Saham BUVA Meroket, Cuan Happy Hapsoro Tambah Rp96 M
- Lonjakan saham BUVA sebesar 2.995% sukses melipatgandakan kekayaan Happy Hapsoro. Suami Puan Maharani ini mengendalikan gurita bisnis di berbagai sektor.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru saja menorehkan sejarah dengan menembus level tertinggi sepanjang masa pada pembukaan perdagangan tahun 2026. Namun, di balik euforia indeks tersebut, sorotan pasar tertuju pada satu emiten properti yang mencatatkan kenaikan harga fantastis.
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), emiten pengelola hotel mewah yang terafiliasi dengan konglomerat Happy Hapsoro, sukses menjadi primadona. Saham ini terbang tinggi meninggalkan status lamanya sebagai saham "gocap" atau saham tidur, dan kini bertransformasi menjadi mesin pencetak kekayaan triliunan rupiah.
Kenaikan harga saham yang mencapai ribuan persen dalam setahun terakhir ini secara otomatis melambungkan nilai aset para pemegang sahamnya. Suami Ketua DPR RI Puan Maharani tersebut menjadi pihak yang paling diuntungkan dengan lonjakan valuasi aset yang sangat signifikan di atas kertas.
1. Lonjakan 3.000 Persen
Berdasarkan data perdagangan Selasa, 6 Januari 2026, saham BUVA bertengger kokoh di level Rp1.580 per saham. Angka ini sangat kontras jika ditarik mundur satu tahun lalu, di mana saham ini hanyalah "penghuni" setia papan bawah di level terendah Rp51.
Dalam kurun waktu kurang dari 12 bulan, BUVA telah meroket hingga 2.995 persen. Kenaikan radikal ini membawa kapitalisasi pasar perusahaan membengkak menjadi Rp38,77 triliun, mengubah persepsi investor dari saham yang tidak likuid menjadi salah satu aset properti paling bernilai di bursa saat ini.
Fenomena ini menjadi contoh nyata bagaimana saham turnaround bisa memberikan imbal hasil ribuan kali lipat. Kenaikan harga ini tidak hanya didorong oleh spekulasi pasar, tetapi juga sentimen kuat pemulihan sektor pariwisata premium di Bali yang menjadi bisnis inti perseroan.
2. Harta Pribadi Tembus Rp96 Miliar
Lonjakan harga ke level Rp1.580 membuat nilai aset portofolio pribadi Happy Hapsoro melambung tinggi. Meskipun sempat melakukan aksi ambil untung dengan menjual sebagian kepemilikannya pada November 2025 lalu, ia tercatat masih menggenggam kepemilikan langsung dalam jumlah yang cukup besar.
Happy Hapsoro diketahui masih menyisakan kepemilikan pribadi sebanyak 60.845.049 lembar saham. Jika dikonversi dengan harga pasar saat ini, maka nilai "tabungan" pribadi Happy Hapsoro di saham BUVA saja sudah mencapai angka Rp96,13 miliar, sebuah lompatan aset yang luar biasa.
Angka ini merupakan kenaikan raksasa jika dibandingkan dengan nilai kepemilikannya di awal tahun 2025. Saat itu, dengan harga saham yang masih tiarap di level gocap, nilai aset saham pribadinya hanya berkisar di angka Rp3,1 miliar sebelum reli harga terjadi.
3. Total Kekayaan Rp24 Triliun
Namun, kekayaan sesungguhnya bukan berasal dari kepemilikan pribadi, melainkan melalui entitas bisnisnya. Happy Hapsoro mengontrol BUVA melalui PT Nusantara Utama Investama (NUI) dengan porsi kepemilikan mayoritas sebesar 61,64 persen atau setara dengan 15,17 miliar lembar saham yang beredar.
Jika digabungkan dengan kepemilikan melalui entitas NUI yang valuasinya kini mencapai Rp23,97 triliun, maka total kekayaan di atas kertas Happy Hapsoro dari emiten BUVA saja kini menembus angka Rp24 triliun. Angka ini menempatkannya sebagai salah satu taipan properti paling berpengaruh.
Valuasi jumbo ini mencerminkan besarnya kepercayaan pasar terhadap kepemimpinan baru di balik BUVA. Kehadiran Happy Hapsoro sebagai pengendali utama memberikan jaminan stabilitas modal yang membuat investor institusi maupun ritel berani memegang saham ini dalam jangka waktu yang cukup panjang.
4. Fundamental Bukan Kaleng-Kaleng
Kenaikan harga saham ini didukung oleh perbaikan kinerja fundamental yang nyata, bukan sekadar gorengan pasar. Hingga Kuartal III-2025, perseroan melaporkan lonjakan laba bersih yang tumbuh lebih dari 600 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp109 miliar berkat pulihnya pariwisata.
Laba bersih ini menjadi fondasi utama bagi para investor untuk kembali melirik BUVA secara serius. Perusahaan tidak lagi dipandang sebagai emiten yang kesulitan keuangan atau berisiko gagal bayar, melainkan sebagai emiten yang tengah berada dalam fase pembalikan kinerja atau turnaround yang sukses.
Pengelolaan aset ikonik seperti Alila Villas Uluwatu yang kembali ramai pengunjung menjadi bukti operasional yang solid. Arus kas yang membaik memungkinkan perusahaan untuk memperbaiki neraca keuangan dan mengurangi beban utang masa lalu, sehingga valuasi saham kembali ke harga wajarnya.
5. Efek Rights Issue Strategis
Kenaikan harga saham BUVA mencapai puncaknya setelah manajemen mengeksekusi aksi korporasi strategis berupa Rights Issue jumbo. Dana segar senilai Rp603 miliar yang didapat tidak hanya digunakan untuk bayar utang, tetapi dialokasikan untuk ekspansi agresif mengakuisisi aset properti baru di Bali.
Pasar merespons positif langkah ini karena adanya jaminan dari PT Nusantara Utama Investama sebagai pembeli siaga. Komitmen Happy Hapsoro untuk menyuntikkan modal tambahan menunjukkan keseriusan sang konglomerat dalam membesarkan skala bisnis BUVA ke level yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Akuisisi lahan strategis baru di kawasan Pecatu diharapkan menjadi sumber pendapatan masa depan. Langkah ini dinilai pasar sebagai strategi cerdas untuk mengamankan land bank premium di Bali yang ketersediaannya semakin terbatas, menjamin keberlangsungan proyek properti mewah perseroan dalam jangka panjang.
6. Gurita Bisnis di Bursa Saham
Asal tahu saja, kekayaan Happy Hapsoro tidak hanya bersumber dari BUVA semata. Sang konglomerat memiliki "gurita bisnis" yang menjalar ke berbagai sektor strategis di bursa saham. Di sektor energi, ia memegang kendali utama atas PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan anak usaha barunya yang baru listing awal tahun lalu, RATU.
Diversifikasi portofolionya juga merambah sektor properti dan pariwisata lewat MINA di Bali dan hotel ekonomis PSKT. Tak berhenti di situ, cengkeramannya meluas ke sektor keuangan melalui pembelian saham PADI, pertambangan di SINI, hingga jasa periklanan lewat FORU.
Sebaran investasi ini menegaskan strategi portofolio yang sangat matang. Happy Hapsoro tidak menaruh telur dalam satu keranjang, melainkan menyebar risiko ke berbagai industri mulai dari infrastruktur gas, gaya hidup, hingga pasar modal, yang semuanya saling menopang valuasi kekayaannya.

Alvin Bagaskara
Editor
