Tren Leisure

Tidur Larut Bisa Gagalkan Diet, Ini Penjelasannya

  • Tidur larut malam bukan sekadar bikin lelah. Simak dampaknya terhadap metabolisme, hormon, dan risiko gagalnya diet.
Sering Sulit Tidur? Mungkin 5 Hal Ini Penyebabnya
Sering Sulit Tidur? Mungkin 5 Hal Ini Penyebabnya (Health Central)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Kebiasaan tidur larut malam ternyata tidak hanya berdampak pada rasa lelah keesokan harinya, tetapi juga dapat mengganggu metabolisme tubuh dan menghambat penurunan berat badan. 

Para ahli kesehatan menilai, pola tidur yang tidak teratur berperan besar dalam keseimbangan hormon, sistem pencernaan, hingga pengaturan nafsu makan. Dilansir dari Antara,Sabtu, 21 Februari 2026, berikut sederet alasan mengapa tidur larut mengganggu metabolisme tubuh dan berpotensi gagalkan diet,

Tidur Larut Ganggu Hormon

Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian atau jam biologis yang mengatur berbagai fungsi organ, termasuk pencernaan dan produksi hormon. Setelah sekitar pukul 22.30, tubuh secara alami mulai memasuki fase perlambatan.

Setelah sekitar pukul 22.30, tubuh perlahan memasuki fase alami ‘perlambatan pencernaan’. Artinya, organ pencernaan dan sistem metabolisme mulai menurunkan aktivitasnya sebagai persiapan untuk fase pemulihan saat tidur. Namun, ketika seseorang tetap terjaga melewati jam tersebut, tubuh tidak dapat memasuki fase istirahat optimal.

Jika kondisi ini terus terjadi, tubuh akan menganggapnya sebagai bentuk tekanan atau stres. Jika tetap terjaga, tubuh berada dalam kondisi stres, yang meningkatkan kadar kortisol.

Kortisol adalah hormon stres yang secara alami meningkat di pagi hari untuk membantu tubuh bangun dan berenergi. Namun, ketika kortisol tinggi di malam hari akibat begadang, keseimbangan hormon menjadi terganggu.

Baca juga : Untuk Membunuh Alexei Navalny, Apa itu Racun Katak Panah?

Kortisol Tinggi Picu Penyimpanan Lemak

Kadar kortisol yang tinggi pada malam hari berdampak langsung pada sistem metabolisme lemak. Hormon ini berperan dalam mengatur gula darah dan respons stres, tetapi jika produksinya berlebihan, efeknya bisa kontraproduktif.

Ketika kortisol tetap tinggi di malam hari, penyimpanan lemak menjadi lebih mudah dan pembakaran lemak menjadi lebih lambat, tidak peduli seberapa sehat makanan yang dikonsumsi.

Artinya, meskipun seseorang sudah menjaga pola makan dan rutin berolahraga, kebiasaan tidur larut dapat menghambat hasilnya. Kondisi ini menjelaskan mengapa sebagian orang tetap kesulitan menurunkan berat badan meski merasa telah menjalani gaya hidup sehat.

Inilah sebabnya orang yang makan dengan baik pun masih kesulitan menurunkan berat badan. Kortisol yang tinggi juga dapat meningkatkan kecenderungan tubuh menyimpan lemak di area perut, yang berisiko terhadap gangguan metabolik seperti resistensi insulin.

Baca juga : Untuk Membunuh Alexei Navalny, Apa itu Racun Katak Panah?

Gangguan Ritme Rasa Lapar

Secara fisiologis, proses pemulihan dan perbaikan sel tubuh berlangsung paling efisien pada pukul 23.00 hingga 03.00. Pada jam-jam tersebut, tubuh melakukan regenerasi jaringan, pengaturan hormon, serta optimalisasi fungsi metabolisme.

Menunda waktu tidur hingga melewati rentang tersebut dapat memicu apa yang disebut sebagai “fase kekacauan metabolisme”. Kontrol gula menjadi lebih lemah, hormon lapar menjadi bingung, dan keinginan makan meningkat keesokan harinya.

Gangguan ini melibatkan hormon ghrelin (hormon lapar) dan leptin (hormon kenyang). Kurang tidur cenderung meningkatkan ghrelin dan menurunkan leptin, sehingga seseorang merasa lebih lapar dan sulit merasa kenyang.

Akibatnya, keesokan hari muncul keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat sederhana sebagai sumber energi instan.

Lonjakan Insulin dan Risiko Makan Berlebihan

Selain memengaruhi hormon lapar, tidur larut juga berkaitan dengan respons insulin. Kurang tidur dapat membuat tubuh kurang sensitif terhadap insulin, sehingga lonjakan gula darah menjadi lebih tinggi meski sarapan tergolong sehat.

Kondisi ini mendorong fluktuasi energi sepanjang hari, membuat seseorang cepat lapar dan cenderung mengonsumsi camilan tambahan.

Gangguan hormon lapar dan kenyang juga meningkatkan keinginan terhadap makanan tinggi karbohidrat dan lemak. Jika pola ini berulang, risiko makan berlebihan dan penambahan berat badan pun meningkat.

Baca juga : Untuk Membunuh Alexei Navalny, Apa itu Racun Katak Panah?

Gangguan Detoksifikasi

Begadang melewati pukul 23.00 juga dikaitkan dengan terganggunya proses detoksifikasi alami tubuh. Dampaknya antara lain pencernaan melambat, perut terasa kembung lebih sering, serta proses pembersihan alami tubuh tidak berjalan optimal. 

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan saluran cerna dan sistem imun. Untuk memperbaiki pola tidur, para ahli menyarankan perubahan bertahap agar tubuh dapat beradaptasi dengan lebih nyaman. 

Dengan menjaga kualitas dan durasi tidur, upaya penurunan berat badan dapat berjalan lebih efektif. Tidur bukan sekadar istirahat, tetapi bagian penting dari sistem metabolisme yang menentukan keseimbangan hormon dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.