Tren Ekbis

Transformasi Industri Asuransi Fokus Pada SDM dan Inovasi

  • Panel Avrist Forum menyoroti transformasi industri asuransi lewat SDM, tata kelola, inovasi layanan, serta pentingnya menjaga kepercayaan publik.
IMG-20260211-WA0063.jpg
Avrist Financial Forum 2026 (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Transformasi industri asuransi nasional semakin diarahkan pada penguatan sumber daya manusia, inovasi layanan, serta peningkatan kepercayaan publik sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan. Hal ini mengemuka dalam sesi panel Avrist Financial Forum 2026 yang menyoroti perubahan lanskap industri, tantangan klaim kesehatan, hingga tuntutan digitalisasi dan regulasi.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, Emira E.Oepangat, menilai pertumbuhan industri masih terjadi, namun cenderung moderat. Ia menyebut peningkatan premi berjalan terbatas sementara klaim meningkat sehingga perusahaan harus melakukan penyesuaian harga produk.

“Premium meningkat sedikit, tetapi klaim juga meningkat. Repricing dilakukan agar rasio klaim lebih terkendali, bukan karena kondisi sistemik langsung membaik,” ujarnya dalam sesi panel Avrist Financial Forum 2026, Rabu, 11 Februari 2026.

Emira juga menekankan bahwa literasi dan inklusi asuransi menunjukkan tren naik, tetapi penetrasi pasar masih jauh dari potensi. Bonus demografi menjadi peluang sekaligus tantangan, terutama dalam kesiapan regulasi dan strategi industri. Ia menyoroti pentingnya roadmap regulator sebagai acuan perencanaan bisnis perusahaan.

“Roadmap sebenarnya sudah memberikan arah jelas, termasuk soal keamanan siber dan transformasi produk kesehatan. Banyak materi regulator tidak wajib, tetapi seharusnya diikuti agar perusahaan lebih siap,” katanya. 

Dalam sektor kesehatan, transformasi tata kelola medis menjadi fokus utama. Industri kini didorong membentuk Dewan Penasehat Medis untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan klaim serta mengurangi perbedaan interpretasi antara perusahaan dan tenaga medis. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus kualitas layanan nasabah.

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Asuransi dan Dana Pensiun KADIN Indonesia dan APINDO, Benny Waworuntu, menegaskan bahwa transformasi tidak bisa hanya dipahami sebagai digitalisasi semata. Ia menekankan peran manusia sebagai faktor utama dalam perubahan organisasi.

“Teknologi hanyalah alat pendukung. Kunci transformasi tetap ada pada manusia, mulai dari komitmen pimpinan, kemampuan tim, hingga komunikasi yang konsisten,” jelasnya. 

Selain itu, Benny menjelaskan transformasi merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan keseimbangan antara keberlanjutan bisnis saat ini dan kesiapan masa depan. Menurutnya, tansformasi diibaratkan sebagai marathon, yang fokusnya adalah meninggalkan legacy kuat bagi generasi berikutnya.

Dari sisi tata kelola organisasi, Direktur Bisnis PT Avrist Assurance, Aldi Renaldi menekankan pentingnya core values seperti integritas, profesionalisme, agilitas, dan people focus sebagai fondasi inovasi industri. Ia menilai kepatuhan tidak boleh dipandang sebagai penghambat inovasi, melainkan pagar pengaman.

“Kepatuhan adalah pengaman, bukan penghambat inovasi. Dengan tata kelola yang kuat, perusahaan justru bisa bergerak lebih cepat dan percaya diri,” ujarnya.

Panel ini menegaskan bahwa masa depan industri asuransi tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan produk, tetapi juga oleh kualitas SDM, kolaborasi ekosistem, serta kemampuan membangun kepercayaan publik melalui layanan yang transparan dan inovatif.

Dengan pendekatan tersebut, industri diharapkan mampu meningkatkan literasi masyarakat, memperluas penetrasi pasar, dan memperkuat daya saing di tengah perubahan ekonomi dan teknologi yang cepat.