Tren Leisure

"Vape With Attitude", Jessica Vanka Tolak Vape Dipakai Anak di Bawah Umur

  • Influencer vape Jessica Vanka menegaskan vape bukan untuk remaja maupun non-perokok, melainkan alternatif bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari rokok.
WhatsApp Image 2026-06-02 at 13.57.58.jpeg
Influencer Edukasi Vape Jessica Vanka (jee_vanka)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Di tengah meningkatnya popularitas vape di kalangan masyarakat, influencer vape Jessica Rima Rahmayanti atau yang dikenal melalui akun media sosial @jee_vanka menegaskan bahwa produk tembakau alternatif seperti vape bukan ditujukan untuk gaya hidup semata, apalagi untuk remaja dan non-perokok.

Menurut Jessica, masih banyak persepsi yang perlu diluruskan terkait penggunaan vape. Ia menilai produk tersebut seharusnya dipahami sebagai alternatif bagi perokok dewasa yang ingin mengurangi atau beralih dari rokok konvensional, bukan sebagai produk yang layak dicoba oleh mereka yang sebelumnya tidak merokok.

"Saya pribadi jelas tidak ada toleransi untuk anak di bawah umur atau under age. Selain belum dianggap dewasa, produk ini juga bukan sesuatu yang untuk dicoba-coba," ujar Jessica.

Ia mengakui bahwa vape kerap diasosiasikan dengan gaya hidup anak muda. Namun, menurutnya pengguna vape sebenarnya berasal dari berbagai kelompok usia dan tidak hanya didominasi generasi muda.

Jessica menilai generasi saat ini memiliki akses informasi yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Sebelum memutuskan menggunakan suatu produk, mereka cenderung mencari informasi terlebih dahulu mengenai manfaat maupun risikonya melalui berbagai platform digital.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa edukasi harus tetap menjadi prioritas agar produk tembakau alternatif tidak dipersepsikan sebagai tren yang menarik bagi remaja.

Baca juga : Cuan MINE Tumbuh 18 Persen di Tengah Dinamika Industri Tambang

Edukasi "Vape with Attitude"

Sebagai influencer yang aktif di komunitas vape, Jessica mengaku rutin mengampanyekan penggunaan produk secara bertanggung jawab melalui berbagai kegiatan edukasi, baik secara daring maupun luring.

"Kami sering menyebutnya 'Vape with Attitude'. Edukasi ini dilakukan melalui konten, talk show, maupun vape meet agar pengguna memahami tujuan penggunaan serta etika saat menggunakan produk tersebut," katanya kepada TrenAsia.

Jessica bahkan mengaku selalu menanyakan latar belakang calon pengguna yang berkonsultasi kepadanya mengenai vape.

"Nah biasanya buat pemula yang tanya-tanya ke saya, pertanyaan awal saya pasti, 'sebelumnya pakai rokok apa?' supaya saya tahu memang dia mau beralih atau mencoba berhenti, bukan dari yang sebelumnya tidak merokok lalu ingin mencoba produk alternatif ini," ujarnya.

Jika ada orang yang mengaku bukan perokok namun tertarik mencoba vape, Jessica mengaku akan menyarankan untuk tidak memulainya.

"Kalau jawabannya sebelumnya tidak merokok, saya pasti bilang lebih baik jangan mencoba produk ini. Jujur saja, lebih baik tidak merokok, baik itu rokok konvensional maupun tembakau alternatif," Jelasnya.

Apa Manfaat Beralih dari Rokok Konvensional?

Menurut Jessica, keberadaan produk tembakau alternatif memiliki peran penting bagi sebagian perokok dewasa yang sedang berupaya mengurangi konsumsi rokok atau mencari alternatif selain rokok konvensional.

Ia mengibaratkan pilihan tersebut seperti seseorang yang ingin mengurangi konsumsi gula secara bertahap.

"Menurut saya sangat penting sekali. Ibarat coffee shop menyediakan pilihan kopi dengan gula normal, less sweet, atau tanpa gula sama sekali. Pada akhirnya pengguna punya pilihan untuk mengurangi secara bertahap sesuai kebutuhannya," ungkapnya

Meski demikian, Jessica mengingatkan bahwa baik rokok konvensional maupun produk tembakau alternatif tetap memiliki risiko bagi penggunanya. Karena itu, keputusan untuk menggunakan atau berhenti tetap berada di tangan masing-masing individu.

Ia juga menilai masih banyak kisah perokok dewasa yang merasa terbantu setelah beralih dari rokok konvensional ke produk tembakau alternatif, meski pengalaman tersebut jarang mendapat sorotan publik.

"Orang-orang yang sudah terbantu dengan adanya produk alternatif ini jarang terekspos. Padahal ada yang berhasil berhenti dari rokok konvensional, ada yang akhirnya berhenti dari semuanya, bahkan ada yang merasakan perubahan setelah beralih," katanya.

Baca juga : Analisis dan Insight Harga Emas Hari Ini 2 Juni 2026

Edukasi Harus Menyasar Perokok Dewasa

Lebih lanjut, Jessica menekankan bahwa komunikasi mengenai produk tembakau alternatif harus dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak menarik perhatian remaja.

Menurut dia, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membatasi target audiens pada kelompok usia dewasa dan menghindari konten yang bersifat ajakan untuk mencoba.

"Kami sudah mengatur audiens di usia 21 tahun ke atas, membuat konten edukasi yang relevan dan bertanggung jawab, serta tidak membuat ajakan yang ditujukan kepada mereka yang bukan pengguna," ujarnya.

Jessica berharap masyarakat dapat memahami bahwa vape bukanlah produk untuk gaya-gayaan ataupun sekadar mengikuti tren. Menurutnya, produk tersebut seharusnya diposisikan sebagai salah satu pilihan bagi perokok dewasa yang ingin mencari alternatif selain rokok konvensional, dengan tetap mengedepankan edukasi, tanggung jawab, dan perlindungan terhadap anak di bawah umur.