Tren Pasar

Review FTSE Ditunda, Sinyal Bahaya Bagi Likuiditas IHSG?

  • FTSE Russell menunda review indeks Indonesia Maret 2026. Analis menilai keputusan ini membuat inflow pasif tertahan dan struktur IHSG menjadi statis.
IHSG Ditutup Menguat-0.jpg
Karyawan berkatifitas di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Penundaan tinjauan (review) indeks Financial Time Stock Exchange (FTSE Russell) untuk pasar saham Indonesia pada Maret 2026 memantik perhatian serius pelaku pasar. Keputusan ini dinilai akan menahan katalis teknikal yang biasanya terjadi akibat penyesuaian komposisi indeks global tersebut.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai langkah FTSE ini memiliki implikasi strategis terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Perlu dicatat, keputusan penundaan dari penyedia indeks global yang berbasis di London tersebut momentumnya berdekatan dengan jadwal pengumuman indeks MSCI.

"Keputusan FTSE Russell untuk menunda review indeks Indonesia pada Maret 2026 menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar, khususnya investor institusi global," ungkap Hendra kepada TrenAsia.id, pada Selasa, 10 Februari 2026.

Hendra menegaskan bahwa penundaan ini sebaiknya tidak dibaca sebagai rapor merah terhadap ekonomi makro, melainkan lebih pada aspek teknis regulasi pasar modal domestik yang tengah berbenah.

"Penundaan ini bukan mencerminkan penurunan kualitas fundamental pasar modal Indonesia, melainkan lebih menegaskan adanya ketidakpastian teknis dalam proses reformasi pasar, terutama terkait penentuan free float minimum serta potensi gangguan mekanisme pasar selama masa transisi kebijakan," jelasnya.

Indeks Menjadi Statis

Dampak paling nyata dari kebijakan ini adalah terhentinya rotasi saham dalam indeks FTSE untuk sementara waktu. Hendra memaparkan bahwa pasar akan kehilangan dinamika perubahan konstituen yang biasanya memicu transaksi besar.

"Dampak langsung dari keputusan ini adalah dibekukannya seluruh perubahan indeks FTSE untuk Indonesia dalam jangka pendek. Tidak akan ada penambahan saham baru, baik dari hasil IPO maupun review berkala, tidak ada penghapusan saham akibat evaluasi indeks, serta tidak terjadi perubahan klasifikasi emiten dari large cap, mid cap, maupun small cap," papar Hendra.

Ia menambahkan, "Selain itu, penyesuaian bobot investasi akibat perubahan jumlah saham beredar juga ditangguhkan, bahkan aksi korporasi berupa rights issue diasumsikan tidak terjadi dalam perhitungan indeks. Kondisi ini membuat struktur indeks FTSE Indonesia bersifat statis hingga adanya evaluasi lanjutan."

Dua Sisi Mata Uang Arus Dana

Dalam pandangan Hendra, kondisi statis ini memiliki dua sisi dampak terhadap arus dana asing (foreign flow). Di satu sisi memberikan stabilitas, namun di sisi lain menutup peluang masuknya dana baru ke saham-saham potensial.

"Aliran dana pasif asing cenderung lebih stabil karena tidak adanya perubahan komposisi, namun di sisi lain potensi inflow tambahan ke saham-saham yang sebelumnya berpeluang masuk indeks juga ikut tertunda," ujarnya.

Merespons kondisi ini, Hendra melihat adanya potensi perubahan perilaku pasar dalam jangka pendek. "Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat meningkatkan sikap defensif pelaku pasar dan mendorong volatilitas berbasis sentimen, bukan fundamental," kata Hendra.

Sentimen Sementara

Meski demikian, Hendra mengingatkan agar investor tidak salah kaprah mengaitkan hal ini dengan status pasar modal Indonesia di mata dunia. Ia menekankan bahwa risiko penurunan status negara tidak relevan dalam konteks ini.

"Risiko penurunan status negara tidak melekat pada keputusan penundaan review indeks ini, sehingga sentimen negatif seharusnya lebih bersifat teknis dan sementara," tegasnya.

Hendra menambahkan bahwa bola kini ada di tangan regulator untuk memastikan transisi kebijakan berjalan mulus hingga evaluasi berikutnya.

"Bagi penyedia indeks global, kepastian regulasi dan stabilitas struktur pasar merupakan prasyarat utama sebelum melakukan penyesuaian komposisi indeks. Kejelasan arah kebijakan free float dan konsistensi implementasinya akan menjadi faktor kunci untuk mengembalikan kepercayaan penyedia indeks global," pungkas Hendra.