Tren Pasar

Saham Big Banks Tumbang, CUAN dan BREN Anjlok: Apa Artinya bagi Investor?

  • IHSG ambles 2,27% ke 7.771,28 akibat gejolak politik. Saham unggulan hingga blue chip tumbang, investor lari ke emas sebagai aset aman.
Aktifitas Bursa Saham - Panji 3.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pasar saham Indonesia 'berguncang' hebat pada perdagangan hari ini, Jumat, 29 Agustus 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,27% ke level 7.771,28, di mana tekanan jual kali ini tidak hanya melanda saham lapis kedua, tetapi juga menghantam deretan saham unggulan.

Pelemahan ini didorong murni oleh sentimen negatif dari gejolak sosial dan politik di dalam negeri, bukan karena faktor ekonomi. Akibatnya, investor, baik asing maupun domestik, ramai-ramai melepas portofolio mereka untuk mengamankan posisi dan beralih ke aset yang lebih aman.

Lantas, saham unggulan mana saja yang menjadi 'korban' dari aksi jual masif ini, dan bagaimana investor harus menyikapinya? Mari kita bedah tuntas.

1. Rapor Merah Saham Unggulan

Aksi jual hari ini tidak pandang bulu dan terjadi secara merata. Deretan saham blue chip yang selama ini menjadi pilar utama penopang IHSG justru ikut 'longsor' dan menjadi pemberat utama bagi pergerakan indeks secara keseluruhan pada perdagangan hari ini.

Trio perbankan raksasa kompak memerah. Saham BBRI merosot -2,66%, BMRI turun -1,89%, dan BBCA juga ikut melemah -1,80%. Pelemahan ini menunjukkan bahwa bahkan saham paling defensif pun tidak kebal terhadap sentimen dan risiko politik.

Tekanan jual lebih parah terjadi pada saham-saham konglomerat yang sedang naik daun. Saham BREN milik Prajogo Pangestu melorot -4,84%, CUAN anjlok -6,50%, dan PTRO merosot -7,42%. Saham tambang ANTM juga ikut turun -2,35%.

2. Pandangan Analis: Pasar Apatis, Sentimen Politik Jadi Pemicu

Pengamat Pasar Modal, Ibrahim Assuaibi, menilai anjloknya pasar hari ini murni disebabkan oleh sentimen negatif dari dalam negeri. Menurutnya, eskalasi aksi demonstrasi, termasuk insiden tragis yang menimpa seorang pengemudi ojek online, telah memicu kekhawatiran para investor.

Ia menambahkan bahwa kondisi sosial-politik yang memanas, ditambah dengan kontroversi lain seperti isu tunjangan DPR, membuat pasar menjadi apatis. “Carut-marut ini yang membuat pasar sedikit apatis terhadap perpolitikan Indonesia, yang akhirnya membuat rupiah kembali mengalami pelemahan tajam,” ucapnya pada Jumat, 29 Agustus 2025.

3. Faktor Eksternal Ikut Memberi Tekanan

Meskipun sentimen domestik menjadi pendorong utama, Ibrahim menambahkan bahwa faktor eksternal juga turut memberikan tekanan. Pasar global merespons data ekonomi AS yang ternyata lebih kuat dari perkiraan, yang secara teori dapat memperkuat dolar AS dan menekan mata uang regional.

Sementara itu, ketegangan politik internal di AS terkait intervensi presiden terhadap pejabat The Fed juga mendorong investor global untuk mencari aset aman. Kombinasi sentimen global dan domestik inilah yang menciptakan tekanan jual yang sangat kuat di pasar keuangan Indonesia.

4. Di Tengah Badai, Emas Justru Jadi Penyelamat

Di tengah tekanan jual yang melanda pasar saham dan mata uang, emas justru tampil sebagai 'penyelamat'. Harga emas dunia tadi malam berhasil mencapai level tertinggi baru di atas US$3.423 per troy ons seiring investor yang beralih ke aset aman atau safe haven.

Pelemahan Rupiah juga ikut mendorong harga logam mulia domestik. Ibrahim memprediksi harga emas lokal berpotensi mendekati Rp2.000.000 per gram, bahkan bisa menembus Rp2.150.000 pada akhir tahun jika ketidakpastian terus berlanjut dan memicu permintaan yang lebih tinggi.

5. Apa Artinya Ini Bagi Investor?

Bagi investor, fenomena ini adalah pelajaran penting bahwa risiko politik bisa mengalahkan fundamental sekuat apapun dalam jangka pendek. Ke depan, Ibrahim melihat potensi pelemahan lebih lanjut jika gejolak politik di dalam negeri tidak segera diredam oleh pemerintah.

Kondisi ini menjadi pengingat betapa krusialnya stabilitas sosial dan politik dalam menjaga kepercayaan pasar. Di tengah badai ini, aset aman seperti emas kemungkinan akan terus menjadi primadona sebagai 'pelabuhan aman' bagi para investor yang mencari stabilitas.