Tren Pasar

IHSG All Time High, Waspada Risiko Koreksi Saham Konglomerat

  • Sejarah baru! IHSG tembus 8.905 didorong sentimen The Fed. Jangan asal FOMO saham konglomerat, cek dulu 4 tips seleksi saham.
Aktifitas Bursa Saham - Panji 3.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan kembali mencatatkan sejarah baru pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2026. Menutup sesi pertama, indeks komposit berhasil menguat ke level 8.882. Momentum pembelian yang deras bahkan sempat mendorong IHSG memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa secara intraday di level 8.905.

Kenaikan ini tidak lepas dari sentimen positif global, di mana bursa Asia bergerak serempak mengikuti tren hijau Wall Street. Pasar kini tengah menanti rilis data tenaga kerja AS bulan Desember yang akan keluar Jumat nanti sebagai sinyal arah kebijakan suku bunga.

Pilarmas Investindo Sekuritas menyoroti data tersebut penting untuk petunjuk kebijakan The Fed. Namun, di balik pesta rekor ini, lampu kuning menyala bagi saham lapis dua konglomerasi. Euforia nama besar saja tidak lagi cukup, pasar menuntut bukti kinerja nyata di tahun 2026.

1. Sinyal Dovish The Fed

Pelaku pasar global mencermati pernyataan Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, mengenai inflasi dan potensi pengangguran. Sinyal bahwa suku bunga mungkin mendekati tingkat netral memberikan harapan baru bagi para investor akan adanya pelonggaran kebijakan moneter lanjutan yang lebih agresif tahun ini.

Ekspektasi penurunan suku bunga menjadi katalis utama yang menjaga selera risiko investor tetap tinggi di pasar saham. Sentimen dovish ini dianggap sebagai bahan bakar yang sangat efektif untuk mendorong aliran dana masuk ke pasar berkembang seperti Indonesia di awal tahun.

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai komentar pejabat The Fed tersebut sangat krusial bagi peta investasi global saat ini. Hal ini memberikan kepastian lebih bagi pelaku pasar dalam menyusun strategi portofolio mereka. “Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi untuk pemotongan suku bunga The Fed tambahan tahun ini,” dalam ulasanya pada Selasa, 6 Januari 2026. 

2. Vitamin Insentif Pajak

Dari dalam negeri, fundamental IHSG diperkokoh oleh serangkaian insentif fiskal pemerintah yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan memperpanjang keringanan pajak penghasilan untuk pekerja sektor padat karya hingga 2026 dinilai menjadi bantalan penting bagi stabilitas ekonomi domestik di tengah tantangan global.

Selain itu, sektor properti mendapatkan angin segar dengan dilanjutkannya insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP. Langkah strategis ini diharapkan dapat mendongkrak penjualan rumah tapak dan susun secara signifikan, sekaligus memberikan efek berganda yang positif ke sektor industri terkait.

Insentif ini menjadi sentimen positif yang konkret bagi emiten properti dan konstruksi yang melantai di bursa saham. Pilarmas menyoroti kebijakan ini sebagai penopang utama pergerakan indeks hari ini. "IHSG hari ini juga ditopang oleh langkah Pemerintah yang melanjutkan insentif PPN Ditanggung Pemerintah."

3. Warning Saham Konglomerasi

Di tengah rekor IHSG, pengamat pasar modal Reydi Octa memberikan peringatan keras terkait saham lapis dua konglomerasi. Setelah menikmati kenaikan ribuan persen sepanjang tahun 2025, saham jenis ini dinilai memasuki fase rawan koreksi jika tidak dibarengi dengan kinerja fundamental yang solid.

Investor diingatkan risiko tahun ini jauh lebih besar karena valuasi harga sudah terlampau tinggi. Jika laporan keuangan tidak tunjukkan pertumbuhan laba sepadan, aksi jual massal sangat mungkin terjadi. "Saham-saham ini sangat rawan aksi profit taking, terutama jika tidak diikuti percepatan kinerja fundamental."

Fokus pasar tahun ini beralih pada realisasi aksi korporasi dan perbaikan neraca keuangan perusahaan. Euforia narasi tanpa bukti angka akan ditinggalkan investor cerdas. "Sentimen terkuat di awal 2026 menurut saya adalah ekspektasi restrukturisasi lanjutan, konsolidasi bisnis, bukan lagi euforia narasi."

4. Empat Filter Seleksi

Senada dengan itu, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham. Faktor pengembangan ekosistem grup dan dukungan regulasi pemerintah terhadap sektor bisnis emiten tersebut harus menjadi filter utama sebelum memutuskan untuk membeli saham emiten konglomerasi.

Dukungan kebijakan pemerintah dinilai sangat vital karena bisa menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang bagi emiten terkait. Sinergi dengan program nasional akan memberikan jaminan keberlanjutan bisnis yang lebih pasti. "Dorongan dari sisi regulasi, sentimen peraturan pemerintah akan memberikan dampak positif bagi emiten bersangkutan."

Selanjutnya, investor wajib membedah aksi korporasi yang sedang berjalan serta menganalisis kewajaran valuasi harga saham masa depan. Keempat faktor ini menjadi penentu tren kenaikan. "Apabila dari empat hal itu, dua di antaranya tidak berhasil, mungkin akan turun di tahun ini."

5. Rekomendasi Saham RATU

Pada perdagangan sesi pertama, rotasi sektor terlihat cukup dinamis dengan beberapa saham lapis kedua mencatatkan kenaikan. Saham seperti IMPC, ECII, serta GSMF berhasil masuk jajaran top gainers, sementara tekanan jual melanda saham MPXL dan KLAS yang harus rela terperosok ke zona merah.

Untuk strategi perdagangan sesi kedua siang ini, Pilarmas Investindo Sekuritas melihat adanya peluang teknikal menarik pada saham RATU. Saham ini dinilai memiliki potensi kenaikan lanjutan yang cukup menjanjikan di tengah momentum pasar yang sedang positif dan didukung oleh volume perdagangan yang kuat.

Pilarmas menetapkan target harga dan level pengaman yang perlu diperhatikan oleh para trader agar tetap disiplin. Rentang harga ini bisa dijadikan acuan entry dan exit yang aman. "Kami merekomendasikan saham RATU buy dengan support dan resistance 10.200 – 11.650."