini terfragmentasi secara struktural. 

Jurang antara pendekatan unilateral Amerika Serikat dan seruan kerja sama dari kekuatan besar lainnya tampak semakin sulit dijembatani.

Forum ini berhasil mengangkat isu-isu strategis seperti dampak ekonomi AI, kesehatan perempuan sebagai faktor produktivitas global, serta risiko lingkungan jangka panjang. Namun, fokus jangka pendek dunia tetap didominasi oleh ketegangan geopolitik dan persaingan ekonomi.

Pada akhirnya, Davos 2026 menegaskan perannya sebagai ruang dialog dalam dunia yang terbelah, bukan sebagai mesin penyelesai konflik. 

Forum ini menjadi cermin dari kompetisi global yang dikelola, tempat visi-visi yang saling bertentangan dipertemukan, tanpa jaminan akan bertemu pada satu titik temu.